Gus Sabuth berupaya meneruskan model dakwah yang dirintis oleh sang ayah, Gus Miek. Namun, tidak semua bisa dia tiru. Karena sang ayah memiliki karomah yang tidak dimiliki orang lain.
ASAD M. S., Kabupaten, JP Radar Kediri
Bila dihitung seluruhnya, jemaah Dzikrul Ghofilin bisa menacapai jutaan orang. Tersebar di kota-kota tanah air. Dari beragam kalangan dan usia. Ada yang ‘murni’ santri atau dari kalangan pesantren. Ada pula yang dari Islam ‘abangan’ atau bahkan berandalan.
Mengapa jemaah majelis dakwah ini sangat beragam? Tak bukan karena kelompok pengajian ini memang dicetuskan oleh KH Chamim Tohari Djazuli alias Gus Miek. Tokoh agama yang diyakini sebagai waliyullah. Yang dakwahnya menyasar ke semua golongan.
"Beliau memang dakwah ke semua kalangan. Termasuk mereka yang dianggap berandalan," jelas putera kedua Gus Miek, Agus Sabuth Panoto Projo alias Gus Sabuth
Motode dakwah Gus Miek pun lain dari yang lain. Sulit ditiru oleh kiai lainnya. Salah satunya adalah kemampuan sang kiai berbaur di masyarakat. Meskipun dari keluarga pesantren sejak muda Gus Miek lebih sering di tengah-tengah masyarakat. Pulang ke rumah hanya setahun sekali.
Tapi, buru-buru Gus Sabuth menegaskan, model dakwah seperti itu tak bisa ditiru. Apalagi secara sembarangan. Gus Miek bisa seperti itu karena memiliki ‘tugas khusus’ megayomi beragam kalangan. Membesarkran hati mereka agar memiliki kesempatan masuk surga.
"Itu adalah salah satu komitmen utama beliau," jelas kiai kharismstik itu.
Gus Sabuth menilai, sang ayah adalah manusia pilihan. Allah membekali dengan karomah yang tidak dimiliki orang lain. Bisa menginsyafkan penjudi dengan cara ikutan berjudi.
Saat berkumpul dengan para penjudi itu, menariknya, Gus Miek hanya mengenakan sarung dan kaus tanpa kantong. Tapi bisa meladeni tantangan berjudi selama 24 jam tanpa kehabisan uang. Hingga akhirnya, orang-orang di sekelilingnya keheranan dan insyaf dengan tidak berjudi lagi.
"Banyak kelebihan Gus Miek yang tidak dimiliki oleh orang-orang di zaman sekarang. Namun, sekali lagi, cara ini tidak bisa ditiru oleh sembarang orang karena itu adalah karomah khusus yang hanya diberikan kepada Gus Miek," jelas cucu dari KH Ahmad Djazuli Utsman.
Selain itu, Gus Miek tidak mudah menghakimi orang lain. Metode yang dia gunakan pun lembut. Bukan dengan menakut-nakuti dengan neraka atau dosa. Melainkan pendekatan yang membuat mereka perlahan berubah.
Gus Miek juga tidak pernah merasa lebih baik atau lebih tinggi dari orang lain. Semua orang adalah sama. Dan semua orang punya hak untuk masuk surga. Entah itu santri, entah itu berandalan. Maka dari itu, semasa hidupnya Gus Miek terus berdakwah pada semua kalangan.
Menurut Gus Sabuth, dalam Dzikrul Ghofilin pun, mengajak semua orang. Siapa saja boleh untuk imut zikir dan berdoa bersama dalam rutinan Dzikrul Ghofilin.
Karena tujuannya untuk mendekatkan diri kepada Allah. "Sambil menyadari bahwa kita ini bukan siapa-siapa" jelas salah satu penerus Penanggung Jawab acara Dzikrul Ghofilin itu.
Gus Sabuth juga berusaha menerapkan apa yang dilakukan Gus Miek. Tidak pernah menghakimi siapapun. Menganggap bahwa semua orang sama.
Ketika memberikan wejangan, dia juga tidak pilih-pilih orang.
Tapi, Gus Sabuth membatasi diri terjun langsung menemui berandalan seperti sang ayah. Menganggap bahwa itu bukan bidangnya. Dia tak memiliki kemampuan seperti Gus Miek.
"Keistimewaan beliau ini pun tidak diwariskan kepada siapa pun. Termasuk kepada anak-anaknya," aku dari ayah Ferry Chusnul Ma'ab, alias Gus Ferry.
Menurutnya, Gus Miek sebagai kekasih Allah sudah dimatikan hawa nafsunya. Ketika melihat keindahan dunia tidak terlena. "Kalau kita kan masih bisa terlena," aku Gus Sabuth.
Selain penuh kelembutan dan bisa mengayomi, menurutnya, Gus Miek juga selalu bisa menahan diri. Berdakwah di lingkungan yang minim agama pasti banyak penolakan dan cemoohan. Namun Gus Miek selalu sabar menghadapinya. Ketika dicemooh selalu tersenyum.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di saluran WhatsApp "Radar Kediri". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.
Editor : Ilmidza Amalia Nadzira