KEDIRI, JP Radar Kediri- Latar belakang pendidikan, harus diakui, menjadi sebab luasnya wawasan Reza Ahmad Zahid alias Gus Reza. Program sarjananya dia tempuh di Yaman.
Kemudian, magister di Universitas Gajah Mada (UGM) Jogjakarta, serta gelar doktor dia raih dari Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya.
Semua faktor itu yang akhirnya membuat materi-materi pengajiannya enak didengar dan mudah diterima semua kalangan.
Yang mendatangi pengajiannya pun dari berbagai tingkatan generasi. Dari yang tua hingga yang muda.
“Mengaji (berdakwah, Red) di depan orang itu harus disesuaikan (dengan khalayaknya),” aku Gus Reza, terkait materi ceramahnya yang dianggap gampang dicerna.
Tapi, itu bila berhadapan dengan jemaah pengajian. Beda lagi metode yang digunakannya ketika mendidik santri.
Kadang, sedikit ‘memaksa’ agar sang santri segera bisa. Yaitu dengan metode yang dia namakan ‘teh celup’.
“Metode ini saya adopsi dari abah,” akunya.
Lalu, seperti apa metode ‘teh celup’ itu? Gus Reza kemudian menceritakan bagaimana ayahnya, KH Imam Yahya Mahrus, mendidiknya. Dengan cara mencelupkna atau menerjunkan agar berpraktik langsung.
Contohnya, ketika dia mencari perguruan tinggi untuk kuliah. Orang tuanya langsung memintanya berkulaih di Yaman. Mengambil jurusan syariah dan hukum di Al Ahgaff University.
Padahal, saat itu kemampuan bahasa Arabnya boleh disebut awam. Tak pernah kursus secara khusus.
“Saya langsung dikirim ke Yaman. Belum ada bekal bahasa Arab, langsung dicemplungkan. Dimasukkan untuk belajar,” ucap sang kiai muda mengenang saat-saat awal berkuliah pada 1999.
Dua bulan kemudian sang ayah meneleponnya. Langsung menggunakan bahasa Arab, tanpa diselingi bahasa Indonesia.
Tentu saja membuat sang anak jadi gelagapan.
“Lha wong bahasa Arab abah saya lancar. Beliau kan pernah enam tahun di Makkah-Madinan pada era 70-an. Tentu saja pas ditelepon saya gelagapan,” ceritanya.
Sang abah pun memarahinya. Kemudian, dia justru diminta pindah tempat tinggal.
Tak boleh yang ada orang Indonesianya dalam satu kamar. Harus kumpul dengan orang Arab.
“Saat itu juga saya harus angkat koper dan cari kamar,” ujarnya melanjutkan cerita.
Tapi, karena itulah Gus Reza jadi mahir berbahasa Arab. Karena itu adalah metode Kiai Imam mendidik Gus Reza.
Langsung dicelupkan agar punya pengalaman. Tak peduli masih belum punya bekal cukup.
Metode itu yang dia terapkan ketika menempuh pendidikan di Pakistan International Islamic University selama satu tahun.
Padahal dia belum menguasai bahasa Inggris, apalagi Urdu, yang menjadi dua bahasa resmi perguruan tinggi tersebut.
"Memang kalau ngajari itu beliau kadang pakai sistem teh celup. Langsung dimasukin agar belajar di dalamnya. Seperti belajar berenang dengan segala keterbatasan, yang penting bisa selamat," Gus Reza memberi kiasan.
Hikmahnya, dia kini memiliki wawasan yang luas. Menjadi modal untuk syiar Islam.
"Alhamdulillah wa syukurillah, semua ada hikmahnya dan saya merasakan hikmahnya tersebut," ucapnya syukur.
Metode teh celup ini yang juga dia terapkan pada santrinya. Selain memberi penjelasan materi, dia juga mengajak santri berpraktik.
Bentuknya dengan pengabdian atau khidmah. Santri diajak untuk mengabdi di pesantren, salah satu tujuannya untuk menerapkan ilmunya.
"Jadi selain pengajaran kitab, mereka juga diajarkan praktik. Tapi praktikumnya betul-betul dibebani. Bukan berarti yang memulasara itu ora. Tapi dibebani untuk tanggung jawab biar sungguh-sungguh," jelasnya.
"Everything what happen in pesantren adalah media edukasi, media pembelajaran untuk mereka. Mereka jadi santri ya belajar sebagai santri, mereka di pesantren ya belajar ngurusi santri," jelasnya.
“Siapa tahu nanti ngurusi masyarakat. Di sini ngabdi jadi guru, itu ada unsur pembelajarannya. Siapa tahu nanti dia bisa jadi guru besar di masyarakat," imbuhnya.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di saluran WhatsApp "Radar Kediri". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.
Editor : Jauhar Yohanis