Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Simak! Ini Makna dan Tradisi 1 Sura dalam Budaya Jawa

Mohammad Basid Alharis • Sabtu, 28 Juni 2025 | 00:16 WIB
Kirab 1 Sura yang digelar Pemkot Kediri.
Kirab 1 Sura yang digelar Pemkot Kediri.

 

JP Radar Kediri - Dalam budaya Jawa, tanggal 1 Sura memiliki makna spiritual yang sangat mendalam. 1 Sura merupakan hari pertama dalam kalender Jawa, yang bertepatan dengan 1 Muharram dalam kalender Hijriah.

Hari ini bukan hanya sekadar awal tahun, tetapi juga menjadi momen penting untuk introspeksi, spiritualitas, dan ritual budaya yang kaya makna.

Asal usul kata Sura berasal dari kata "Asyura" dalam bahasa Arab, yang berarti tanggal 10 Muharram, tetapi dalam kalender Jawa, Sura mencakup seluruh bulan pertama dalam tahun Jawa.

Kalender Jawa sendiri merupakan perpaduan antara kalender Islam dan kalender Hindu-Buddha yang digunakan sejak zaman Kerajaan Mataram Islam.

Satu Sura dipercaya sebagai waktu yang penuh kekuatan gaib dan spiritual. Oleh karena itu, masyarakat Jawa memaknainya sebagai saat yang sakral untuk mendekatkan diri kepada Tuhan, membersihkan diri secara lahir dan batin, serta merenungkan perjalanan hidup.

Adapun tradisi dan ritual 1 Sura sebagai berikut. Pertama, Tapa Bisu Salah satu tradisi paling terkenal adalah Tapa Bisu di Keraton Surakarta dan Yogyakarta.

Dalam ritual ini, para abdi dalem dan masyarakat melakukan prosesi mengelilingi benteng keraton tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Larangan berbicara ini melambangkan kontemplasi, pengendalian diri, dan kesucian niat.

Kedua, Ziarah dan Tirakat. Banyak orang Jawa melakukan ziarah ke makam leluhur atau tokoh-tokoh keramat. Mereka juga melakukan tirakat seperti puasa, meditasi, atau menyendiri di tempat sunyi (bertapa) untuk memperoleh pencerahan dan kekuatan batin.

Ketiga, Larangan Pesta atau Perayaan Meriah. Tidak seperti tahun baru Masehi, masyarakat Jawa cenderung menghindari pesta dan perayaan meriah pada 1 Suro.

Justru, suasana yang diciptakan adalah hening, khidmat, dan penuh perenungan. Hal ini dilandasi oleh kepercayaan bahwa 1 Suro adalah waktu yang “wingit” atau angker jika tidak disikapi dengan bijak.

Keempat, Sedekah Laut atau Labuhan. Di beberapa daerah pesisir seperti Gunungkidul dan Cilacap, masyarakat mengadakan sedekah laut untuk menghormati penguasa laut selatan, Nyai Roro Kidul. Hasil bumi dan sesaji dilarung ke laut sebagai bentuk syukur dan permohonan keselamatan.

Jadi, filosofi dibalik 1 Sura adalah tradisi 1 Suro tidak lepas dari ajaran kejawen, yaitu filosofi hidup yang menekankan keseimbangan antara alam, manusia, dan Tuhan.

Melalui ritual-ritualnya, 1 Sura mengajak manusia untuk mengendalikan hawa nafsu, meningkatkan kesadaran spiritual, serta menjaga harmoni dengan semesta.

Dengan demikian, tradisi 1 Sura adalah warisan budaya yang memperkaya khasanah spiritualitas masyarakat Jawa. Di tengah modernisasi, nilai-nilai yang terkandung dalam peringatan 1 Sura tetap relevan sebagai pengingat akan pentingnya introspeksi, kesederhanaan, dan koneksi spiritual dalam menjalani kehidupan.

 

Untuk mendapatkan berita- berita terkini  Jawa Pos  Radar Kediri , silakan bergabung di saluran WhatsApp " Radar Kediri ". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#tradisi Jawa 1 Suro #1 sura #1 Muharam