KEDIRI, JP Radar Kediri- Ratusan santri itu tertawa kecil. Mendengar guyonan yang dilemparkan kiainya, Reza Ahmad Zahid.
Sedikit mengurangi fokus mereka yang sebelumnya terarah pada kajian kitab Tibyan fii Adabi Hamalatil Qur'an. Membuat suasana di aula Ponpes Al Mahrusiyah 3 menjadi sedikit rileks.
Mengikuti kajian kitab di siang hari, kemudian bertepatan dengan puasa, tentu sangat melelahkan. Beruntung, kepiawaian sang guru membuat suasana tidak terasa membosankan.
Memang, Gus Reza adalah ulama muda Kediri yang sudah dikenal secara nasional. Tak hanya mengajar di ponpesnya saja, juga sering memberi kajian di berbagai forum.
Kemahirannya berdakwah itu tidak didapat instan. Tapi dari latihan sejak kecil, saat masih menjadi santri.
Di Ponpes Al Mahrusiyah, tempat ulama muda ini menjalani kehidupan jadi santri, ada kegiatan jamiyah. Yaitu semacan ekstrakurikuler, di luar kegiatan mengaji rutin.
Bentuknya, ada pidato, ceramah, atau khutbah. Yang dilakukan di depan banyak santri.
“Waktunya setiap usai salat Isya, saat malam Jumat,” jelas cucu dari KH Mahrus Aly ini.
Hal itu membuat kemampuan public speaking-nya terasah. Ditambah lagi dengan kesukaannya mengaji menambah wawasan. Membuat kepiawaiannya berbicara di depan umu kian bagus.
Tak hanya itu, metode pembelajaran di ponpesnya saat itu juga mendukung. Ada kegiatan bernama musyawarah kelas.
Para santri di satu kelas punya sistem pengkajian materi yang diperolehd ari para pengajar.
"Jadi mengkaji bersama materi yang telah dipelajari pada minggu sebelumnya. Dalam musyawarah ini menunjuk satu orang yang namanya rais. Ini nanti akan memberikan penjelasan ulang tentang pelajaran yang dipelajari," kenang putra pasangan KH Imam Yahya Mahrus dan Nyai Hj Zakiyatul Miskiyah ini.
Nah, Gus Reza diangkat menjadi rais. Dia yang bertanggung jawab memahamkan teman-temannya.
Karena itu dia pun perlu mempelajari semua. Membuat kemampuannya kian terasah.
Setelah itu, Gus Reza pun akhirnya mengisi kajian. Meskipun masih di lingkup ponpes dan kampus Universitas Islam Tribakti Lirboyo.
Kali pertama mengisi pengajian di depan masyarakat umum terjadi pada 2004. Saat itu, Kiai Imam, sang abah, mendapat undangan mengisi pengajian di Ponpes Wali Songo Lampung.
Padahal, saat itu tengah berada di luar negeri. Sebagai anak pertama, Gus Reza pun diminta menggantikan.
"Pada waktu itu saya berumur 23 tahunan. Diminta Abah untuk mewakili beliau mengisi pengajian di Lampung," ceritanya.
Uniknya, sebenarnya ada tiket pesawat yang disediakan oleh panitia. Namun, oleh Kiai Imam, Gus Reza tak boleh menggunakannya.
"Awakmu wis kaya kiai gede ae, gaya dadak gawe pesawat (kamu seperti kiai besar saja naik pesawat, Red)," kenang Gus Reza, mengulang perkataan ayahnya saat itu.
"Rausah, numpak bus wae, nyegat ning mburine aula muktamar (tak usah, naik bus saja. Menunggu di belakang Aula Muktamar, Red) ," Gus Reza masih menirukan ucapan sang ayahanda.
Sesuai arahan, Gus Reza pun berangkat dengan naik bus. Hanya ditemani satu santri senior.
Setibanya di Lampung, ternyata yang datang tidak hanya masyarakat umum. Juga barisan ulama dan pejabat Pemerintah Provinsi Lampung.
Meskipun tak ada yang kenal dengan dirinya, Gus Reza tetap memberanikan diri menjalankan tugas.
"Saya jalan gitu saja. Walaupun toh orang tidak kenal saya. Kemudian saya pun juga berdoa terus semoga nanti saya ngomongnya lancar. Saya di depan orang gak grogi," kenangnya.
Saat itu, tema yang diminta untuk dibawakan adalah "Interaksi sosial antar-umat beragama. Menggalang persatuan dan kesatuan umat".
Berbekal keilmuannya di pesantren dan studinya, serta public speaking-nya saat di pondok, pengajian yang dibawakannya pun lancar.
"Alhamdulillah lancar dengan standar lancar yang sangat minim sekali. Yang penting saya sudah melaksanakan tugas," kenangnya lagi.
Dia mengaku bahwa itu menjadi momen yang sangat diingat. Juga menjadi momentum awal dia mengaji di depan masyarakat umum.
"Tidak akan dilupakan hingga yaumil qiyamah," candanya diiringi tawa renyahnya.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di saluran WhatsApp "Radar Kediri". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah