JP Radar Kediri – Silaturahmi merupakan salah satu ajaran penting dalam Islam yang tidak hanya berdampak pada hubungan sosial, tetapi juga memengaruhi keberkahan hidup, umur panjang, dan rezeki seseorang.
Dalam bahasa Arab, silaturahmi disebut ṣilatu ar-raḥim, yang berarti "menyambung hubungan kasih sayang". Imam Nawawi dalam Riyadhus Shalihin dan Syekh Nawawi al-Bantani dalam Nashaihul Ibad menjelaskan bahwa rahim adalah ikatan kekerabatan yang berasal dari satu nasab, dan menyambungnya berarti menjaga hubungan dengan kerabat, baik secara langsung maupun tidak langsung.
Adapun keutamaan silaturahmi antara lain dalam Ihya’ ‘Ulum al-Din, Imam al-Ghazali menyebut silaturahmi sebagai bagian dari akhlak mulia dan amal hati. Ia menyebutkan bahwa silaturahmi dapat dilakukan dengan tiga cara. Yakni menyambung hubungan secara fisik (berkunjung, membantu). Memberikan materi jika dibutuhkan. Dan mendoakan dan menyebut kebaikannya.
Beliau juga mengutip sabda Rasulullah SAW, "Man aḥabba an yubsatha lahu fī rizqihi wa yunsa’a lahu fī atharihi falyasil rahimahu."
“Barang siapa yang ingin diluaskan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka sambunglah tali silaturahmi.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Sedangkan didalam tafsir al-Jalalayn pada ayat, "Wa al-lażīna yaqṭa‘ūna mā amara Allāhu bihi an yūṣala wa yufsidūna fī al-arḍi ūlā’ika lahumu al-la‘natu wa lahum sū’u al-dār." (QS. Ar-Ra’d: 25).
Disebutkan oleh Imam Jalaluddin al-Mahalli dan Imam Jalaluddin as-Suyuthi dalam Tafsir al-Jalalayn bahwa salah satu bentuk kerusakan yang dimurkai Allah adalah memutus silaturahmi. Pelakunya dilaknat dan akan mendapatkan tempat tinggal yang buruk (neraka).
Lalu, dalam kitab Adabul ‘Ālim wal-Muta‘allim, Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari juga menjelaskan bahwa silaturahmi termasuk adab penting dalam kehidupan seorang penuntut ilmu. Beliau menganjurkan agar seorang pelajar menjaga hubungan baik dengan keluarganya, gurunya, dan sesama pelajar, karena keberkahan ilmu juga tergantung pada baiknya hubungan dengan sesama.
Begitu juga dalam Nashaihul ‘Ibad, Syekh Nawawi menyebutkan bahwa silaturahmi memiliki dampak duniawi dan ukhrawi. Salah satu hadits yang dikutip, “Sesungguhnya sedekah kepada orang miskin berpahala satu, tetapi jika kepada kerabat berpahala dua: pahala sedekah dan pahala menyambung silaturahmi.” (HR. Tirmidzi).
Kemudian, ini dampak positif menyambung silaturahmi. Pertama, diluaskan rezeki dan dipanjangkan umur. Kedua, menghindarkan dari Su’ul Khatimah. Imam al-Ghazali dalam Ihya’ juga mengingatkan bahwa orang yang gemar memutuskan tali silaturahmi, bisa mati dalam keadaan buruk (su’ul khatimah), karena kebiasaannya menunjukkan keras hati dan jauh dari kasih sayang.
Ketiga, menjadi sebab masuk surga. Rasulullah SAW bersabda, “Wahai manusia, sebarkan salam, beri makan, sambunglah tali silaturahmi, shalatlah malam ketika orang tidur, niscaya kamu masuk surga dengan selamat.” (HR. Tirmidzi).
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah