Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Berawal dari 12 santri, Ponpes Al Falah Kini Dihuni Lebih dari Tiga Ribu Lebih Santri

Redaksi Radar Kediri • Rabu, 12 Maret 2025 | 20:38 WIB
Ngaji  di Ploso
Ngaji di Ploso

Kisah Perjalanan Pondok Pesantren Al Falah Ploso Kediri (9)

Berkiblat pada Kurikulum Salaf Ponpes Tebuireng

Al Falah kembali berbenah pada 1950 setelah Belanda benar-benar angkat kaki. Jumlah santri yang berdatangan juga terus bertambah hingga mencapai lebih dari 400 orang.

Karena bangunan lama dirasa tidak mencukupi, Kiai Djazuli bersama para santri membangun lagi sebuah asrama yang diberi nama kompleks B (Al Badar). Ini dilakukan pada 1952.

Seiring dengan pengembangan fasilitas tersebut, kurikulum pendidikannya juga diperbaiki. Jika di awal babat Kiai Djazuli mengikuti kemauan santri, kali ini diperbarui dengan jadwal yang sangat padat.

Yang dijadikan rujukan adalah Ponpes Tebuireng, Jombang asuhan KH Hasyim Asy’ari. Akan tetapi, tetap menggunakan sistem salaf murni.

Pada 1957, Al Falah menambah lagi dua unit bangunan pondok (asrama) yang diberi nama kompleks G (Al Ghazali) dan kompleks H (Hasanuddin). Untuk anak-anak kampung sekitar yang ingin ngaji, Al Falah membuka madrasah lailiyah (kelas malam). Karena jumlah santrinya terus bertambah, pada 1962 dibangun lagi bangunan pondok yang diberi nama kompleks AA (Al Azhar).

Kiai Djazuli juga sudah tidak mungkin lagi mengajar sendiri satu per satu santri. Saat awal-awal babat pada 1924/1925, hal itu masih mungkin dilakukan dengan sistem sorogan.

Kiai Djazuli membacakan kitab sekaligus makna gandulnya, lalu santri diminta mengulangnya secara bergantian. Akan tetapi, dengan semakin banyaknya santri, sebagian tugas-tugas pengajaran dilimpahkan kepada santri yang lebih senior. 

Bersama dengan perjalanan waktu, Kiai Djazuli juga mendidik sendiri putra-putrinya untuk disiapkan sebagai penerus.

Hingga, ketika Kiai Djazuli wafat pada 10 Januari 1976 bertepatan dengan 10 Muharam 1396 H, kepempimpinan Al Falah diserahkan kepada putra tertua yang masih hidup, Ahmad Zainuddin Djazuli (Gus Din).

Untuk diketahui, sebenarnya, total ada sebelas putra-putri yang dilahirkan dari rahim Bu Nyai Djazuli. Akan tetapi, lima di antaranya sudah dipanggil Sang Khalik ketika masih kecil. Mereka adalah Siti Azzah (putri pertama, meninggal usia setahun); Hadziq (putra kedua, meningga usia 9 bulan); Mahfudz (putra ketujuh, meninggal usia 3 tahun); Makmun (putra kedelapan, meninggal usia 7 bulan); dan Su’ad (putra kesebelas, meninggal usia 4 hari).

Adapun enam putra-putri lain adalah Ahmad Zainuddin, Nurul Huda, Hamim Thohari, Fuad Mun’im, Munif, dan Lailatul Badriyah.

Saat ini (2025) generasi kedua Al Falah tinggal 2 orang. KH Nurul Huda dan Nyai Lailtul Badriyah. Mereka dibantu para cucu pendiri.

Selain di lokasi berbeda dengan pondok induk, didirikan pula Ponpes Queen Al Falah. Didirikan pada 1997-1998 untuk mewadahi santri-santri yang ingin mendapatkan pendidikan umum. Kurikulumnya pun mengikuti kurikulum yang dibuat oleh negara. Jika semula hanya ada madrasah tsanawiyah (MTs), sekarang ada sekolah menengah kejuruan (SMK) dan madrasah aliyah (MA)-nya

Editor : Jauhar Yohanis
#kediri #mojo #Pondok Ploso #ramadan #pesantren