Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Mengenal Tiban, Ritual Kemarau dan Minta Hujan yang Masih Dilestarikan di Kediri

Muhamad Asad Muhamiyus Sidqi • Kamis, 18 Juni 2026 | 21:43 WIB
SALING PECUT: Warga antusias mengikuti tradisi tiban yang diadakan di Desa Surat, Mojo, Kediri.
SALING PECUT: Warga antusias mengikuti tradisi tiban yang diadakan di Desa Surat, Mojo, Kediri.

KEDIRI, JP Radar Kediri – Musim kemarau tak hanya identik dengan cuaca panas dan minim hujan.

Di Kabupaten Kediri, musim kering juga lekat dengan sebuah tradisi yang telah diwariskan turun-temurun oleh masyarakat.

Tradisi itu bernama Tiban, ritual yang biasa digelar saat kemarau berlangsung panjang.

Kepala Bidang Sejarah dan Purbakala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Kediri Eko Priatno mengatakan, Tiban merupakan salah satu tradisi khas masyarakat Kediri yang berkaitan erat dengan musim kemarau.

"Kalau tradisi kemarau, di Kediri ada Tiban," ujarnya.

Baca Juga: Waspada Kemarau Panjang! Ini 5 Rekomendasi Damkar untuk Mencegah Kebakaran Lahan

1. Tradisi Pecut-Pecutan

Tiban merupakan ritual yang dilakukan dengan cara saling mencambuk menggunakan pecut yang umumnya terbuat dari lidi aren.

Para peserta, biasanya laki-laki dewasa, memasuki arena secara berpasangan lalu saling melepaskan cambukan secara bergantian.

Prosesi tersebut berlangsung diiringi tabuhan gamelan dan rangkaian ritual adat yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.

2. Sering Digelar Saat Kemarau Panjang

Tiban umumnya digelar saat musim kemarau berlangsung cukup panjang.

Tradisi ini menjadi salah satu ritus masyarakat agraris sebagai respons terhadap kondisi cuaca yang kering dan minim hujan.

Karena itu, keberadaan Tiban selalu identik dengan datangnya musim kemarau di sejumlah wilayah Kabupaten Kediri.

Baca Juga: BMKG Kediri: Kemarau 2026 dan El Nino Berpotensi Ganggu Produksi Beras, Inflasi Pangan Diwaspadai ini yang Perlu Dilakukan

3. Dipercaya Sebagai Ritual Pemanggil Hujan

Bagi masyarakat pendukungnya, Tiban bukan sekadar pertunjukan adu cambuk.

Ritual tersebut dipercaya sebagai salah satu bentuk ikhtiar untuk memohon turunnya hujan ketika kemarau panjang melanda.

Dalam cerita rakyat yang berkembang di Kediri Raya, Tiban menjadi simbol harapan agar kekeringan segera berakhir dan sumber-sumber air kembali terisi.

Tradisi ini masih dapat dijumpai di sejumlah wilayah Kabupaten Kediri. Beberapa daerah yang dikenal masih melestarikan Tiban antara lain Kecamatan Mojo, Kras, dan Ngadiluwih. Di sejumlah desa, ritual tersebut masih menjadi bagian dari agenda budaya masyarakat.

Baca Juga: September hingga November Jadi Masa Kritis Kemarau 2026, Ini Penjelasan BMKG Kediri

5. Penuh dengan Makna

Seiring perkembangan zaman, fungsi Tiban tidak lagi terbatas sebagai ritual meminta hujan.

Tradisi ini juga menjadi sarana pelestarian budaya sekaligus media mempererat hubungan sosial masyarakat.

Sejumlah penelitian menyebut Tiban mengandung nilai pengorbanan, kebersamaan, keberanian, pengendalian diri, hingga penghormatan terhadap warisan leluhur.

6. Sudah Diakui Sebagai Kekayaan Budaya Kediri

Keberadaan Tiban kini mendapat pengakuan resmi dari negara. Kesenian tradisional tersebut telah tercatat sebagai Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) milik Kabupaten Kediri melalui skema Ekspresi Budaya Tradisional (EBT) berdasarkan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta.

Pengusulan pencatatan dilakukan oleh Dewan Kesenian dan Kebudayaan Kabupaten Kediri (DK4) dengan pendampingan Balitbangda Kabupaten Kediri.

Tiban tercatat dengan nomor registrasi EBT35202300033. Pengakuan tersebut sekaligus memperkuat status Tiban sebagai salah satu warisan budaya khas Kabupaten Kediri yang terus dijaga dan dilestarikan hingga saat ini.

Editor : Andhika Attar Anindita
#kabupaten kediri #hak cipta #kemarau panjang #tiban