JP Radar Kediri - Pada masa kolonial Belanda, tebu menjadi komoditas unggulan untuk ekspor. Di Karesidenan Kediri, tanaman ini mulai dibudidayakan di lahan persawahan melalui sistem tanam paksa. Untuk mendukungnya, pemerintah membangun dan memperbaiki sistem irigasi.
Pada tahun 1836, tercatat sekitar 509 hektare lahan telah ditanami tebu, dan terdapat 13 pabrik gula yang beroperasi. Namun, jumlah pabrik gula mengalami pasang surut—berbanding terbalik dengan luas lahan tebu yang justru semakin meluas.
Berakhirnya tanam paksa ditandai dengan terbitnya Agrarisch Wet dan Suiker Wet pada tahun 1870. Undang-undang ini menjadi tonggak awal industrialisasi gula di Indonesia, di mana penanaman tebu dan pengelolaan pabrik dialihkan kepada pihak swasta.
Memasuki era liberalisasi, industri gula di Kediri tumbuh pesat. Pabrik-pabrik baru bermunculan, seperti PG Meritjan yang didirikan oleh NILM pada tahun 1883, serta PG Karawasan, PG Garoem, PG Soemberdadi, PG Minggiran, PG Kentjong, PG Menang, dan PG Tegowangi yang dikelola oleh perusahaan perkebunan Handelsvereeniging Amsterdam (HVA).
Pada tahun 1911, Karesidenan Kediri memiliki 17 pabrik gula. Jumlah itu menjadikannya sebagai karesidenan dengan pabrik terbanyak kedua di Jawa Timur, setelah Karesidenan Surabaya yang memiliki 35 pabrik gula.
Pada dekade 1920-an, produksi gula melonjak. PG Pesantren melaporkan bahwa luas tanam tebu naik dua kali lipat, diiringi dengan peningkatan hasil produksi.
Pada tahun 1927, pabrik-pabrik gula milik HVA juga melaporkan panen mencapai 23,8 juta kuintal tebu dan 2,6 juta kuintal gula, dengan laba sebesar 15,5 juta gulden.
Namun, pada 1930-an, ketika krisis Malaise melanda dunia, industri gula menjadi salah satu sektor yang paling menderita. Hal ini disebabkan oleh anjloknya harga gula secara drastis.
Pemerintah kemudian mengambil keputusan untuk mengurangi area penanaman tebu. Dampaknya, banyak pabrik gula yang menghentikan produksinya secara sementara.
Menjelang akhir tahun 1930-an, ketika ekonomi dunia mulai stabil, pabrik-pabrik yang sebelumnya menghentikan produksinya perlahan-lahan kembali beroperasi.
Namun, masa kejayaan ini padam saat Jepang menduduki Indonesia. Lahan tebu dialihkan untuk tanaman pendukung perang. Akibatnya, banyak pabrik gula tutup secara permanen.
Penulis adalah Yulita Dyah Kusumasari, mahasiswa magang jurusan Ilmu Sejarah dari Universitas Airlangga Surabaya
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah