JP Radar Kediri– Hari raya idul fitri sudah dekat, namun penentuan 1 syawal tetap menunggu pengumuman dari Kementerian Agama RI.
Adapula organisasi islam sudah menentukan lebih awal baik penentuan 1 Ramadhan maupun 1 Syawal.
Bahkan sering terjadi perbedaan penentuan tersebut. Ada beberapa metode dalam penentuan hilal, simak penjelasannya.
Hilal adalah istilah yang digunakan untuk menyebut fase bulan muda yang pertama kali terlihat setelah bulan baru atau konjungsi.
Dalam konteks penentuan waktu dalam kalender Islam, hilal menjadi sangat penting, khususnya dalam menentukan awal bulan baru dalam kalender hijriyah.
Dalam hal ini, hilal yang dimaksud adalah hilal yang menandai dimulainya bulan Syawal, yang merupakan bulan pertama setelah Ramadan, yang menandakan berakhirnya ibadah puasa selama sebulan.
Fenomena hilal terjadi saat bulan berada pada posisi antara bumi dan matahari. Ketika bulan baru muncul, bagian yang diterangi matahari belum terlihat dari bumi.
Beberapa jam atau beberapa hari setelahnya, bagian kecil dari bulan yang diterangi matahari mulai muncul di langit sebagai sabit tipis yang disebut hilal.
Metode Penentuan Hilal 1 Syawal tidak hanya didasarkan pada pengamatan mata manusia semata, tetapi ada beberapa metode yang digunakan untuk memastikan apakah hilal telah terlihat atau belum.
Ada dua metode utama yang digunakan dalam penentuan hilal, yaitu metode rukyah (pengamatan langsung) dan metode hisab (perhitungan astronomis).
Metode Rukyah (Pengamatan Langsung) ini pengamatan langsung terhadap langit untuk melihat apakah hilal 1 Syawal sudah tampak atau belum.
Metode ini sangat bergantung pada kondisi cuaca dan atmosfer, serta ketepatan pengamatan manusia.
Dalam metode rukyah, tim yang ditunjuk oleh otoritas agama atau lembaga terkait akan pergi ke tempat yang tinggi atau memiliki pandangan langit yang jelas, lalu mencari hilal setelah matahari terbenam.
Pengamatan hilal dilakukan pada hari ke-29 bulan Ramadan. Jika hilal terlihat, maka hari berikutnya sudah masuk bulan Syawal dan umat Islam dapat merayakan Idul Fitri.
Namun, jika hilal tidak terlihat pada hari ke-29, maka bulan Ramadan akan digenapkan menjadi 30 hari dan Idul Fitri akan dilaksanakan pada hari ke-31.
Lalu, ada Metode Hisab (Perhitungan Astronomis).
Metode ini dengan perhitungan astronomis yang didasarkan pada posisi bulan dan matahari yang dihitung menggunakan ilmu astronomi.
Metode ini menggunakan data posisi bulan, matahari, dan bumi yang diperoleh dari perhitungan matematis dan astronomis untuk memprediksi kapan bulan baru akan terjadi dan kapan hilal dapat terlihat.
Metode hisab memiliki kelebihan dalam hal akurasi dan kemudahan, karena tidak bergantung pada kondisi cuaca dan pengamatan langsung.
Namun, beberapa ulama berpendapat bahwa metode rukyah lebih sesuai dengan tradisi
Islam yang mengutamakan pengamatan langsung terhadap langit.
Oleh karena itu, meskipun metode hisab sangat berguna, sebagian besar negara-negara Muslim tetap lebih mengutamakan metode rukyah.
Ada juga kombinasi rukyah dan hisab. Di beberapa negara, kombinasi antara rukyah dan hisab digunakan untuk meningkatkan keakuratan dalam menentukan awal bulan Syawal.
Metode ini dilakukan dengan melakukan perhitungan hisab terlebih dahulu untuk memperkirakan apakah hilal kemungkinan bisa terlihat, dan kemudian dilanjutkan dengan pengamatan langsung untuk memastikan kebenaran perhitungan tersebut.
Jika hasil rukyah sesuai dengan prediksi hisab, maka hilal dianggap sah terlihat, dan hari berikutnya ditetapkan sebagai awal bulan Syawal.
Jika hilal tidak terlihat meskipun perhitungan hisab menunjukkan bahwa itu mungkin terjadi, maka bulan Ramadan tetap digenapkan menjadi 30 hari.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.