Kiai Jauhar Nehru, alias Gus Mahu, sudah berkeliling ke berbagai wilayah Indonesia. Bukan untuk berlibur, melainkan demi syiar Islam. Mengajarkan tentang ilmu Thariqah Qadiriyah wa Naqsabandiyah.
EMILIA SUSANTI, Kabupaten, JP Radar Kediri
Gus Mahu mengakui dirinya adalah tipe guru yang serius saat mengaji. Bukan karena kolot atau kaku. Tetapi lantaran ilmu harus dipelajari dengan serius. Tidak boleh main-main.
“Saya ngaji lebih cenderung serius. Karena memang dibutuhkan. Serius itu dibutuhkan. Karena pada prinsipnya ngencepne paku lak ga ditutuk itu nggak kenek (menancapkan paku kalau tidak dipukul itu tidak bisa, Red) Mbak,” katanya.
Namun demikian, Gus Mahu tetap melihat situasi. Tidak melulu serius. Ketika memang harus dengan cara bercanda, dia akan bercanda. Ataupun kalau harus menyindir, dirinya tak segan-segan menyelipkan sindirian. Yang jelas, Gus Mahu juga tidak mempermasalahkan bagaimana cara seseorang saat mengaji.
“Yang menggunakan guyon ya mangga (silakan, Red), kalau saya cenderung serius,” tekannya lagi.
Uniknya, Gus Mahu memilik aturannya sendiri saat mengisi pengajian di luar ponpes. Dia mengaku lebih fokus untuk mengisi pengajian yang membahas terkait tentang ilmu tarekat. Selebihnya, dia cenderung menolak. Alasannya, sudah banyak yang mengisi pengajian umum.
“Ya yang kaitannya dengan ilmu thariqah aja saya ngaji. Yang umum saya tidak,” jelasnya sembari mengatakan sudah pernah bersyiar ke Sumatra hingga Papua.
Meskipun sibuk memberi pengajian di luar, Gus Mahu terus mengajar di Pondok Raudlatul Ulum, Desa Kencong, Kecamatan Kepung. Saat Ramadan seperti saat ini, dia akan mengaji kitab tasawuf. Waktunya bakda Asar. Lalu seusai Tarawih mengaji tafsir Alquran.
“Kalau hari-hari biasa saya ngaji kitab Mu’tabar itu aja. Seperti Ihya, ngaji kitab tafsir Munir, itu, kitab-kitab itu. kalau jamnya itu saya tafsir itu habis Maghrib kalau Ihya malam kalau fikih itu sore,” cerita Gus Mahu.
Menariknya, Gus Mahu selalu memiliki prinsip yang dipegang teguh atas segala hal yang dilakukannya selama ini. Termasuk menjadi seorang guru seperti yang dilakoninya. Ternyata, ada motivasi kuat mengapa dirinya kukuh dalam mengajar hingga saat ini.
Dia menjelaskan bahwa ada sebuah perintah di mana seseorang wajib belajar mengenai agama. Antara lain belajar mengenai bagaimana ibadah itu sah, bagaimana tata cara ibadah, lalu bagaimana membersihkan hati dari nafsu, hingga kewajiban belajar akidah.
“Nah ini yang memotivasi saya untuk melanjutkan semua ini. Karena memang di mana ada perintah belajar, berarti kan, di situlah harus ada guru yang mengajarkan. Nah karena harus ada guru yang mengajarkan ini maka saya termotivasi untuk melaksanakan semua itu,” jelasnya.
Namun demikian, Gus Mahu bukan orang yang kaku dalam bersyiar. Tak melulu harus duduk di depan dengan sebuah bangku lalu jemaahnya di sudut yang berbeda untuk mendengarkan.
Agar ilmu yang dimilikinya tetap tersampaikan, Gus Mahu ternyata juga suka cangkrukan, alias nongkrong.
Cara itulah yang menurutnya masih efektif hingga saat ini dalam menyebarkan ilmu agama atau mengajak orang agar mau beribadah. Meskipun ada media sosial yang memiliki jangkauan lebih luas.
“Karena walaupun toh udah ada media yang bagaimanapun juga kita tidak meninggalkan cara tradisional, atau ketemu secara langsung ya. Karena ketemu secara langsung itu beda chemistry-nya ketika kita harus dengan cara media, dengan cara visualisasi. (Pendekatan) visualisasi ya (tetap berjalan, Red), tetapi juga kita pendekatan secara kongkow,” tandasnya.
Terakhir, Gus Mahu membagikan sedikit cerita awal mula dirinya dipanggil Mahu. “Saya dulu kecilnya nyebut nama Nehru nggak bisa, bisanya Mahu gitu. Akhirnya dengan kalimat itu sampai sekarang (orang-orang memanggil Mahu, red),” ceritanya.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di saluran WhatsApp "Radar Kediri". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.
Editor : Ilmidza Amalia Nadzira