Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Kisah Sahabat Rasul: Tangis Pilu Ali bin Abi Thalib saat Fatimah Az Zahra Wafat di Bulan Ramadan

Ilmidza Amalia Nadzira • Minggu, 9 Maret 2025 | 03:00 WIB
Kisah Sahabat Rasul Tangis Pilu Ali bin Abi Thalib saat Fatimah Az Zahra Wafat di Bulan Ramadan
Kisah Sahabat Rasul Tangis Pilu Ali bin Abi Thalib saat Fatimah Az Zahra Wafat di Bulan Ramadan

JP Radar Kediri – Siapa yang tak mengenal Fatimah Az Zahra. Fatimah Az Zahra adalah putri dari Nabi Muhammad SAW dan Khadijah binti Khuwailid.

Fatimah wafat ketika beliau masih di umur yang cukup muda yakni 27 tahun. Fatimah wafat sekitar enam bulan setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW.

Wafatnya Nabi Muhammad SAW membawa kesedihan yang mendalam bagi Fatimah. Beliau pun menderita sakit parah karena kesedihannya kehilangan sang ayahanda.

Seiring berjalannya waktu penyakitnya pun semakin parah. Selama Fatimah sakit sang suami, Ali bin Abi Thalib tak pernah absen dalam menemaninya. Beliau berusaha sebaik mungkin untuk menemani dan menghibur istrinya.

Sampai suatu ketika, Fatimah merasa sakitnya semakin parah. Hingga pada suatu kesempatan Fatimah menyampaikan wasiatnya kepada Ali bin Abi Thalib.

Dalam wasiatnya Fatimah memiliki riga permintaan untuk suaminya. Yang pertama Fatimah ingin kelak Ali bin Abi Thalib menikah dengan Umamah binti Abdul Ash ibn Rabi’, putri dari kakaknya, Zainab.

Kedua, Fatimah ingin ditutup keranda. Beliu meminta hal ini karena beliau merasa malu jika tubuhnya dilihat oleh orang lain.

Ketiga, Fatimah ingin pemakamnnya dilakukan pada malam hari, masih dengna alasan yang sama yaitu malu.

Hingga pada tanggal 3 bulan Ramadan tahun 11 Hijriah Fatimah menghebuskan nafas terakhirnya.

Dilansir dari berbagai sumber, sebelum wafat, Fatimah telah membersihkan dirinya dengan mandi dan mengganti pakainnya dengan yang lebih bagus dibantu oleh pelayannya Asma’ binti Amis.

Setelahnya Fatimah berbaring diatas kasur dan berpesan kepada pelannya agar tak seorang pun memandikannya.

Baca Juga: 8 Keutamaan Umrah di Bulan Suci Ramadan  

Sayyidah Fatimah berkata “Wahai pelayanku, aku akan dipanggil hari ini, dan aku sudah mandi, maka jangan sampai ada seorang pun yang membuka bahuku.”

Ada beberapa yang mengatakan penyebab wafatnya Fatimah masih menjadi misteri. Pasalnya tidak ada riwayat yang pasti utentang penjelasan ini.

Fatimah dimakamkan oleh suaminya, Ali bin Abi Thalib, di al-Baqi’, Madinah bersebelahan dengan saudaranya, Zainab, Ruqayyah, dan Ummu Kultsum.

Namun ada laporan yang saling bertentangan mengenai tempat makam Sayyidah Fatimah Az Zahra.

Di saat Ali bin Abi Thalib memasukkan jenazah istrinya ke liang lahat, beliau menangis terisak. Hal itu pun menarik perhatian putranya Hasan.

Hasan pun bertanya “Wahai ayahanda, gerangan apakah yang membuatmu menangis sedemikian rupa?”

Sayyidina Ali pun menjawab, “Wahai putraku, sesunnguhnya aku teringat pesan kakekmu Rasulullah SAW, beliau bersabda ‘kelak jika putriku Fatimah telah tiada wahai Ali, maka akulah yang pertama kali akan menerima jasadnya di liang lahat.’”

“Dan Demi Allah aku meliaht tangan kakekmu Rasulullah SAW menerima jasad ibumu Fatimah. Aku melihat kakekmu menciumi wajah ibumu Fatimah.’”

Sayyidina Ali terdiam sejenak sebelum melanjutkan perkataannya, “Wahai Rasulullah SAW, kini aku kembalikan belahan jiwamu, yang dimana setiap engkau rindu akan surga, engkau cium wajah suci putrimu Fatimah.”

Penulis: Rozita Nur Azizah

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.

Editor : Ilmidza Amalia Nadzira
#radar kediri #jawa pos radar kediri #kisah inspiratif #kisah sahabat nabi #Ali bin Abi Thalib #berita hari ini #ramadahan #Rasulullah SAW #Fatimah Az Zahra #Khulafaur Rasyidin