Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Tinggal Tiga Hari Lagi, Apakah 1 Sura Sama dengan 1 Muharram? Simak Penjelasannya.

Mohammad Basid Alharis • Selasa, 24 Juni 2025 | 22:04 WIB
Ilustrasi malam 1 Sura.
Ilustrasi malam 1 Sura.

 

JP Radar Kediri – Dalam masyarakat Indonesia, khususnya di kalangan masyarakat Jawa, tanggal 1 Sura sering kali dikaitkan dengan berbagai tradisi dan kepercayaan mistik.

Sementara itu, dalam kalender Islam (Hijriah), tanggal 1 Muharram adalah awal tahun baru Islam yang juga memiliki makna spiritual penting bagi umat Muslim. Pertanyaannya, apakah 1 Sura sama dengan 1 Muharram?

Ini persamaan antara 1 Sura dan 1 Muharram. Secara kalender, 1 Sura dan 1 Muharram jatuh pada hari yang sama. Hal ini karena Suro adalah sebutan dalam penanggalan Jawa untuk bulan pertama dalam kalender Jawa yang diadopsi dari sistem kalender Hijriyah.

Sistem penanggalan Jawa, yang diperkenalkan oleh Sultan Agung dari Mataram pada abad ke-17, menggabungkan elemen kalender Islam (Hijriyah) dengan kalender Saka Hindu-Buddha. Dalam sistem ini, nama-nama bulan Islam digunakan, tetapi dengan pengucapan khas Jawa. "Muharram" pun menjadi "Suro". Dengan demikian, tanggal 1 Suro selalu bertepatan dengan 1 Muharram setiap tahunnya.

Namun memiliki perbedaan makna dan tradisi. Meski tanggalnya sama, makna dan perayaan 1 Sura dan 1 Muharram bisa berbeda, tergantung pada perspektif budaya dan agama. Dalam Islam 1 Muharram menandai awal tahun baru Hijriyah. Bulan Muharram dianggap salah satu dari empat bulan haram (bulan mulia) dalam Islam.

Umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak ibadah, berpuasa (khususnya pada 9 dan 10 Muharram, yang dikenal sebagai puasa Tasu’a dan Asyura), dan memperbaiki diri. Tidak ada perayaan besar, tetapi lebih pada momen spiritual dan kontemplatif.

Sedangkan dalam budaya Jawa bahwa 1 Sura dianggap hari yang sangat sakral dan penuh aura mistik. Diwarnai dengan berbagai tradisi spiritual dan budaya, seperti tirakat, kungkum (berendam di air), topo bisu (berjalan tanpa berbicara), dan berbagai ritual di keraton.

Di Yogyakarta dan Surakarta, digelar kirab pusaka sebagai bentuk penghormatan terhadap leluhur dan kekuatan gaib. Masyarakat Jawa cenderung menghindari pesta atau perayaan pada malam 1 Sura karena dianggap sebagai waktu yang sakral dan penuh kewaspadaan.

Jadi, 1 Sura sama dengan 1 Muharram dalam hal tanggal keduanya merujuk pada hari pertama di bulan pertama tahun Hijriyah. Namun, perbedaan hanya terletak pada makna.

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#mistik #1 sura #jawa #hijriah #tradisi