Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Tradisi Rampokan Macan: Gladiator ala Jawa dan Awal Punahnya Harimau Jawa  

Redaksi Radar Kediri • Selasa, 24 Juni 2025 | 18:59 WIB

 

Tradisi Rampokan Macan Gladiator ala Jawa dan Awal Punahnya Harimau Jawa
Tradisi Rampokan Macan Gladiator ala Jawa dan Awal Punahnya Harimau Jawa

JP, Radar Kediri - Di Pulau Jawa, pada abad ke-17 hingga ke-19, terdapat sebuah tradisi yang berkembang di lingkungan Kerajaan Mataram Islam, khususnya pada masa pemerintahan Amangkurat II.

Tradisi ini dikenal dengan nama Rampokan Macan. Konsepnya mirip dengan pertarungan hewan yang ada di berbagai belahan dunia lain.

Sesuai namanya, tradisi ini melibatkan harimau sebagai pusat pertarungan. Harimau tersebut dibunuh secara sengaja dalam sebuah ritual yang biasanya digelar untuk menyambut hari raya keagamaan, seperti Idulfitri dan Tahun Baru Islam.

Di wilayah Karesidenan Kediri sekitar abad ke-19, Harimau Jawa dianggap sebagai momok menakutkan bagi masyarakat. Meskipun kepadatan penduduk masih rendah saat itu, jumlah korban akibat serangan harimau cukup banyak.

 Baca Juga: Europeesche Wijk: Jejak-Jejak Pemukiman Kaum Eropa di Kediri pada Masa Kolonial

Harimau Jawa dikenal menyukai dataran tinggi. Di Kediri, terdapat gua bernama Selomangleng, di mana penjaganya dibekali senjata untuk melindungi para pertapa dari serangan harimau.

Menariknya, di Kediri juga ada sebuah wilayah bernama Gogorante. Dalam bahasa Jawa, "gogor" berarti anak harimau, dan "rante" berarti rantai. Nama ini mengisyaratkan bahwa dulunya wilayah ini mungkin menjadi habitat harimau, dan tempat berkembangnya tradisi rampokan macan.

Tradisi ini berlangsung dalam dua babak:

  1. Babak pertama adalah pertarungan antara harimau dengan kerbau.
  2. Babak kedua, yang paling ikonik, adalah pertempuran antara harimau dan ribuan manusia bersenjata tombak.

Sebuah laporan dari surat kabar De Locomotief terbitan Semarang, tanggal 20 Februari 1899, memuat cerita dari seorang warga Blitar—yang saat itu masih termasuk wilayah Karesidenan Kediri—mengenai jalannya tradisi ini.

 Baca Juga: Kala Opium Jadi Candu Masyarakat Kediri di Abad ke-19, Dahulu Banyak Melibatkan Masyarakat Tionghoa

Dalam laporan tersebut digambarkan bagaimana harimau terus berlari dan meraung, berusaha menjaga jarak dari tombak dan lembing yang diarahkan padanya. Banyak peserta tampak gemetar dan ketakutan.

Saat harimau kelelahan, ia akan berhenti sejenak, lalu menerjang ke arah tombak-tombak yang sudah siap menusuk. Sampai akhirnya, harimau tersebut berhasil ditaklukkan.

Memasuki tahun 1916, Kediri telah berada sepenuhnya di bawah kendali pemerintah kolonial Belanda.

Pemerintah kolonial menilai bahwa tradisi Rampokan Macanmengancam keseimbangan ekosistem dan kekayaan alam Hindia Belanda. Maka, Belanda memberlakukan larangan terhadap praktik ini, demi menjaga populasi satwa liar.

 Baca Juga: Manisnya Industrialisasi Gula di Karesidenan Kediri pada Masa Kolonial, Punya 17 Pabrik Gula jadi yang Terbesar Nomor 2 Se-Jawa Timur

Tradisi ini diduga menjadi salah satu faktor yang mempercepat kepunahan Harimau Jawa, yang dinyatakan punah secara resmi sejak tahun 2003. Harimau Jawa adalah satu dari sembilan spesies harimau yang pernah ada di dunia.

 

 

Penulis adalah Yulita Dyah Kusumasari, mahasiswa magang jurusan Ilmu Sejarah dari Universitas Airlangga Surabaya

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#pulau jawa #Rampokan Macan #Kerajaan Mataram Islam #sejarah #tradisi