Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Teruskan Dzikrul Ghofilin, Gus Sabuth Paling Dikenal Jemaah

Muhamad Asad Muhamiyus Sidqi • Selasa, 25 Maret 2025 | 05:12 WIB
Photo
Photo

Dimulai oleh Gus Miek, amalan Dzikrul Ghofilin tetap eksis hingga sekarang.
Diteruskan oleh putera-puterinya, termasuk Gus Sabuth. Kini, jemaah majelis ini
mencapai jutaan orang.


ASAD M. S., Kabupaten, JP Radar Kediri

Kamis malam itu, area makam KH Chamim Thohari Djazuli-biasa dipanggil Gus
Miek-penuh sesak. Padah oleh orang-orang yang jumlahnya mencapai puluhan
ribu orang. Memadati setiap sudut di sekitar makam sosok yang dikenal sebagai
waliyullah itu.


Mereka adalah jemaah majelis Dzikrul Ghofilin. Datang dari pelosok Kediri dan
kota-kota di sekitarnya.

Setiap malam Jumat Kliwon itu memang bertepatan dengan berlangsungnya majelis yang melakukan amalan membaca Al-fatehah,asmaul husna, ayat kursi, istighfar, salawat, hingga tahlil itu.

Penuh khidmat para jemaah melafalkannya secara bersama-sama. Dipimpin oleh Gus Ferry Husnul Ma’ab. Pria muda yang biasa disapa Gus Ferry ini adalah cucu dari mendiang Gus
Miek. Anak dari Gus Sabuth Panoto Projo.

Saat itu Gus Sabuth-panggilan salah satu putera Gus Miek ini-belum datang. Baru
menjelang tengah malam, sekitar pukul23.30, sang kiai tiba di lokasi.

Yang langsung disambut antusias para jemaah. Berbondong-bondong bangkit dari duduk
dan menyalami putera kedua Gus Miek.

Sosok Gus Sabuth telah banyak dikenal masyarakat. Sebagai salah satu penerus
majelis Dzikrul Ghofilin yang jemaahnya hingga jutaan orang ini.

Meskipun saat awal dibentuk dulu, pengikutnya hanya puluhan orang saja.
“Majelis ini dimulai pada 1962. Saya belum lahir saat itu. Pesertanya juga masih
sedikit,” terang Gus Sabuth dalam bahasa Jawa krama.

Masih merunut cerita Gus Sabuth, pertama kali Dzikrul Ghofilin berlangsung di
Tulungagung. Konon, pesertanya saat itu hanya 30-an orang.


"Menawi bacaanipun tetep nggih dados wiwit tahun 1962 mboten wonten ingkang
diubah, nggih namung melulu menika, istighfar, salawat, fathihah, namung ngoten mawon (bacaan zikirnya tetap sejak tahun 1962 tidak pernah berubah, hanya itu
saja, istighfar, salawat, Alfatehah, hanya itu saja, Red)," lanjutnya menerangkan.

Tujuan majelis ini juga sederhana. Gus Sabuth mengatakan bahwa hidup ini berisi
antara kebahagiaan dan kesedihan. Dan, lebih banyak sedihnya.

Karena itu, Dzikrul Ghofilin bertujuan sebagai penghibur hati dan penentram jiwa.

“Dengan berzikir bersama, agar semua permasalahan, segala bentuk sakit, dan
segala persoalan hidup bisa mendapat pertolongan (dari Allah),” urainya, masih
dengan bahasa Jawa krama.

Secara makna, menurut Gus Sabuth, ghofilin artinya lupa. Sedangkan dzikrul
adalah bacaan. Bila digabung, dzikrul ghofilin, berarti bacaan atau zikirnya orang-
orang yang lupa.

Hakikatnya, orang yang lupa perlu mengingat Sang Khaliq. Agar bisa tenteram.
Hati bisa terhibur setelah mengingat Tuhan.

Cucu KH Ahmad Djazuli Utsman dan Ny Hj Rodliyah Djazuli itu menambahkan,
semasa Gus Miek hidup, semua putranya tidak ada yang ikut mengisi majelis.
Yang mengisi selalu Gus Miek sendiri.

Anak-anaknya hanya mengikuti. Menurut Gus Sabuth, cara Gus Miek mendidik anak-anaknya berbeda dengan kiai pada umumnya.

Dia tidak pernah mengajari atau mendidik anak-anaknya secara langsung. Melainkan dengan mengajak anak-anaknya untuk ikut serta, agar bisa belajar sendiri.
"Tidak pernah sekalipun beliau mengajarkan doa-doa secara langsung," terang Gus
Sabuth.

Pada 1993 saat usia Gus Miek 53 tahun, dia meninggal dunia. Walaupun tidak
pernah diajari untuk memimpin kegiatan Dzikrul Ghofilin, secara langsung anak-anaknya meneruskan.

Pada 1994 Gus Sabuth yang saat itu berusia 20-an tahun melanjutkan apa yang
sudah dirintis sang ayah. Menjadi pengurus untuk memimpin rutinan Dzikrul
Ghofilin.

"Secara naluri, saya merasa ingin langsung melanjutkan perjuangannya," terangnya.
Gus Sabuth-lah yang paling lama memimpin rutinan Dzikrul Ghofilin. Wajar bila
kemudian dia paling dikenal jemaah.

"Dalam acara malam Jumat ini, saya yang paling lama menjalankannya dan paling
dikenal oleh jemaah," imbuh kiai kharismatik ini.

Tapi, semua anak-anak Gus Miek juga sama-sama meneruskan perjuangan sang
ayah. Tetapi masing-masing memiliki wilayah dakwahnya sendiri.

Ada yang berdakwah di Pasuruan, Jember, Banyuwangi, dan daerah lainnya.
"Sedangkan saya sendiri bertugas di tempat yang berbeda (dari wilayah saudara-
saudaranya). Untuk kegiatan di makam Gus Miek, semuanya memiliki acara
masing-masing, tetapi yang paling lama saya," jelasnya.


Ayah dari Gus Ferry ini mengatakan, seiring berjalannya waktu, amalan dari
Dzikrul Ghofilin tidak pernah berubah.

Mulai dari isi dzikirnya dan bentuk kegiatannya, sama seperti saat Gus Miek yang memimpin.
"Mungkin yang membedakan setelah Gus Miek wafat adalah bahwa jemaahnya
semakin menyebar ke berbagai daerah,"jelasnya. 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di saluran  WhatsApp "Radar Kediri". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel. 

Editor : Ilmidza Amalia Nadzira
#radar kediri #Gus Sabuth #ponpes #gus miek