Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Tradisi Larung Sesaji Gunung Kelud: Warisan Budaya Sakral Peringatan Satu Suro di Kediri

Zeyra Putri Widhianingtyas • Kamis, 26 Juni 2025 | 16:24 WIB

Larung Sesaji
Larung Sesaji

JP Radar Kediri – Peringatan Satu Suro adalah hari yang dipercaya sakral bagi sebagian masyarakat Jawa. Beberapa tradisi dilakukan di jantung kebudayaan peradaban Suku Jawa, salah satunya adalah Tradisi Larung Sesaji Gunung Kelud Kediri.

Larung Sesaji Gunung Kelud adalah sebuah tradisi upacara adat yang dilakukan oleh masyarakat di sekitar lereng Gunung Kelud. Tradisi ini merupakan wujud rasa syukur atas hasil bumi yang melimpah. Selain itu, Larung Sesaji juga diperingati sebagai bentuk permohonan keselamatan selama tahun baru kalender Jawa.

Sebagai wujud penghormatan kesakralan bulan Suro, kegiatan ini bertujuan sebagai wujud rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa dan juga sebagai bentuk hormat kepada penguasa Gunung Kelud. Upacara ini juga dihadiri oleh pemerintah desa setempat.

Tradisi Larung Sesaji Gunung Kelud memiliki sejarah yang panjang. Tradisi ini bermula dari meletusnya Gunung Kelud yang sering dikaitkan dengan kisah Dewi Kilisuci dan Lembusura.

Baca Juga: Lahir Weton Pahing? Waspada di Bulan Suro! Bisa Dapat Rezeki Ngalir Deras atau Justru Kena Gangguan Gaib

Dewi Kilisuci merupakan seorang putri dari Kerajaan Jenggala yang terkenal dengan kecantikannya yang luar biasa. Ia menerima pinangan dari dua raja yang dikenal dengan Lembusuro dan Mahesasuro. Dewi Kilisuci tidak mau menerima lamaran dua pemuda tersebut. Ia memberikan syarat dan tantangan kepada mereka untuk membuatkannya sumur di Gunung Kelud.

Dewi Kilisuci memberikan waktu hanya dalam satu malam untuk pembuatan sumur tersebut. Namun, keduanya bisa menunaikan syarat Dewi Kilisuci. Untuk menyiasatinya, Dewi Kilisuci meminta anak buahnya untuk memberikan pengumuman kepada mereka bahwa Dewi Kilisuci jatuh ke dalam sumur.

Baca Juga: Malam 1 Suro 2025 Jatuh di Malam Jumat Kliwon, Begini Mitos dan Tradisi yang Masih Dilestarikan

Tak lama, Mahesasuro dan Lembusuro masuk ke dalam sumur dengan maksud untuk menyelamatkan Dewi Kilisuci. Setelah masuk ke dalam sumur, Dewi Kilisuci mengutus anak buahnya untuk mengubur kedua lelaki itu. Alhasil, Mahesasuro dan Lembusuro terkubur di dalam sumur hasil kerja kerasnya sendiri.

Sebelum akhirnya mati tertimbun, dikisahkan bahwa Lembu Suro sempat mengucapkan sumpah dimana Kabupaten Kediri akan menjadi sungai, Blitar akan menjadi halaman, dan Tulungagung akan menjadi danau.

Baca Juga: Weton Tulang Wangi, Lahir dengan Aura Gaib? Ini Ciri-ciri dan Pengaruhnya Saat Malam 1 Suro

Oleh karena masyarakat yang takut dengan kutukan tersebut akhirnya mendorong masyarakat untuk melakukan kegiatan upacata adat Larung Sesaji di Gunung Kelud setiap bulan Suro.

Tradisi ini berlokasi di Desa Sugihwaras, Kecamatan Ngancar, Kabupaten Kediri. Ritual Sesaji berisi nasi, sayuran, lauk-pauk, dan buah-buahan yang dikemas dalam bentuk tumpeng.

Bahan sesaji dalam ritual larung Sesaji di kawah Gunung Kelud adalah wedang kopi murni, lada tawar, badek, ayam panggang, dan lain-lain. Sarana penting dalam ritual tersebut adalah dengan melarungkan batu intan ke kawah Gunung Kelud.

Baca Juga: Kapan Malam 1 Suro 2025? Ini Tanggalnya, Makna Mistis dan Larangannya Bikin Merinding!

Tradisi ini menunjukkan bahwa meskipun kemajuan teknologi sudah cukup pesat akan tetapi masyarakat Indonesia, terutama masyarakat Jawa khususnya warga Kediri tetap mempertahankan nilai ada kebudayaan yang menjadi identitas suatu bangsa.

 

Editor : Jauhar Yohanis
#lembu suro #adat istiadat #Gunung Kelud Kabupaten Kediri #malam satu suro #berita kediri hari ini #satu suro #tradisi