JP Radar Kediri - Bagi Gus Ahsin, figur ayah menjadi sosok paling menginspirasi. Menjadi motivasi besar dalam jalan dakwah. Tantangan dan cobaan seberat apapun justru menjadi cambuk agar tetap konsisten.
Memang, bila melihat usia, Agus Ahsinil Umam alias Gus Ahsin, terjun ke jalan dakwah masih relatif muda.
Memulainya pada 19 tahun lalu, ketika dia masih berusia 27 tahun.
Tapi, bila bicara soal keilmuan, jangan ditanya.
Ilmu agamanya dia peroleh tak hanya dari Ponpes Al Ishlah. Dia masih memperdalam di berbagai pondok pesantren lain. Mulai yang ada di Jawa Timur hingga Jawa Barat.
Gus Ahsin pernah menimba ilmu di Ponpes Langitan Tuban. Juga di Ponpes Ma’hadul Ilmi Asy Syar’ie, biasa dikenal dengan Ponpes MIS Sarang, Rembang Jawa Tengah.
Juga memperdalam pengetahuan agamanya di Ponpes Cidahu, Pandeglang Jawa Barat.
“Hanya tabarukkan saja. Istilahnya ngalap berkah dari Allah SWT,” ucap lelaki berputera tiga ini merendah.
Ngalap berkah tersebut, menurutnya, adalah mengharapkan keberkahan ilmu yang dia dapat dari Allah SWT.
Toh, meskipun punya latar belakang keilmuan yang tak bisa dipandang sebelah mata, masih saja ada yang menyepelekan.
Omongan miring tentangnya sering dia dengar. Tapi, itu tak membuatnya berkecil hati. Dia tak memedulikan apalagi memusingkan pendapat orang pada dirinya.
Sebab, baginya, dalam hidup pasti tak luput dari rasa suka dan benci oleh orang lain.
“Apapun kondisinya yang penting tetap berbuat baik saja. Omongan orang cukup dijadikan bahan introspeksi diri sendiri saja,” dalihnya.
Baca Juga: Karomah Gus Miek, Ditiupkan Asap Rokok, Waitress Langsung Kapok
Gus Ahsin menambahkan, selagi tidak merugikan orang lain, harus tetap teguh pendirian di jalan dakwah.
“Pesan dari sesepuh harus ajeg dan jejeg. Sehingga ada badai seperti apapun tetap kokoh di jalur kebenaran dan kebaikan,” ucapnya memberi petuah.
Pesan seperti itu yang selalu digaungkan ayahnya, KH Thoha Muid. Kebetulan, sosok yang memberinya inspirasi dalam berdakwah adalah sang ayah.
Karena itu, banyak pesan dan ilmu yang dia peroleh dari sang ayah dia tularkan lagi ke orang lain.
Karena menjadikan sang abah-panggilan lain pada ayah-sebagai panutan, tak heran bila metode dakwahnya juga banyak kesamaan. Yang membedakan adalah dia hidup di zaman yang berbeda.
“Kalau saat ini kan sudah gen Z dan gen Alpha. Tentu penyampaiannya akan berbeda dengan generasi dahulu,” paparnya, sembari menyebut perbedaan santri dahulu dengan sekarang ini.
Zaman dahulu. ketika santri dipanggil oleh pengasuh pondok atau gurunya langsung bergegas datang. Sedangkan saat ini, perlu pendekatan ekstra untuk bisa membentuk karakter seperti itu.
Baginya, semua permasalahan tidak menjadi masalah besar. Karena dia sadar perjuangan dalam berdakwah berliku-liku. Yang pasti, dia melakukannya dengan tiga cara.
Tiga cara itu adalah, pertama, berdakwah dengan ucapan yang sesuai dengan Alquran dan hadis. Kedua, dengan tingkah laku. Memberi suri teladan yang baik bagi orang lain.
Kemudian, terakhir, dengan berdoa. Cara ketiga ini dilakukan ketika dakwah ucapan dan tingkah laku tidak mampu mengatasi. Sehingga jalan satu-satunya adalah mendoakan agar segera mendapat hidayah dari Allah SWT.
Selain model dan metode dakwah yang sama dengan sang abah, pendekatan ke santri pun juga diduplikasi. Misal dalam cara memanggil santri, sang abah dulu selalu dengan panggilan ‘coh’. Kini, dia pun melakukan serupa.
“Coh coh ayo ngaji. Coh coh ayo jamaah. Itu kalimat yang paling sering keluar dari mulut abah saya kepada santrinya,” kenangnya sembari menjelaskan makna kata coh yang dimaksudkan adalah kang santri.
Tak hanya sang abah, sang paman-KH Abdurrahman pun merupakan pembakar semangatnya dalam berdakwah.
Kakak dari ayahnya itu punya semangat luar biasa dalam melakukan syiar Islam.
“Paman saya ini luar biasa dalam berdakwah. Kondisi hujan tidak menghalangi langkahnya. Dengan sepeda ontelnya dia mendatangi jemaahnya yang ada di seluruh wilayah Kediri,” tuturnya.
Melihat keikhlasan sang ayah dan paman dalam mengamalkan amar maruf nahi mungkar menjadikan motivasi untuknya agar terus berjuang. Terutama melalui jalan dakwah.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di saluran WhatsApp "Radar Kediri". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah