Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Asal Usul Nama JANTIKO dan MANTAB, Sampai Sekarang Belum Banyak yang Tahu

Redaksi Radar Kediri • Sabtu, 8 Maret 2025 | 22:00 WIB

Gus Miek
Gus Miek

Kisah-kisah perjalanan Pondok Pesantren Al Falah Ploso Kediri (8)

Keluar-masuk hotel, diskotek, maupun pusat perjudian, bukan berarti Gus Miek tidak ‘ngopeni’ jamaahnya di luar komunitas dunia malam. Jamaah Semaan Alquran Jantiko Mantab dan Dzikrul Ghofilin adalah buktinya.

Tidak semua tahu kepanjangan dari ‘Jantiko’ yang digagas oleh Gus Miek mulai 1986 di Kediri. Ini adalah jamaah semaan kitab suci Alquran. Yakni, kumpulan komunitas di mana beberapa orang yang hafal (hafidz) Alquran membaca ayat-ayat suci tersebut secara bergantian, sementara yang lain menyimaknya.

Jamaah itu sendiri semula tidak ada namanya. Kecuali, hanya jamaah semaan Alquran begitu saja. Gus Miek baru memberinya nama ‘Jantiko’ beberapa bulan kemudian. Konon, nama itu didapat dari perbincangan dengan salah satu santrinya yang kebetulan bekerja di bengkel.

Santri tersebut mempunyai mobil tua yang mesinnya telah dimodifikasi sehingga bisa berjalan menggunakan bahan bakar minyak tanah. Melihat hal itu, Gus Miek heran dan bertanya apakah mobil itu tidak pernah mogok di tengah jalan. Santrinya spontan menjawab, “Tidak, Kiai, wong mobil ini antikoler.”

Kosakata ‘antikoler’ itulah yang menarik perhatian Gus Miek hingga diambil sebagai nama jamaah semaan Alquran yang digagasnya. Jamaah itu pun menjadi bernama Jamaah Antikoler alias Jantiko.

Jamaah ini dengan cepat berkembang. Jika saat memulainya pertama kali di Bujel –di rumah salah seorang pengikutnya—hanya diikuti oleh enam orang, beberapa bulan kemudian sudah menjadi puluhan orang dan terus bertambah. Tempatnya digilir bergantian di rumah para jamaah. Tak hanya di Kediri, tapi juga kota-kota di sekitarnya seperti Tulungagung, Blitar, dan Trenggalek.

Setahun kemudian, 1987, jamaah semaan Alquran ini sudah melebarkan sayapnya ke Jember, salah satu basis dakwah yang dirintis Gus Miek di luar Kediri. Perkembangan jamaah ini tak bisa dilepaskan dari peran para alumnus Ponpes Al Falah, Ploso yang tersebar di berbagai kota. Merekalah yang membantu penyebaran jamaah tersebut.

Pada 1989, saat Jantiko digelar di Trenggalek, KH Dahnan yang menjadi tuan rumah mengusulkan perubahan nama menjadi Mantaba (orang-orang yang bertobat). Gus Miek menerima usulan nama tersebut, tapi bukan untuk menggantikan nama Jantiko. Melainkan, justru untuk melengkapinya menjadi Jantiko Mantaba yang dalam perkembangannya menjadi Jantiko Mantab.

Oleh Gus Miek, Mantaba juga diberi penafsiran lain. Bukan orang-orang yang bertobat, tetapi sebagai singkatan Majelis Nawaitu Tapa Brata. Yaitu, komunitas orang-orang yang sudah berniat untuk melakukan ‘tapa brata’, mendekatkan diri kepada Tuhan.

Jauh sebelum mendirikan jamaah semaan Alquran Jantiko Mantab, Gus Miek juga sudah merintis jamaah serupa untuk ngopeni para pengikutnya. Semula, jamaah ini dinamakan Jamaah Mujahadah Lailiyah yang didirikan pada 1962 di rumah salah pengikutnya di Tulungagung.

Inilah yang kemudian menjadi embrio bagi pendirian Jamaah Dzikrul Ghofilin sekitar sepuluh tahun kemudian, yang dimulai dari Jember. Ini semacam tarekat yang didirikan oleh Gus Miek. Dzikrul Ghofilin sendiri kurang lebih berarti pengingat bagi orang-orang yang lupa. Bacaan-bacaan di dalamnya dirumuskan oleh Gus Miek. Di antaranya puji-pujian terhadap nama-nama Allah dalam asmaul husna.

Dari Jember, jamaah ini kemudian dikembangkan ke Surabaya, Tulungagung, Jogja, dan Boyolali. Baru setelah itu masuk ke Kediri mulai 1982 alias empat tahun sebelum berdiri Jantiko.

Dalam perkembangannya, kedua jamaah itu sering disatukan. Kegiatannya pun dibarengkan. Setelah semaan Alquran yang dimulai sejak Subuh selesai selepas Magrib, acara dilanjutkan dengan dzikrul ghofilin hingga malam. Jamaah membacanya bersama-sama dipimpin oleh seorang imam. Kegiatan inilah yang sampai sekarang bertahan dan banyak dijumpai di mana-mana. (*)

Editor : Jauhar Yohanis
#dzikrul ghofilin #Mantab #Pondok Ploso #gus miek