Gus Miek Berdakwah Di Tempat Hiburan Malam. Pernah Menantang Para Penjudi, Uangnya Selalu Dibagi-bagi
Radar Kediri• Kamis, 6 Maret 2025 | 09:00 WIB
Gus Miek
Kisah Perjalanan Pondok Pesantren Ploso Kediirii (6)
Gaya dakwah Gus Miek berbeda dari ulama kebanyakan. Dia memilih jalan yang lain, tempat hiburan malam yang hampir tak pernah disentuh oleh para ulama. Termasuk ke tempat perjudian.
Banyak yang menyebut Gus Miek kiai nyentrik. Dari gaya berpakaiannya saja, orang tak mengira bahwa dia adalah kiai dan anak seorang kiai, pendiri sebuah pesantren besar di Ploso, Mojo. Bukan kopiah, serban, baju koko, serta sarung dan tasbih di tangan. Akan tetapi, Gus Miek lebih suka memakai t-shirt, celana jins, dan topi koboi. Rambutnya juga dibiarkan gondrong.
Di Kediri, orang-orang sering melihatnya ‘keluyuran’ di Jalan Dhoho pada tahun-tahun 1970-an. Di antara yang didekati adalah para tukang becak. Mereka ditantang berjudi oleh Gus Miek. “Main ocek (judi dengan korek api, Red),” ungkap Jokosaw Koentono, budayawan asal Kediri, yang dulu tinggal di daerah Pocanan, belakang bekas bioskop Jaya.
Saat itu, rambut Gus Miek masih gondrong. “Sekitar segini,” lanjut Jokosaw sambil memberikan isyarat sebahu. Di salah satu sudut jalan legendaris itulah Gus Miek sering nongkrong dengan para tukang becak. Jika sudah main ocek, uang di sakunya seperti tak pernah habis.
Selalu saja ada uang yang diambil dari sana –meskipun dalam pecahan kecil sesuai dengan tingkat tombokan tukang becak.
Judi ocek itu baru akan berhenti setelah semua tukang becak yang ditantang Gus Miek kalah. “Tapi, uang hasil judi itu tidak pernah dibawa oleh Gus Miek,” tutur Jokosaw yang sering menyaksikan hal itu sekitar 1974 hingga 1976 saat dia masih duduk di bangku SMA. “Semua dibagi-bagikan lagi kepada para tukang becak yang ada di Jl Dhoho,” sambungnya.
Kebiasaan keluyuran itu sudah dilakukan Gus Miek sejak remaja. Inilah yang sering membuat gundah KH Ahmad Djazuli Utsman, ayahnya. Apalagi, itu terjadi ketika saat-saat mengaji tiba. Ketika saudara-saudaranya yang lain mengaji bersama Kiai Djazuli, Gus Miek menghilang.
Yang sering dijadikan jujukan adalah pasar malam. Di sana, dia ikut berjudi. Pernah suatu ketika Gus Miek ikut berjudi di alun-alun Kota Kediri dan menang besar. Konon, uangnya mencapai satu kantong terigu. Saat itu, dia ditemani Shodik, santri Ploso asal Blitar.
Akan tetapi, seperti cerita Jokosaw di atas, tidak ada satu peser pun uang itu yang dibawa pulang Gus Miek. Shodik yang ikut menemaninya pun tak boleh mengambilnya sama sekali.
Lalu, di kemanakan? Gus Miek naik becak dan uang itu disebar di sepanjang jalan untuk para tukang becak dan penjual kopi di pinggir jalan.
Cerita serupa disampaikan oleh KH Amar Mujib, pengasuh Ponpes Mangunsari Lor, Tulungagung yang dulu sering mendampingi Gus Miek ke mana pun pergi.
Di berbagai kota yang pernah disinggahi, Gus Miek selalu mampir ke tempat-tempat perjudian. Tapi, Gus Miek tidak pernah sekalipun menggunakan uang hasil perjudian itu untuk dirinya. Orang-orangnya pun dilarang keras untuk menyentuhnya.
Saat baru memulai dakwah di Semarang, yang disasar Gus Miek juga tempat-tempat perjudian besar seperti Niac, Bonansa, dan THR.
Uangnya seolah tidak pernah habis. Itu yang akhirnya membuat para cukong dan bandar besar di tempat-tempat perjudian tersebut kalah dan menyerah. Akan tetapi, lagi-lagi, uang hasil perjudian tersebut tidak pernah digunakannya. Melainkan, dibagi-bagikan kepada tukang becak.
Sekitar awal 1990-an, wartawan koran ini masih sempat menjumpai Gus Miek di Taman Hiburan Rakyat (THR) Surabaya. Mengenakan poloshirt garis-garis dengan warna yang didominasi merah, Gus Miek yang sudah berambut pendek terlihat asyik bermain di salah satu arena ketangkasan. Sama sekali tidak mengesankan bahwa dia seorang kiai.
Tapi, salah seorang pengunjung yang mengenalinya segera saja menyalami dan mencium tangannya sambil meminta untuk didoakan. “Nggih, donga dinonga mawon. Mugi-mugi selamet sedaya,” ujarnya kemudian melanjutkan permainannya. (*)