Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Karomah Gus Miek, Ditiupkan Asap Rokok, Waitress Langsung Kapok

Redaksi Radar Kediri • Jumat, 7 Maret 2025 | 22:29 WIB

Gus Miek, berdakwah dari kafe ke kafe
Gus Miek, berdakwah dari kafe ke kafe

Kisah Pondok Pesantren Al Falah Ploso Kediri (7)

Dari hotel ke hotel dan dari bar ke bar. Gus Miek dekat dengan para penghuni dunia malam. Termasuk perempuan-perempuan penghiburnya.

Artis, pejabat, maupun politikus Surabaya banyak yang mengenal Gus Miek. Tidak dari tempat-tempat pengajian yang digelarnya. Tapi, dari ‘posko’-nya di sejumlah hotel dan tempat hiburan. Di sanalah mereka bertemu, berdialog, dan mengadukan persoalan-persoalan pribadinya.

Selain tempat-tempat perjudian, putra kelima KH Ahmad Djazuli Utsman itu memang sering berkelana ke bar, hotel, atau diskotek. Suara dentuman musik yang ingar bingar, gemerlap lampu yang menyorot, dan bau alkohol yang meruyak di tengah canda tawa laki-laki dan perempuan di dalamnya adalah hal yang biasa bagi Gus Miek.

Gus Miek tidak datang dengan pedang, parang, atau pentungan sambil memaki-maki dan membawa massa untuk menutupnya. Tapi, hanya dengan satu atau dua orang. Lalu, duduk dan berbaur bersama mereka.

Inilah yang tak jarang mendapat tentangan, cemoohan, atau kecurigaan dari kalangan ulama lain. Tak terkecuali pengikutnya sendiri. Pernah suatu ketika saat mengajak salah satu pengikutnya masuk ke sebuah diskotek di Surabaya, Gus Miek diprotes. Mengapa seorang kiai melakukan hal demikian?

Mendapat pertanyaan tersebut, Gus Miek sempat murka lalu mengatakan bahwa para penghuni diskotek pun ingin masuk surga. Tapi, siapa kiai yang mau masuk ke sana untuk mengajak mereka ke jalan kebaikan?

Gus Miek sendiri tak hirau jika metode dakwahnya yang demikian dicemooh banyak orang. “Biar nama saya cemar di mata manusia, tapi tenar di mata Allah,” katanya hingga membuat pengikutnya itu terdiam.

Fitnah juga sering datang karena Gus Miek tak jarang mem-booking para perempuan malam. Mereka diajak masuk kamar untuk bertemu empat mata. Bagi yang tidak mengetahui apa yang dilakukan Gus Miek di dalam, sulit untuk tidak berprasangka buruk terhadapnya.

Tapi, menurut pengakuan sejumlah perempuan yang di-‘booking’ tersebut, justru di dalam kamar itulah mereka sering menemukan jalan pertobatannya dari Gus Miek. Gus Miek duduk di atas kasur sambil bersila dan memangku bantal untuk memberikan nasihat dan petuah tanpa sama sekali menggurui. Sementara, sang perempuan duduk di lantai kamar untuk mendengarkannya.

Meski demikian, untuk sejumlah perempuan malam yang sudah dianggap keterlaluan, Gus Miek tak segan untuk ‘mengerjainya’ langsung. Itu pernah dilakukan ketika bersama Amar Mujib –salah satu pengikut setianya—masuk ke dalam sebuah bar di Surabaya. Tiba-tiba Gus Miek mendatangi waitress-nya lalu menekan pundaknya sambil meniupkan asap rokok ke wajahnya.

Tentu saja, hal itu membuat sang waitress ketakutan. Tapi, Gus Miek terus mengejarnya sambil terus mengembuskan asap rokok ke wajah perempuan tersebut hingga jatuh terbaring ketakutan. Setelah itu, Gus Miek pergi meninggalkannya begitu saja.

Amar yang penasaran sempat menanyakan hal itu. Oleh Gus Miek dijawab bahwa perempuan itu sebenarnya berasal dari keturunan kiai, tapi kemudian terjerumus dalam lembah hitam. Inilah yang membuat Gus Miek prihatin.

Beberapa hari kemudian, atas perintah Gus Miek, Amar (kini pengasuh Ponpes Ath Thohiriyah Mangunsari Lor, Tulungagung, Red) sempat mengecek kembali perempuan itu di bar yang pernah didatangi. Ternyata, sudah tidak ada di sana. Menurut keterangan yang dia dapat, malam setelah didatangi Gus Miek, waitress tersebut menangis sampai pagi sebelum kemudian memutuskan pergi dari tempat tersebut.

Gus Miek memang mengambil jalan dakwah yang berbeda. Terhadap pelaku kemaksiatan di hadapannya, Gus Miek bukan mencemooh, memusuhi, atau menjatuhkan vonis berdosa dan masuk neraka. Akan tetapi, malah merangkulnya.

Bahkan, Gus Miek tidak pernah bertanya apakah mereka sudah melaksanakan salat atau belum. Paling banter, Gus Miek hanya bertanya apakah mereka sudah wudu atau belum.

KH Saifullah, salah satu muridnya yang paling awal, mengatakan, terhadap para pelaku kemaksiatan, Gus Miek memang tidak mengambil posisi berhadap-hadapan. “Beliau lebih banyak mendoakan (agar mau kembali ke jalan kebaikan),” ujarnya. (*)

 

Editor : Jauhar Yohanis
#Pondok Ploso #gus miek