Di bulan ini, banyak orang masih memegang teguh berbagai pantangan atau larangan yang diyakini untuk menghindari kesialan dan menjaga keselamatan.
Meskipun zaman sudah modern, kepercayaan terhadap larangan di Bulan Suro tetap dijalankan oleh sebagian besar warga, terutama di daerah pedesaan Jawa. Berikut ini tujuh larangan yang banyak dipercaya:
Baca Juga: Bikin Merinding! Ini Amalan Malam 1 Suro dari Ulama Keturunan Nabi yang Disampaikan Gus Iqdam
1. Dilarang Menikah
Banyak orang Jawa menghindari pernikahan di Bulan Suro karena dipercaya bisa membawa rumah tangga yang tidak harmonis atau sering ditimpa musibah.
2. Tidak Boleh Menggelar Hajatan
Segala bentuk pesta besar seperti khitanan atau tasyakuran sebaiknya ditunda dulu. Bulan Suro dianggap bukan waktu yang tepat untuk mengadakan perayaan.
3. Dilarang Pindah Rumah
Pindah rumah atau memulai renovasi rumah pada Bulan Suro diyakini bisa membawa nasib kurang baik. Oleh karena itu, banyak orang memilih menunggu hingga bulan berikutnya.
4. Tidak Dianjurkan Keluar Malam
Bepergian pada malam hari, terutama saat malam 1 Suro, dianggap berisiko. Konon, malam itu adalah waktu ketika makhluk gaib berkeliaran.
Baca Juga: Kenapa Menikah di Bulan Suro Dianggap Pantangan? Ini Alasannya!
5. Hindari Khitan
Sunat atau khitan juga menjadi salah satu hal yang dihindari. Ada anggapan bahwa sunat di bulan ini bisa berdampak kurang baik terhadap kesehatan atau pertumbuhan anak.
6. Dilarang Berisik
Masyarakat dianjurkan menjaga ketenangan selama Bulan Suro, terutama di malam hari. Suara keras, tertawa terbahak-bahak, atau membunyikan musik terlalu keras dianggap kurang pantas.
7. Tidak Boleh Berselisih
Pertengkaran dan permusuhan sangat dihindari selama bulan ini. Bulan Suro dijadikan waktu untuk menenangkan hati dan menjauhi konflik.
Baca Juga: Malam 1 Suro Segera Tiba, Ini Amalan dan Doa yang Dianjurkan untuk Tolak Bala dan Mohon Keselamatan
Bagaimana Pandangan Islam?
Dalam Islam, bulan Muharram (yang sepadan dengan Bulan Suro) adalah salah satu dari empat bulan suci.
Umat Islam dianjurkan memperbanyak amal kebaikan, berpuasa, dan menjauhi perbuatan dosa.
Islam tidak melarang pernikahan atau kegiatan lainnya selama Muharram. Namun, kepercayaan masyarakat Jawa terhadap larangan tersebut dianggap sebagai bagian dari tradisi lokal yang turun-temurun.
Bagi masyarakat Jawa, Bulan Suro bukan hanya soal larangan, tapi juga momen untuk introspeksi, mendekatkan diri pada Tuhan, dan menjaga ketenangan batin.
Selama tidak bertentangan dengan ajaran agama, tradisi seperti ini tetap bisa dijalani sebagai bentuk kearifan lokal yang memperkaya budaya bangsa.
Editor : Ilmidza Amalia Nadzira