Mereka yang mengikuti majelis rutinan Dzikrul Ghofilin tak hanya bertujuan berdoa. Juga memanfaatkan kesempatan tersebut curhat ke Gus Sabuth. Meminta saran terhadap berbagai persoalan.
ASAD M. S., Kabupaten JP Radar Kediri
Kehadiran Gus Sabuth-panggilan akrab Kiai Agus Sabuth Panoto Projo-selalu dinanti jemaah rutinan Dzikrul Ghofilin di area makam KH Chamim Thohari Djazuli atau yang biasa dipanggil Gus Miek. Seperti Kamis malam-orang-orang biasa menyebut malam Jumat-di hari pasaran Kliwon lalu.
Begitu tiba di lokasi rutinan jemaah yang sudah datang lebih dulu langsung mengantre. Tak sekadar menanti giliran bersalaman dan meminta bantuan doa. Tapi juga mencurahkan isi hati mengenai berbagai persoalan yang mendera.
Ya, para jemaah itu memang ingin mendapatkan saran dari Gus Sabuth. Sekaligus meminta doa agar diberikan jalan terbaik oleh Allah terhadap semua persoalan.
Hingga acara zikir dan doa usai, masih banyak jemaah yang mengantre. Menanti kesempatan bisa bertatap muka dengan putra kedua Gus Miek tersebut.
Tentu saja waktu yang dibutuhkan tidak sebentar. Katakanlah setiap bersalaman dan meminta doa selama satu menit, bisa dibayangkan berapa yang dibutuhkan bagi puluhan jemaah.
Toh, Gus Sabuth tetap melayani dengan sabar. Hingga pukul 01.30 antrean belum juga habis. Dan sang kiai kharismatik ini tetap melayani dengan antusiasme tinggi.
"Saya merasa senang bisa mendengar cerita orang-orang," terang Gus Sabuth menggunakan bahasa Jawa Krama Inggil.
Ya, memang Gus Sabuth selalu menyempatkan diri mendengarkan curhatan dari jemaahnya. Ada yang menceritakan soal masalah ekonomi seperti utang-piutang. Ada yang bercerita soal kondisi kesehatan dan lain sebagainya.
Menurutnya, hal itu menjadi momen untuk bisa berbincang dengan jemaah. Agar kedekatannya bisa terus terjalin.
"Terkadang mereka hanya butuh didengar. Tentu juga dengan didoakan," jelasnya masih menggunakan bahasa Jawa Krama Inggil.
Dan memang salah satu tujuan dari Dzikrul Ghofilin adalah agar orang-orang yang punya banyak masalah ini bisa lebih tenang. Ini menjadi momen untuk mengingat Sang Khaliq.
Dengan banyaknya hiruk pikuk di dunia, terkadang membuat orang lupa dengan Tuhannya. Sehingga, ketika mereka bisa mengingat kembali, mereka bisa merasa tentram dan hatinya terhibur.
Gus Sabuth mengatakan, bahwa hal serupa sebelumnya juga dilakukan oleh Gus Miek. Dia mengatakan memang ayahanda berasal dari keluarga pesantren.
Tetapi sejak kecil Allah menakdirkan berada di luar lingkungan pesantren. Yaitu untuk mengayomi umat yang tak tersentuh dunia pesantren.
Hal itu pula yang membuatnya dekat dengan masyarakat awam. Sehingga, ketika Gus Miek masih hidup, banyak yang mencarinya untuk curhat tentang persoalan hidup mereka.
Hal itu yang diteruskan oleh Gus Sabuth. Dekat dengan masyarakat dan menjadi sarana bercurhat.
Gus Sabuth mengaku dia bukanlah seorang mubaligh atau penceramah. Sehingga, dia sendiri menyukai pendekatan-pendekatan semacam ini.
"Saya bukan mubaligh atau penceramah. Saya lebih cenderung tidak menasihati secara langsung. Melainkan hanya mengajak. Intinya, sebagai hamba Allah, kita harus menjalani kehidupan dengan baik. Tetap salat dan tetap berbuat baik meskipun dunia ini penuh cobaan," terang cucu dari KH Ahmad Djazuli Utsman dan Ny Hj Rodliyah Djazuli
"Di tengah situasi yang sulit ini, kita harus tetap menjalankan aktivitas baik tanpa menyakiti atau menyinggung orang lain. Gus Miek selalu mengajarkan untuk tidak pernah merasa lebih baik dari orang lain. Justru, orang-orang kecil yang sering diremehkan bisa lebih dulu masuk surga dibanding kita," jelasnya.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di saluran WhatsApp "Radar Kediri". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel
Editor : Ilmidza Amalia Nadzira