JP Radar Kediri- Memakai baju baru saat Lebaran telah menjadi tradisi yang melekat di masyarakat Indonesia. Kebiasaan ini bukan sekadar soal penampilan, tetapi juga memiliki akar sejarah dan nilai budaya yang dalam. Mulai dari ajaran Islam hingga pengaruh modernisasi, tradisi ini terus berkembang seiring waktu.
Di dalam Agama Islam mengajarkan umatnya untuk mengenakan pakaian terbaik saat Idulfitri sebagai bentuk syukur setelah menjalani puasa sebulan penuh. Rasulullah sendiri menganjurkan untuk memakai pakaian yang bersih dan pantas saat hari raya, meskipun tidak harus baru. Kebiasaan ini kemudian menyebar dan diadopsi oleh berbagai budaya Muslim, termasuk di Indonesia.
Mengenakan pakaian khusus saat hari-hari besar juga sudah menjadi kebiasaan sejak zaman kerajaan. Pada era-Kesultanan Demak dan Mataram Islam, misalnya, masyarakat memakai pakaian terbaik mereka untuk menghadiri perayaan keagamaan. Tradisi ini kemudian menyatu dengan ajaran Islam yang berkembang di tanah air.
Pada masa kolonial, pakaian menjadi penanda status sosial, di mana kalangan tertentu memiliki akses lebih mudah terhadap kain dan mode tertentu. Setelah Indonesia merdeka, pertumbuhan ekonomi dan meningkatnya daya beli masyarakat membuat kebiasaan membeli pakaian baru semakin umum, terutama menjelang Lebaran.
Peran industri ritel dan media semakin memperkuat tradisi ini. Iklan-iklan televisi sejak tahun 1980-an hingga saat ini gencar mempromosikan produk pakaian menjelang hari raya. Hal ini mendorong masyarakat untuk membeli baju baru sebagai bagian dari persiapan menyambut tradisi Lebaran.
Meskipun berawal dari nilai kesucian dan kebersihan dalam Islam, tradisi memakai baju baru saat Lebaran kini juga dipengaruhi oleh budaya konsumtif. Namun, pada intinya, mengenakan pakaian terbaik tetap menjadi simbol kebahagiaan dan rasa syukur di hari kemenangan. (*)
Baca Juga: Mengenal Selvedge Jeans & Potongan Celana Terbaik untuk Pria Gemuk: Tampil Stylish Saat Lebaran!
Editor : Puspitorini Dian Hartanti