KEDIRI, JP Radar Kediri- Usianya yang sudah puluhan tahun membuat jumlah jemaah Pondok Al Ishlah mencapai ribuan. Mereka terdiri dari santri yang mukim serta warga yang ada di luar pondok.
Hal itu membuat jadwal Agus Ahsinil Umam, alias Gus Ahsin, menjadi sangat padat. Hampir setiap hari mengisi pengajian.
Pagi hingga siang memberi materi ke santri pondok. Sedangkan sore hingga malam hari ke kelompok-kelompok pengajian yang dibentuk masyarakat.
Apalagi ketika Minggu, bisa usai Subuh hingga setelah Isya.
“Waktu pengajian saya setiap harinya fleksibel. Tetapi yang jelas waktu Ahad (Minggu, Red) bisa dari pagi hingga malam,” jelasnya.
Khusus di dalam ponpes, Gus Ahsin memberikan materi ke santri berdekatan dengan salat fardu. Usai salat di kala Subuh, Duhur, dan Asar. Sedangkan ketika Maghrib dan Isya sebelumnya.
Yang diberikan adalah Maharah al-Kitabah atau biasa disebut Kitabah. Merupakan keterampilan tertinggi dari empat keterampilan berbahasa.
Santri akan melakukan kegiatan menulis. Yang memiliki hubungan dengan proses berpikir serta menuangkan ekspresi.
Selain fokus ke santri, Gus Ahsin tak melupakan perannya melakukan syiar Islam ke masyarakat. Dia rutin menghadiri pengajian yang dibentuk kelompok atau komunitas.
“Pengajian saya dilakukan dengan anjangsana kepada masyarakat. Ada yang pengajian rutin setiap satu bulan sekali. Ada juga yang diadakan setiap dua bulan sekali hingga tiga bulan sekali,” jlentreh sang kiai muda.
Beberapa di antaranya ada yang rutin berlangsung setiap Ahad. Mulai pagi hingga malam.
“Ada grup namanya Al Ibris, Al Mabrur, dan Al Misfalah. Ada banyak lagi tergantung masing-masing daerah ingin memberikan nama kelompok pengajiannya apa,” jelasnya, sembari menyebut masyarakat memiliki semangat tinggi dalam memperoleh ilmu agama.
Sehingga dirinya harus memiliki semangat yang lebih dari mereka.
Memang, ada perbedaan metode Gus Ahsin dalam syiar Islam dibanding ulama lain. Jika beberapa gus memilih mendatangkan jemaah, dia justru mendatangi tempat-tempat yang telah ditentukan oleh jemaah.
Dia mengibaratkan metode tersebut seperti sumur dan ceret. Kalau sumur, masyarakat akan mencari ke sumbernya, pondok pesantren.
Sedangkan ceret atai teko ibarat menuangkan air ke tempat yang telah disediakan. Menuangkan ilmu dengan mendatangi jemaahnya.
Tak hanya itu, Gus Ahsin dalam berdakwah juga tidak membedakan golongan masyarakat. Semua dia lakukan secara egaliter dan humanisme.
Dakwah di kelompok penderita disabilitas pun juga dia lakukan.
“Pernah punya pengalaman melakukan dakwah di jemaah disabilitas. Tentu sedikit sulit tetapi saya melihat rasa ingin tahu mereka tinggi. Oleh karenanya, dakwah yang saya lakukan hampir menyasar semua sektor,” kenangnya.
Dalam berdakwah ini, ilmu yang disampaikan oleh Gus Ahsin juga tidak sembarangan. Biasanya materi yang disampaikan tergantung dengan permintaan jemaah.
Terutama kaitannya dengan ilmu tafsir, kehidupan sehari-hari, dan nasihat kehidupan.
Untuk mendukung terserapnya ilmu yang disampaikan, dia juga menyiapkan bahan ajar atau materi yang telah dicetak dan digandakan sesuai dengan jumlah jemaah.
Cara ini dilakukan agar materi yang disampaikan lebih terstruktur dan bisa diingat serta dipelajari jemaahnya sampai kapanpun.
“Sebelum mengisi pengajian, kami mencari referensi terlebih dahulu. Materi apa yang akan disampaikan hari ini lalu dikemasnya dalam bentuk modul tipis seperti ini,” ucapnya sembari menunjukkan lembaran kertas berisi materi yang telah dijilid.
Bagi Gus Ahsin, beberapa metode dakwah telah dia coba. Mulai offline hingga online.
“Sudah pernah mengaji secara online. Tetapi yang menyiapkan dari pihak yang mengundang. Kalau untuk saat ini belum terfikir ke arah sana. Sebab perlu tenaga dan keahlian khusus untuk melakukannya,” terangnya saat ditanya mengenai dakwah secara online. (fud)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di saluran WhatsApp "Radar Kediri". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah