Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

5 Fakta Unik Burung Ciblek, Si Kecil Pemilik Kicauan Tembakan yang Kian Langka

Arlintang Sekar Phambayun • Rabu, 20 Mei 2026 | 18:00 WIB
Burung Ciblek/Perenjak Jawa (agrotek.id)
Burung Ciblek/Perenjak Jawa (agrotek.id)

JP Radar Kediri – Burung ciblek atau perenjak jawa (Prinia familiaris) kini menjadi salah satu primadona yang paling dicari oleh para pencinta unggas berkicau di Indonesia. Meskipun ukurannya sangat mungil, burung endemik ini memiliki berbagai karakteristik unik yang sangat menarik untuk diulas.

Pamornya di dunia hobi terus meroket karena suara kicauannya yang rapat dan kerap disebut sebagai suara tembakan. Di balik kemerduan suaranya tersebut, terdapat sisi lain kehidupan ciblek yang belum banyak diketahui masyarakat luas.

1. Morfologi Tubuh yang Ramping dan Spesifik

Burung pengicau dari suku Cisticolidae ini memiliki postur tubuh yang sangat ramping dengan panjang total hanya sekitar 13 sentimeter dihitung dari ujung paruh hingga ekor. Bagian atas badannya didominasi oleh warna cokelat hijau-zaitun, sementara bagian tenggorokan dan dadanya berwarna putih bersih berpadu perut kekuningan.

Ciri paling ikonik yang membedakannya dengan burung lain adalah keberadaan dua garis putih menonjol pada masing-masing sayapnya. Selain itu, ekornya yang panjang memiliki corak warna hitam dan putih yang kontras pada bagian ujungnya.

Paruh burung ini berbentuk panjang runcing dengan kombinasi warna kehitaman di bagian atas dan kekuningan di sisi bawah. Sektor kakinya terlihat sangat langka karena berbentuk langsing namun rapuh dengan balutan warna cokelat kemerahan atau merah jambu.

Baca Juga: 8 Jenis Burung Kolibri Asli Indonesia yang Menawan dan Sayang untuk Dilewatkan

2. Sebaran Habitat dari Sawah hingga Bakau

Ciblek dikenal sebagai burung yang sangat ramai dan lincah di alam liar. Mereka sangat menyukai area terbuka seperti semak-semak pekarangan, tepi sawah, kebun teh, hutan sekunder, bahkan hingga kawasan hutan bakau.

Secara geografis, burung ini dapat ditemukan hidup bebas hingga ketinggian 900 meter di atas permukaan laut di Pulau Sumatra. Namun, uniknya satwa kecil ini sama sekali tidak ditemukan di wilayah Sumatra Utara.

Sebaliknya, populasi perenjak jawa justru sangat umum dan mudah dijumpai di kawasan Pulau Jawa serta Pulau Bali. Di kedua pulau tersebut, mereka mampu bertahan hidup di wilayah dataran tinggi hingga mencapai ketinggian 1.500 meter di atas permukaan laut.

3. Perubahan Nilai Ekonomi Setelah Era 90-an

Sebelum tahun 1990-an, burung ciblek sama sekali tidak memiliki nilai ekonomi di pasar burung karena dianggap sebagai unggas liar biasa. Keberadaannya kala itu dibiarkan meliar begitu saja seperti halnya burung gereja atau burung pipit di pemukiman.

Namun, peta perdagangan satwa berubah total setelah tahun 1990 karena karakter suaranya yang khas mulai diminati kolektor. Ditambah lagi, burung ini memiliki keistimewaan berupa sifat yang sangat mudah jinak jika dipelihara manusia.

Sifat jinaknya yang tinggi ini justru memicu gelombang perburuan besar-besaran di berbagai daerah perkebunan. Akibatnya, status burung yang dulunya diabaikan ini berubah menjadi komoditas bisnis yang bernilai tinggi.

Baca Juga: Sering Terdengar Tapi Jarang Terlihat, Ini Habitat Asli Burung Srigunting Si Peniru Suara

4. Taktik Unik dan Agresif Para Pemikat

Sifat teritorial yang sangat kuat dari ciblek jantan dimanfaatkan oleh para pemikat untuk menjebaknya di alam liar. Mereka menaruh cermin di dalam sangkar pikat agar ciblek liar datang menyerang bayangannya sendiri yang dikira sebagai musuh.

Tak hanya itu, pemburu juga kerap memasang jerat rajut di sekitar sarang ciblek yang berbentuk bola anyaman rumput setinggi 1,5 meter. Penggunaan perangkap getah atau pulut di tempat bertengger malam hari juga menjadi senjata andalan pemikat.

Pada malam hari, pemburu profesional bahkan hanya bermodalkan senter untuk melumpuhkan burung ini saat tertidur di ranting. Kecepatan tangan dan kehati-hatian menjadi kunci utama mereka dalam menguras populasi ciblek di alam.

5. Risiko Stres dan Tantangan Penangkaran Domestik

Tantangan terbesar dari burung hasil tangkapan alam, terutama yang sudah berusia dewasa, adalah tingkat kerentanan stresnya yang sangat tinggi. Burung dewasa sering kali menolak pakan buatan seperti voer dan berujung pada kematian mendadak jika dirawat pemula.

Untuk mempertahankan hidupnya, pemilik harus telaten menyuapi kombinasi pakan alami berupa kroto serta ulat hongkong. Sayangnya, tingginya angka kematian ini tidak menyurutkan ambisi para pemburu liar untuk terus mengeksploitasi habitat mereka.

Baca Juga: Burung Wambi, Si Pemilik Suara Merdu yang Kini Semakin Jarang Dijumpai

Berbagai fakta di atas menunjukkan bahwa burung ciblek bukan sekadar komoditas hiburan, melainkan bagian penting dari ekosistem lingkungan kita. Diperlukan kesadaran bersama dari para penghobi untuk mulai membatasi perburuan liar demi menjaga populasi mereka di alam.

Jangan sampai suara tembakan khas dari burung kecil ini hilang dari pekarangan dan hanya bisa didengar di dalam sangkar besi. Keseimbangan alam yang terjaga tentu akan memberikan dampak positif bagi kelestarian lingkungan di masa depan. 

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di saluran  WhatsApp "Radar Kediri". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel. 

Editor : Shinta Nurma Ababil
#fakta burung #burung ciblek #ciblek #perenjak jawa #burung perenjak jawa