JP Radar Kediri - Gus Reza tidak hanya mengajar di kelas, di depan para santri. Atau cuma di perkuliahan saja. Sang kiai muda juga aktif memberi kajian di Majelis Al-Ihya'.
Namanya majelis Al-Ihya’. Majelis pengajian zikir dan istigotsah. Awalnya dibentuk Reza Ahmad Zahid, alias Gus Reza, untuk warga di sekitar kediamannya, di Ponpes Al-Mahrusiyah 3 di Kelurahan Ngampel, Mojoroto.
“Pada 2012 bikin dan nempat di rumah ini (di Ngampel, Red). Tahun berikutnya saya buka majelis pengajian. Dibantu masyarakat sekitar dan teman-teman,” cerita sang kiai.
Ketika dimulai dulu, tempatnya di samping rumah. Tujuannya sebagai acara doa bersama masyarakat sekitar. Mendoakan daerahnya sendiri. Dengan berzikir dan beristigotsah.
Jemaahnya pun juga tidak banyak. Hanya puluhan orang saja. Yang merupakan warga di sekitar kediaman Gus Reza.
Meskipun bertujuan doa bersama, majelis juga ditambahi kegiatan mengaji. Yang dikaji adalah kitab Riyadhus Shalihin. Buku karangan Imam Abu Zakariya Muhyiddin bin Syaraf An-Nawawi atau Imam Nawawi yang membicarakan soal hadis.
"Setelah dilakukan zikir dan istigotsah bareng, saya kaji, saya kasih penjelasan pada masyarakat tentang isi dari kitab itu," jelas Gus Reza.
Tujuannya, supaya masyarakat sekitar mendapatkan asupan ilmu. Karena menurutnya, yang namanya mengaji tidak harus di usia belia. Mengaji wajib bagi semua usia. Termasuk bagi jemaahnya yang rata-rata sudah berumur.
"Utlubul ilma minal mahdi ilal lahdi. Jadi semua usia, siapapun wajib ngaji. Wajib cari ilmu. Itu yang saya tekankan pada mereka. Kalian ini (para jemaah yang sudah berumur, Red) masih wajib ngaji," jelas Gus Reza.
"La terus kapan selesainya kewajiban ngaji? Yo lek wes mati. Kalau sudah mati baru selesai kewajiban ngaji dan mencari ilmu. Karena ngaji itu dari lahir sampai masuk ke liang lahat wajib untuk mencari ilmu. Ini yang kemudian saya buat satu stimulan untuk mereka dan memotivasi mereka agar mereka tetap mengaji walaupun toh di usia yang sudah banyak sudah sepuh tapi tetap mengaji ilmu. Ya tujuannya juga untuk membenarkan cara ibadahnya. Biar lebih sempurna, biar lebih khusyuk," imbuh ulama muda kelahiran 1980.
Nama Al-Ihya' memiliki makna mendalam. Gus Reza memberi nama itu bukan tanpa alasan. Artinya adalah ngurip-ngurip. Dalam bahasa Indonesia artinya menghidupkan.
"Muga-muga berkahe ngaji isa tambah urip-uripi. Barokah ngaji isa tambah uripi masyarakate, ibadahe. Uripe isa dadi temenan urip (mudah-mudahan berkah mengaji bisa semakin menghidupi. Berkah ngaji bisa semakin menghidupi masyarakatnya, ibadahnya, Hidupnya bisa menjadi hidup yang sejati, Red)," terangnya mengenai doa yang ditanamkan dari nama Al-Ihya'.
Gus Reza mengatakan, awalnya majelis ini hanya diikuti oleh warga sekitar saja. Berikutnya berkembang diikuti para wali santri. Berkembang lagi yang ikut adalah para alumni. Hingga akhirnya saat ini diikuti masyarakat luas.
"Sekarang kan majelis Al-Ihya' juga disiarkan secara live juga. Jadi bisa diikuti siapa saja dan di mana saja," jelasnya.
Untuk diketahui, kegiatan ini rutin dilakukan pada Ahad (Minggu) legi. Hari ini dipilih karena untuk menyesuaikan hari longgarnya para jemaah.
"Sempat beberapa kali ganti hari. Pertama Ahad legi pagi pukul 06.30. Setelah itu berubah jam 09.00 pagi. Terus berubah malam Ahad Legi, sabtu malam. Besoknya Ahad legi. Jadi masih di seputaran Ahad legi. Kenapa hari Ahad atau malam Ahad? Untuk longgarnya (waktu) jemaah," jelasnya.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah