Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Cerita Gus Ahsin sebagai Pewaris Ponpes Al Ishlah Kediri di Tengah Masyarakat yang Majemuk

Hilda Nurmala Risani • Sabtu, 8 Maret 2025 | 16:23 WIB
Gus Ahsin saat berada di Ponpes Al Ishlah Bandarkidul Kediri
Gus Ahsin saat berada di Ponpes Al Ishlah Bandarkidul Kediri

JP Radar Kediri - Menjadi ‘pewaris’ salah satu pondok besar di Kediri merupakan amanat yang sangat besar bagi Gus Ahsin. Menciptakan ikatan emosional antara dirinya dan para sesepuh. Karena itulah dia ingin meneruskan gaya syiar yang berjuang di tengah masyarakat yang majemuk.

Pondok Pesantren ini berdiri di sisi barat Sungai Brantas. Tepatnya di Kelurahan Bandarkidul, Kecamatan Mojoroto.

Di Selatan perempatan Bandarngalim. Namanya Ponpes Al Ishlah.

Ponpes Al Ishlah berdiri sejak 1954. Atau, Sembilan tahun setelah kemerdekaan Bangsa Indonesia.

Yang ‘babad alas’ adalah KH Thoha Mu’id. Kini, yang menjadi pengasuh adalah sang putera, Agus Ahsinil Usman. Biasa disapa dengan nama Gus Ahsin.

“Kami semua yang mengelola pondok ini,” ucap Gus Ahsin, yang bersarung, berkemeja hitam dan berkopiah putih.

Kami yang dimaksud Gus Ahsin tersebut adalah putera-putera KH Thoha Mu’id.

Selain dia, ada enam lagi yang jadi pengasuh. Kebetulan, di ponpes ini juga dilengkapi sekolah level SD dan SMP.

Sebetulnya, putera KH Thoha Mu’id ada sebelas. Namun, empat di antaranya sudah meninggal dunia. Mereka semua juga mukim di Ponpes Al Ishlah.

Bagi Gus Ahsin, meneruskan pondok yang didirikan sang ayah merupakan tanggung jawab besar.

Apalagi, selama ini pondok pesantren Al Ishlah dinilai bisa membawa kedamaian dan ketenteraman di masyarakat.

“Semboyan kami ada dua. Yaitu Surat An Nisa’ ayat 114 dan Al Isra ayat 80. Yang ingin membawa kedamaian dan ketenteraman bagi masyarakat sekitarnya,” ucap pria berusia 46 tahun ini.

Dua semboyan tersebut membentuk ikatan emosional antara Gus Ahsin dan sesepuhnya. Dia memiliki keinginan terus berjuang di tengah masyarakat yang sangat heterogen.

Karena itu, metode syiarnya adalah langsung ke masyarakat-masyarakat. Memberi pencerahan dengan mendatangi mereka.

“Saya memiliki pengalaman mengesankan saat awal terjun ke masyarakat di usia remaja. Pada saat itu saya menjenguk warga yang sedang diuji dengan musibah istrinya sakit. Ketika saya berpesan kepada suaminya untuk bersabar, justru kena marah dan dimaki-maki,” kenang Gus Ahsin, sembari duduk santai di kursi.

Hal itu membuat matanya terbuka. Bahwa kesabaran masyarakat itu ada batasnya.

Padahal. kalau memelajari Islam lebih dalam, kesabaran itu tidak ada batasnya. Dan harus diterapkan sepanjang hidup.

Pengalamannya tersebut tidak lantas membuatnya menyerah. Dia semakin bersemangat untuk turut serta mengajak masyarakat berlomba-lomba dalam kebaikan.

“Sifat pantang menyerah saya menghadapi masyarakat ini karena melihat sosok sesepuh pondok yang sangat luar biasa dalam berdakwah. Tidak mengenal lelah dalam mensyiarkan islam,” ungkapnya dengan penuh rasa bangga.

Menurutnya dakwah tidak melulu dilakukan secara formal dengan situasi dan kondisi tertentu.

Di manapun dan kapan pun bisa saja terjadi interaksi dakwah secara tidak sengaja.
Dia kemudian menyodorkan pengalaman lagi.

Ketika bersilaturahmi di rumah temannya di Solo, Jawa Tengah. Ketika berada di tempat umum tiba-tiba ada wanita mendatangi. Pakaiannya lusuh dan bau.

“Wanita ini bertanya seputar agam Islam. Tidak lama dia langsung tertarik untuk berpindah agama Islam. Dan meminta saya untuk menuntunnya mengucapkan dua kalimat syahadat,” kenang Gus Ahsin.

Saat itu, si wanita tersebut memang belum menerapkan syariat Islam secara penuh. Toh, menurutnya, hal itu tidak menjadi masalah.

Sebab esensi dari dakwah adalah mengajak orang dalam berbuat kebaikan. Bukan memaksanya melakukan kebaikan.

Dari situlah keinginannya untuk berdakwah semakin besar. Selain berbekal ilmu dari sesepuh pondoknya, pengalaman yang dimilikinya saat merintis dakwah juga menjadi penyemangat.

“Satu hal yang perlu disadari bahwa terkadang keberadaan kami (pondok Al Ishlah, Red) mampu menjadi solusi bagi seluruh lapisan masyarakat yang membutuhkan,” tandasnya.

 

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di saluran  WhatsApp "Radar Kediri". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.  

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#radar kediri #pondok pesantren #sungai brantas #jawapos #Pewaris Ponpes Al Ishlah Kediri #Gus Ahsin