Di kawasan pemukiman, kebun, hingga pinggiran hutan Sumatra, Jawa, dan Bali, sering kali terlihat seekor ular kecil berkulit licin dengan garis merah oranye yang amat mencolok di sepanjang punggungnya. Warnanya yang kontras tak jarang membuat siapa saja yang melihatnya merasa was-was.
Banyak orang terburu-buru menganggap reptile kecil ini sebagai ancaman berbahaya. Padahal, hewan ini adalah Ular Birang, sosok penghuni alam yang sebenarnya tidak memiliki bisa sama sekali.
Nama ilmiahnya, Oligodon octolineatus, menggambarkan keunikan visual utama yang dimilikinya. Kata octolineatus secara harfiah merujuk pada delapan pita atau garis warna yang membentang dari arah kepala hingga ke ujung ekornya.
Baca Juga: Ular Cincin Emas, Si Hitam Kuning yang Cantik tapi Perlu Diwaspadai
Di antara perpaduan garis hitam, cokelat, dan putih pada sisiknya, pita berwarna merah menyala di bagian tengah punggung selalu menjadi penanda utama yang paling mudah dikenali.
Secara ukuran, Ular Birang termasuk dalam kategori ular berukuran mini hingga sedang. Panjang tubuhnya saat dewasa umumnya hanya berkisar antara 40 hingga 70 sentimeter saja.
Tubuhnya cenderung membulat padat dengan sisik yang terasa cukup halus saat diabaikan. Serta bentuk kepala yang menyatu mulus tanpa batas leher yang terlalu kentara.
Baca Juga: Ular Kukri, Si Kecil Berpredikat Pemilik "Gigi Pisau"
Bicara soal sebutan Striped Kukri Snake dalam bahasa Inggris, ada cerita menarik di balik susunan giginya. Anggota dari marga Oligodon ini dibekali dengan susunan gigi belakang yang pipih, tajam, dan melengkung ke belakang.
Bentuk gigi ini menyerupai pisau tradisional khas Nepal, yaitu pisau kukri. Alat tempur alami ini diciptakan khusus bukan untuk menyuntikkan racun, melainkan untuk merobek cangkang telur.
Sebagai predator berdarah dingin, makanan favorit Ular Birang adalah telur-telur hewan lain. Mulai dari telur kadal, cicak, hingga telur burung yang bersarang di tanah atau dahan rendah.
Ketika menemukan telur yang cangkangnya keras, gigi kukri inilah yang bekerja mengoyak cangkangnya agar isi telur dapat disantap dengan mudah. Selain telur, mereka sesekali memangsa kadal kecil atau katak pohon.
Mengenai tempat tinggalnya, spesies ini sangat adaptif dan memiliki daya tahan yang baik. Anda bisa menemukannya berkeliaran di hutan hujan tropis, area perkebunan, ladang pertanian, bahkan hingga ke area pekarangan rumah pemukiman warga.
Mereka cenderung hidup di permukaan tanah. Memanfaatkan tumpukan daun kering, kayu lapuk, atau celah batu sebagai tempat bersembunyi.
Sifat hidup ular ini tergolong cukup pemalu dan lebih banyak aktif saat menjelang malam hari. Mereka menghindari kontak langsung dengan manusia maupun predator yang lebih besar.
Baca Juga: Ular Weling Gunung: Si Merah Hitam Berbisa dari Hutan Dataran Tinggi
Jika merasa terdesak atau terancam, Ular Birang biasanya akan melingkarkan tubuhnya, memipihkan kepala. Atau menyembunyikan kepalanya di bawah gulungan badan sebagai bentuk pertahanan diri pasif.
Masalah utama yang sering dialami oleh Ular Birang adalah kasus salah identifikasi oleh masyarakat umum. Warnanya yang mencolok dengan garis merah di punggung kerap membuat orang bingung dan membenturkannya dengan Ular Cabai (Calliophis intestinalis).
Padahal, Ular Cabai adalah spesies kerabat kobra yang memiliki bisa neurotoksin sangat mematikan. Sedangkan Ular Birang sama sekali aman.
Perbedaan kasat mata yang paling mencolok sebenarnya terletak pada pola bagian bawah tubuh serta perilaku bertahan diri. Ular Cabai biasanya memiliki pola belang-belang hitam putih menyerupai papan catur di perutnya.
Serta bagian bawah ekor berwarna merah cerah yang akan dipamerkan saat merasa terancam. Sementara itu, bagian perut Ular Birang cenderung berwarna krem polos atau keputihan tanpa corak mencolok.
Memahami keberadaan Ular Birang di sekitar kita membantu menjaga keseimbangan rantai makanan lokal. Karena tidak berbahaya dan justru membantu mengontrol populasi reptil kecil di pekarangan.
Kehadiran mereka sejatinya tidak perlu ditakuti secara berlebihan. Jika tak sengaja menjumpainya di sekitar rumah, cukup giring secara perlahan kembali ke area semak atau vegetasi terdekat tanpa harus menyakitinya.(*)