Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Gus Mahu Melanjutkan Ajaran Tarekat Qadiriyah wa Naqsabandiyah Peninggalan sang Ayah

Emilia Susanti • Sabtu, 22 Maret 2025 | 05:11 WIB
Kiai Jauhar Nehru atau yang akrab disapa Gus Mahu mengasuh Ponpes Raudlatul Ulum bersama empat adik-adiknya dengan mengajarkan Tarekat Qadariyah wa Naqsabandiyah.
Kiai Jauhar Nehru atau yang akrab disapa Gus Mahu mengasuh Ponpes Raudlatul Ulum bersama empat adik-adiknya dengan mengajarkan Tarekat Qadariyah wa Naqsabandiyah.

Emilia Susanti, Kabupaten, JP Radar Kediri

Mengasuh Ponpes Raudlatul Ulum di Desa Kencong, Kandangan, Kiai Jauhar Nehru atau yang akrab disapa Gus Mahu membesarkan pondok bersama adik-adiknya. Mereka sepakat melanjutkan ajaran sang ayah yang telah dirintis puluhan tahun silam.

Sulung dari lima bersaudara itu sepakat membesarkan pesantren bersama empat adiknya. Mereka adalah Gus Muhammad Aufa, Gus Muhammad Nuril Anwar, Gus Ahmad Tuhfatun Nafi, dan terakhir Gus Bik Mukhtarudin. “Kami Kelola bareng-bareng,” ungkapnya.

          Meski mengelola pesantren bersama empat adiknya, Gus Mahu bersyukur tidak pernah ada selisih paham. Lima putra Kiai Zamrodji itu selalu kompak mengurus pesantren peninggalan almarhum ayah mereka.

          Sesekali, diakui Gus Mahu memang ada perbedaan pendapat. Namun, satu tujuan yang sama membuat kelimanya tak pernah berselisih. "Kalau ada yang kurang baik ya diluruskan. Tetapi perbedaan paham nggak ada," lanjutnya.

          Pondok yang didirikan sejak sekitar 1950 silam itu memang jadi salah satu rujukan di Kediri. Pesantren yang diasuh oleh Kiai Zamrodji Al-Mursyid itu kian dikenal pada 1957 silam.

          Jika awalnya hanya berupa masjid, belakangan berkembang menjadi pesantren hingga dinamai Raudlatul Ulum. Sebelum mendirikan pesantren, Kiai Zamrodji adalah santri di Ponpes Lirboyo. Selanjutnya, melanjutkan belajar ke Ponpes Darul Ulum, Jombang.

          Dari sana pula, Kiai Zamrodji mendapat ilmu Tarekat Qadiriyah wa Naqsabandiyah. Ajaran itu yang kemudian diterapkan di Ponpes Raudlatul Ulum. “Di sini (Kencong, Red) sudah mulai ada santri-santri yang ikut," terang Gus Mahu.

          Dari sana Ponpes Raudlatul Ulum berkembang sampai sekarang. Hingga saat ini, pondok tidak hanya mengajar tarbiyah seperti pesantren lainnya. Melainkan juga tarekat. Gus Mahu dan empat anak Kiai Zamrodji lainnya memang sudah sepakat melanjutkan ajaran sang ayah yang wafat pada 1999 silam itu.

          “Kami ini melanjutkan dan akan tetap mempertahankan ajarannya (Kiai Zamrodji, Red),” tuturnya

Dalam perjalanannya, mereka mengembangkan pesantren. Di antaranya dengan menyediakan pondok rehabilitasi orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) atau pengguna narkoba. Pondok rehabilitasi itu sekarang dikelola oleh Gus Ahmad Tuhfatun Nafi atau Gus Nafi.

"Sampai sekarang kami tetap melaksanakan apa yang telah menjadi perjuangan dari beliau-beliau, kami sifatnya hanya melanjutkan," tandasnya.

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.

Editor : Ilmidza Amalia Nadzira
#kiai #radar kediri #pondok pesantren #Santri kediri #ponpes raudlatul ulum