Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Gus Ahmad Memulai Dakwah Berlatar Belakang ‘Kepepet’

Hilda Nurmala Risani • Jumat, 28 Maret 2025 | 05:53 WIB
Nama lengkapnya Ahmad Kafabihi. Putra kiai kharismatik yang juga pengasuh Ponpes Lirboyo, KH Kafabihi Mahrus.
Nama lengkapnya Ahmad Kafabihi. Putra kiai kharismatik yang juga pengasuh Ponpes Lirboyo, KH Kafabihi Mahrus.

Sebagai cucu buyut pendiri Ponpes Lirboyo, Gus Ahmad tak pernah lepas dari kehidupan santri. Dia juga melanglang buana menimba ilmu agama di ponpes-ponpes besar tanah air. Toh, awal mulai berdakwah karena ‘kepepet’ situasi.

HILDA NURMALA RISANI, Kota, JP Radar Kediri

Nama lengkapnya Ahmad Kafabihi. Putra kiai kharismatik yang juga pengasuh Ponpes Lirboyo, KH Kafabihi Mahrus. Namun, sehari-hari biasa dipanggil dengan sapaan Gus Ahmad.

Gus Ahmad adalah cucu buyut dari pendiri Ponpes Lirboyo, KH Abdul Karim. Anak keempat dari sebelas bersaudara. Artinya, punya tiga kakak dan tujuh adik.

 “Ada yang berdomisili di sini. Ada juga yang di luar kota,” terang Gus Ahmad ketika ditemui di rumahnya beberapa waktu lalu.

Sebagai putra dari pengasuh salah satu ponpes besar di tanah air, Gus Ahmad sudah pasti sangat lekat dengan kehidupan para santri. Tak hanya menuntut ilmu di Ponpes Lirboyo saja. Melainkan juga pernah menimba ilmu agama di ponpes-ponpes besar di Indonesia.

“Saya lulus dari Ponpes Lirboyo pada 2011. Dilanjut belajar di Ponpes Tegal pada 2011 sampai 2013. Pada 2013 pertengahan hingga akhir menimba ilmu di Ponpes Kodran, Mojo. Tepat pada 2014 saya balik ke Ponpes Lirboyo untuk khidmat,” terang lelaki yang beristrikan Ning Sheila ini.

Awal terjunnya di dunia dakwah juga tak bisa dilepaskan dari kehidupan santri yang dia lakoni sejak kecil. Saat itu dia sering diminta berpidato oleh sang ayah.

“Awalnya terpaksa (berpidato) karena dimarahi orang tua. Lambat-laun, mau tidak mau harus bisa,” kenangnya.

Boleh dibilang Gus Ahmad memulai berdakwah di usia yang sangat belia. Ketika 18 tahun dia sudah sering dinasihati orang tuanya. Agar segera memulai melakukan dakwah. Alasannya, siapa lagi yang akan menyebarkan ilmu agama jiga bukan santri? Karena santri memang benar-benar mempelajari ilmu tersebut.

“Orang tua yang sering memotivasi saya. Meskipun berlatarbelakang kepepet, tapi akhirnya saya perlahan-lahan mau belajar,” akunya.

Soal keilmuan, Gus Ahmad lebih dari cukup. Dia tidak hanya menuntut ilmu di Ponpes Lirboyo saja. Juga mondok di tempat lain. Hal itu dia lakukan sejalan dengan para pendahulunya. Yang selalu belajar tidak cukup di satu tempat. Melainkan nyantri di banyak tempat.

Baca Juga: Selain Berdoa, Jemaah Rutinan Dzikrul Ghofilin juga Curhat ke Gus Sabuth Minta Saran

Contohnya adalah KH Abdul Karim, kakek buyut yang juga pendiri Ponpes Lirboyo. Sejak usia 14 tahun sang kiai sudah berpindah-pindah tempat menimba ilmu agama. Pernah mondok di Pesantren Trayang, Kertosono, Kabupaten Nganjuk.

Juga nyantri di Pesantren Sono di Sidoarjo, Pesantren Kedungdoro di Surabaya, serta Ponpes Tebuireng di Jombang. Bahkan, pernah pula dia berguru pada Syakhona Kholil, ulama kharismatik dan sangat dihormati dari Bangkalan, Madura.

Langkah itulah yang mencoba ditiru oleh Gus Ahmad. Berbekal ilmu yang mumpuni, dia bahkan tak hanya berdakwah. Juga menjadi tenaga pengajar, baik di dalam maupun luar ponpes.

Di dalam ponpes, Gus Ahmad mengajar di empat tempat. Di Hidayatul Mubtadiat Alqurani khusus putri, Pondok Al Baqarah Putra dan Putri, Haji Mahrus Ceria (HMC) khusus putra, serta tenaga pengajar di Ponpes Lirboyo Induk.

Memang, Ponpes Lirboyo telah berkembang pesat hingga saat ini. Tak hanya pondok induk saja. Melainkan ada pondok unit dan pondok cabang.

Untuk pondok unit ada sebanyak 15 ponpes. Sedangkan pondok cabang jumlahnya  tersebar di hampir wilayah Nusantara. Ada di Riau, Lampung, Majalengka, Tegal, Samarinda, Balikpapan, dan beberapa daerah lain.

“Total ada sekitar 25 pondok cabang Lirboyo (di Indonesia),” ujarnya.

Selain pengajar di internal ponpes, ada beberapa lagi yang diemban sang kiai muda. Termasuk menjadi dosen di Universitas Islam Tribakti Kediri.

“Saya juga menjadi  dosen di Universitas Islam Tribakti. Sebagai dosen tarbiyah,” tandasnya.

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di saluran  WhatsApp "Radar Kediri". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel. 

 

Editor : Ilmidza Amalia Nadzira
#radar kediri #Gus Ahmad #ponpes lirboyo kediri