Kisah Perjalanan Pondok Pesantren Al Falah Ploso Kediri (10)
Berkiblat pada kurikulum salaf Tebuireng, bagaimana sebenarnya kegiatan santri di Ponpes Al Falah, Ploso?Seperti dirintis KH A. Djazuli Utsman pasca-1950, aktivitas mereka benar-benar padat.
Tidak seperti kurikulum pemerintah, tingkat pendidikan di Ponpes Al Falah, Ploso hanya terdiri dari madrasah ibtidaiyah (MI, 3 tahun) dan madrasah tsanawiyah (MTs, 4 tahun). Tidak ada lagi madrasah aliyah (MA) sebagai tingkatan di atasnya.
Namun, tamatan MTs pesantren ini bisa disetarakan dengan tamatan MA kurikulum pemerintah. Karena itu, mereka pun bisa langsung melanjutkan pendidikannya ke perguruan tinggi. “Kami sudah ikut penyetaraan. Jadi, ijazah kami diakui,” ujar Fahim Ruyani, ketua Ponpes Al Falah.
Untuk diketahui, santri Ploso rata-rata adalah usia tamatan sekolah dasar (SD). Karena itu, bisa dimaklumi jika MI Al Falah bisa disetarakan dengan MTs kurikulum pemerintah sedangkan MTs-nya disetarakan dengan MA kurikulum pemerintah.
Karena itu pula, bisa dimaklumi jika setiap tahun ada saja santri Ploso yang melanjutkan pendidikannya ke perguruan tinggi. Baik di dalam negeri maupun luar negeri. Untuk di dalam negeri, mereka biasanya masuk ke IAIN atau STAIN.
Adapun untuk luar negeri, biasanya tamatan Ploso diarahkan ke perguruan tinggi di Mesir dan Yaman. Semisal di Universitas Al Azhar, Kairo atau Universitas Al Ahqaf, Hadramaut. Bukan ke Arab Saudi seperti Universitas Ummul Qura, Makkah.
Ini terkait alasan madzhab. Mesir dan Yaman masih welcome dengan aliran Sunni sedangkan Arab Saudi sudah dikuasai oleh Wahabi. “Kami tidak ingin santri dari sini ikut terpengaruh (oleh Wahabi),” terang Fahim seraya mengatakan rata-rata ada 3-5 santri setiap tahun yang melanjutkan pendidikannya ke Mesir atau Yaman.
Fahim menambahkan, Al Falah juga sudah bekerja sama dengan STAIN Kediri. Dengan kerja sama ini, tamatan MTs-nya bisa langsung masuk dalam program akselerasi. Sehingga, jika mahasiswa non-akselerasi membutuhkan waktu minimal tujuh semester (3,5 tahun), mereka bisa menempuhnya hanya dalam empat semester. “Jadi, dua tahun bisa menyelesaikan kuliah,” tambahnya.
Diistimewakannya tamatan MTs Ploso dalam beberapa hal itu bukan tanpa alasan. Selama menempuh pendidikan dengan sistem salaf di pesantren tersebut, mereka memang digembleng dengan jadwal yang ketat. Dari bangun tidur hingga tidur lagi, waktu mereka seolah dipenuhi dengan rangkaian pengajian yang harus diikuti. Ngaji. Ngaji. Ngaji. Dan, kitab. Kitab. Kitab.
Hampir tak ada waktu luang, termasuk saat libur sekalipun. Sebab, Jumat –yang menjadi hari libur madrasah—tetap saja ada jadwal pengajian yang bisa diikuti mulai pagi hingga malam. Hal itu ditempuh selama tujuh tahun.
Untuk pagi hingga siang, mereka wajib mengikuti pendidikan formal yang menggunakan sistem klasikal. Di sinilah ada kurikulum yang telah disusun dan wajib diikuti oleh santri. Sedangkan, siang sampai malam, ada pendidikan nonformal yang menggunakan sistem nonklasikal. Santri mengikuti sesuai dengan kemampuannya.
Baca Juga: Berawal dari 12 santri, Ponpes Al Falah Kini Dihuni Lebih dari Tiga Ribu Lebih Santri
Untuk pendidikan klasikal tingkat ibtidaiyah, kurikulumnya diprioritaskan untuk pembinaan akhlak, pengembangan wawasan sosial, menulis huruf Arab, serta tajwid dan pengenalan nahwu (dasar gramatika bahasa Arab) untuk masuk ke jenjang MTs.
Adapun untuk tingkat tsanawiyah (yang disetarakan dengan aliyah), ditekankan pada nahwu-sharaf (gramatika) dengan referensi kitab-kitab yang lebih masyhur, fiqh (hukum Islam), faraidl (ilmu hukum waris), risalatul mahidl (problem di seputar darah kewanitaan), dan qowaidul i’rob (kaidah tata bahasa).
Sementara itu, untuk sistem nonklasikal, Al Falah menerapkan model sorogan, bandongan, dan wetonan sebagaimana dirintis oleh KH Ahmad Djazuli Utsman saat mengawali pendirian pesantren tersebut. Ini semacam sistem mentorship, yakni bimbingan langsung dari kiai kepada santrinya.
Meskipun nonklasikal, santri juga wajib mengikutinya. Khususnya setelah Asar dan Magrib. Hanya, santri diperbolehkan memilih salah satu kajian kitab sesuai dengan kemampuan dan kebutuhannya. Kitab-kitab itu meliputi kajian fikih, bahasa, tafsir/hadis, serta tasawuf/tauhid/akhlak. Kajiannya ada yang berlangsung hingga pukul 22.30 malam.
Khusus untuk santri-santri senior yang telah menamatkan pendidikan formal, wajib mengikuti jenjang di atasnya. Yaitu, riyadlatut thalabah. Jenjang ini difokuskan pada kemandirian berpikir serta keberanian mengambil keputusan dengan bertanggung jawab dan benar. Khususnya, dalam masalah-masalah fikih sesuai perkembangan masyarakat.
Jenjang ini pun dibagi lagi dalam tiga fraksi. Yaitu, kajian fathul qarib (1 tahun), kajian fathul mu’in (1 tahun), dan fathul wahab (3 tahun). Pada tingkat fathul wahab inilah santri diajarkan bagaimana para imam madzhab berijtihad dengan referensi ayat-ayat Alquran, As Sunnah, ijma’, dan qiyash. (*)
Editor : Jauhar Yohanis