Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Tradisi Jawa Tingkepan, Selapanan, dan Sepasaran, Warisan Budaya yang Sarat Makna

Mohammad Basid Alharis • Rabu, 20 Agustus 2025 | 20:24 WIB
Pemotongan rambut bayi di acara selapanan
Pemotongan rambut bayi di acara selapanan

JP Radar Kediri - Masyarakat Jawa dikenal memiliki berbagai tradisi yang mengakar kuat dalam kehidupan sosial dan spiritual.

Di antaranya, Tingkepan, Selapanan, dan Sepasaran merupakan tradisi yang terkait dengan fase awal kehidupan seorang anak.

Tradisi-tradisi ini tidak hanya menjadi bentuk syukur kepada Tuhan, tetapi juga sebagai sarana untuk menjaga harmoni antara manusia dan alam semesta menurut kepercayaan Jawa.

INFORMASI PENDAFTARAN KOMPETISI KOMPETENSI AKADEMIK 2025

Apa itu kompetisi kempetensi akademik? Baca di sini

Daftar di link berikut: https://rkomnibus.com/

Contac person: 0813-3563-2111 (heri)

Pertama, adalah tingkepan atau mitoni berasal dari kata “pitu” yang berarti tujuh.

Tradisi ini dilaksanakan saat usia kehamilan memasuki tujuh bulan, biasanya untuk kehamilan anak pertama.

Tujuan utamanya adalah memohon keselamatan ibu dan bayi hingga proses persalinan, serta harapan agar anak kelak menjadi pribadi yang baik.

Adapun bentuk rangkaian acara siraman. Calon ibu disiram air dari tujuh sumber mata air oleh tujuh orang yang dianggap bijak dan dihormati (biasanya orang tua, mertua, atau tokoh masyarakat).

Lalu, ganti busana tujuh kali. Calon ibu mengenakan tujuh kain batik berbeda sebagai simbol harapan untuk anak yang berkarakter baik dan beragam.

Kemudian, dodol rujak. Rujak buah disiapkan sebagai lambang kehidupan yang penuh rasa dan harapan akan masa depan yang manis.

Dan anggungan atau menebak kelamin bayi. Terkadang dilakukan permainan tradisional untuk menebak jenis kelamin bayi.

Tingkepan ini mencerminkan rasa syukur, persiapan mental dan spiritual, serta ikatan sosial antara keluarga besar dan masyarakat sekitar.

Kedua, adalah selapanan. Selapanan berasal dari kata "selapan" (35 hari dalam kalender Jawa 7 hari pasaran × 5 hari pekan Jawa).

Tradisi ini dilakukan 35 hari setelah bayi lahir, sebagai bentuk syukur dan doa agar anak tumbuh sehat dan bahagia.

Adapun rangkaian acara mulai dari tumpengan. Pembuatan nasi tumpeng atau nasi berkat sebagai simbol rasa syukur.

Pemberian nama secara resmi (jika belum diumumkan sebelumnya).

Pemotongan rambut (jika sesuai adat keluarga). Simbol pembersihan lahir dan batin.

Doa bersama atau pengajian (tergantung kepercayaan keluarga).

Selapanan merupakan wujud pengakuan sosial atas kehadiran anak dalam keluarga dan masyarakat.

Ini juga mempererat hubungan antaranggota keluarga besar dan tetangga.

Ketiga, adalah sepasaran adalah tradisi yang dilakukan 5 hari (1 pasaran) setelah kelahiran bayi.

Tradisi ini lebih sederhana dibanding selapanan, tetapi tetap penting dalam budaya Jawa karena menandai hari-hari pertama kehidupan bayi di dunia.

Adapun rangkaian acara antar lain dengan doa syukur secara sederhana.

Pemberian nama awal (jika belum diberi saat lahir).

Pengolesan minyak atau ramuan tradisional pada bayi sebagai perlindungan dari gangguan gaib (mitos) dan sebagai bentuk perhatian terhadap kesehatan bayi.

Tradisi sepasaran ini memperlihatkan perhatian masyarakat Jawa pada keseimbangan spiritual dan fisik sejak awal kehidupan.

Ini juga menjadi awal dari keterikatan sosial bayi dengan komunitasnya.

Jadi, tradisi tingkepan, selapanan, dan sepasaran tidak hanya menyimpan nilai estetika dalam bentuk upacara adat, tetapi juga kaya makna filosofi dan spiritualitas.

Meskipun zaman terus berubah, mempertahankan tradisi ini adalah salah satu cara menjaga identitas budaya dan nilai-nilai luhur dalam kehidupan bermasyarakat.

Di tengah modernitas, banyak keluarga Jawa yang tetap melestarikan tradisi ini dengan penyesuaian agar tetap relevan namun tidak kehilangan esensinya.

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#Harmoni #masyrakat adat #syukur #jawa #kehidupan #tradisi