Ketika Gus Miek Menyamar, Gus Din Tidak Mengira ‘Pengemis’ Itu Adiknya
Redaksi Radar Kediri• Selasa, 11 Maret 2025 | 16:16 WIB
KH. Zainuddin Jazuli
Kisah-kisah perjalanan Pondok Pesantren Al Falah Ploso Kediri (7)
Gus Miek dianggap mempunyai kelebihan di luar kemampuan lazimnya manusia. Pengikutnya menilai hal itu sebagai bagian dari karomahnya. Tapi, bagaimana pendapat saudaranya?
KH Zainuddin Djazuli (Gus Din), kakak Gus Miek, mengaku tidak pernah melihat sendiri berbagai ‘kelebihan’ yang beredar dari mulut ke mulut itu. Baik cerita tentang kemampuan Gus Miek menundukkan harimau saat masih anak-anak, ‘membelah’ diri di banyak tempat pada waktu bersamaan, terbang dan berjalan di atas air, hingga bertemu Nabi Khidir dan berguru pada ikan raksasa di Sungai Brantas.
Semua hanya merupakan cerita yang berkembang di masyarakat. “Gus Miek sendiri tidak pernah bercerita kepada kami, saudara-saudaranya, hal-hal seperti itu,” ujarnya saat ditemui di sela-sela persiapan Haul KH Ahmad Djazuli Utsman di Ponpes Ploso, November 2011.
Untuk diketahui, selama ini cerita-cerita semacam itu memang beredar dari mulut ke mulut tanpa ada yang berani membuktikan kebenarannya. Meski demikian, banyak yang memercayai bahwa Gus Miek memiliki kelebihan itu semua. Hal itu merupakan karomah yang diberikan Allah kepada seorang wali sebagai kekasih-Nya. Semacam mukjizat yang diberikan kepada seorang nabi.
Gus Din mengatakan, yang mengemuka dari sosok Gus Miek bagi saudara-saudaranya justru kecerdasannya. Hal itulah yang melebihi mereka semua. Gus Miek juga termasuk sosok yang sangat rajin untuk belajar. “Saya sendiri kalah sama Gus Miek,” katanya.
Sebagai buktinya, lanjut Gus Din, Gus Miek bisa merampungkan semua ‘kurikulum’ di Ponpes Al Falah lebih cepat dari semua saudaranya. Termasuk, menyelesaikan pelajaran Kitab Alfiyah Ibnu Malik (kitab pelajaran bahasa Arab yang dianggap paling tinggi di pondok pesantren, Red) ketika yang lain belum bisa menyelesaikannya.
Baru setelah merampungkan pendidikannya di Al Falah itulah Gus Miek ke Ponpes Lirboyo sebelum kemudian berkelana dari satu tempat ke tempat lain untuk menimba ilmu. “Jadi tidak benar kalau Gus Miek itu tidak pernah belajar dan tiba-tiba bisa. Gus Miek itu orang yang sangat cerdas dan santun, menghormati orang yang lebih tua,” tutur putra ketiga Kiai Djazuli ini.
Kalaupun ada yang dianggap sebagai ‘keanehan’ dari Gus Miek, adalah cara-cara dakwahnya yang memang berada di luar mainstream ulama. Dalam istilah dunia modern, Gus Miek adalah sosok yang out of the box. “Memikirkan dan mengerjakan apa yang belum dipikirkan dan dikerjakan oleh ulama lain. Di situ Gus Miek masuk,” jelasnya.
Metode dakwah yang ‘out of the box’ itulah yang sering dijumpai Gus Din dan saudara-saudara Gus Miek yang lain. Dalam hal ini, jika banyak orang luar yang memandang aneh Gus Miek, Gus Din dan adik-adiknya bisa memahami.
Seperti kebiasaan Gus Miek yang tiba-tiba menghilang dari rumah dan membuat bingung ayahnya, Kiai Djazuli. Gus Din sendiri mengaku pernah diutus oleh ayahnya untuk mencari Gus Miek hingga ke Jogja.
Dicari ke mana-mana, akhirnya Gus Din menemukan Gus Miek di Jalan Malioboro. Tapi, pakaiannya tidak sebagaimana anak seorang kiai. “Bawa tas dari anyaman bambu dan meminta-minta seperti pengemis,” kisah Gus Din seraya mengaku bahwa dia sendiri tidak tahu jika sosok itu adalah adiknya sendiri hingga diberi tahu oleh orang lain. “Hal-hal seperti itulah yang akhirnya kami anggap biasa,” tuturnya. (*)