Penyakit Influenza A Meningkat, Ini 6 Langkah yang Bisa Dilakukan Orang Tua

Shinta Nurma Ababil • Dipublikasikan Rabu, 23 September 2026 | 17:45 WIB
Ilustrasi terkena flu
Ilustrasi terkena flu

JP Radar Kediri – Jangan pernah meremehkan flu pada anak. Di balik gejalanya yang tampak biasa, penyakit ini menyimpan risiko komplikasi serius yang patut diwaspadai, terlebih di tengah lonjakan kasus Influenza A yang kini tengah melanda Indonesia.

Kementerian Kesehatan RI mencatat, subtipe Influenza A H3N2 subklad K—yang kerap dijuluki sebagai super flu—telah terdeteksi di 13 provinsi.

Dokter Spesialis Anak Konsultan Infeksi dan Penyakit Tropis Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Prof. Dr. dr. Anggraini Alam, Sp.A, Subsp.IPT(K), mengingatkan bahwa pada anak dengan faktor risiko tertentu, influenza dapat memicu komplikasi berat. Mulai dari pneumonia, eksaserbasi asma, miokarditis (peradangan otot jantung), hingga ensefalopati.

"Diagnosis laboratoris sangat penting, terutama dengan RT-PCR yang memiliki sensitivitas dan spesifisitas tinggi serta mampu mengidentifikasi subtipe virus," ujarnya kepada wartawan, Rabu (23/9).

Baca Juga: Kasus Influenza A Melonjak, Ini 8 Langkah Ampuh Lindungi Anak dari Risiko Penularan

Secara global, virus influenza diperkirakan memicu hingga 1 miliar infeksi setiap tahunnya. Dari jumlah tersebut, tercatat ada 3 hingga 5 juta kasus berat serta 290 ribu sampai 650 ribu kematian yang berkaitan dengan saluran pernapasan.

Adapun kelompok yang paling rentan mengalami komplikasi meliputi anak di bawah usia 5 tahun, lansia, ibu hamil, individu dengan penyakit kronis, serta tenaga kesehatan dan pengasuh.

Berdasarkan data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk wilayah Pasifik Barat, aktivitas influenza di zona transmisi Asia Tenggara menunjukkan tren kenaikan yang konsisten. Di Indonesia sendiri, pemantauan sentinel memperlihatkan fluktuasi kasus sepanjang tahun, dengan puncak gelombang pada akhir tahun lalu dan lonjakan kembali pertengahan tahun ini.

Sementara itu, data IDAI mencatat sekitar 5 persen anak yang terinfeksi influenza membutuhkan perawatan inap di rumah sakit. Sebanyak 80 persen dari pasien anak yang dirawat ini berusia di bawah 2 tahun, di mana separuhnya bahkan belum genap berusia 6 bulan.

Anak balita memiliki angka morbiditas (kesakitan) yang tinggi, utamanya mereka yang aktif di tempat penitipan anak, memiliki gangguan neurologi atau tumbuh kembang, tinggal di fasilitas perawatan jangka panjang, maupun berada di lingkungan yang padat penduduk.

“Anak dapat menularkan virus influenza sejak 24 jam sebelum gejala muncul hingga 10 hari setelahnya. Oleh karena itu, anak yang sakit harus diisolasi di rumah, tidak boleh dibawa ke sekolah atau tempat bermain sampai benar-benar pulih," tegas Prof. Anggraini.

Selain isolasi mandiri, langkah pencegahan non-farmakologis terbukti efektif untuk memutus rantai penularan. Mulai dari menerapkan etika batuk yang benar, rutin mencuci tangan, memperbanyak minum air putih untuk mencegah dehidrasi, hingga disiplin memakai masker.

IDAI juga mengimbau para orang tua untuk memberikan vaksinasi influenza tahunan bagi seluruh anak mulai usia 6 bulan. Vaksin ini tersedia dalam bentuk suntik (trivalen atau kuadrivalen) maupun semprot hidung (live intranasal) untuk anak sehat usia 2 hingga 49 tahun. Terbukti, vaksinasi mampu menekan risiko infeksi hingga 40–60 persen sekaligus meredam tingkat keparahan penyakit.

“Vaksinasi influenza harus diberikan setiap tahun karena virus influenza terus berevolusi melalui antigenic drift dan antigenic shift,” tandas Prof. Anggraini.

6 Langkah Antisipasi Hadapi Lonjakan Influenza A pada Anak

Sebagai panduan praktis bagi para orang tua, IDAI merangkum enam langkah penting yang bisa langsung diterapkan di rumah:

1. Rutin Vaksinasi Influenza Setiap Tahun

Pastikan anak mendapatkan vaksinasi influenza tahunan mulai usia 6 bulan, yang juga disarankan bagi anggota keluarga serumah. Selain mengurangi risiko tertular hingga 60 persen, vaksin ini efektif mencegah risiko komplikasi berat. Ingatkan diri untuk menjadwalkannya ulang setiap tahun mengikuti evolusi virus.

2. Disiplin Terapkan Protokol Kesehatan

Ajak anak membiasakan diri mencuci tangan dengan sabun, menggunakan masker di tempat umum, serta menjaga jarak dari kerumunan saat kasus flu sedang tinggi. Tanamkan pula kebiasaan menutup mulut saat batuk atau bersin untuk melindungi orang di sekitar.

3. Peka Kenali Gejala dan Tanda Bahaya

Jangan tunda berkonsultasi ke dokter jika kondisi kesehatan anak menunjukkan tren memburuk. Waspadai tanda-tanda darurat seperti sesak napas, demam tinggi yang tak kunjung turun, penurunan kesadaran, hingga gejala dehidrasi. Pada kasus tertentu dengan risiko tinggi, dokter mungkin menyarankan tes RT-PCR untuk memastikan diagnosis.

4. Istirahatkan Anak di Rumah, Jangan Paksakan ke Sekolah

Biarkan anak beristirahat total di rumah jika terserang flu. Mengingat masa penularan bisa dimulai sehari sebelum gejala muncul hingga 10 hari ke depan, isolasi di rumah adalah kunci agar virus tidak menyebar ke teman-teman sebayanya di sekolah atau tempat bermain.

5. Cegah Dehidrasi dan Konsultasikan Pengobatan

Pastikan anak mendapatkan waktu istirahat yang cukup dan asupan cairan berlimpah untuk menghindari dehidrasi. Untuk penanganan medis, obat penurun panas dapat diberikan sesuai dosis usia, sementara obat antivirus wajib dikonsultasikan langsung dengan dokter.

“Pemberian antivirus harus berdasarkan evaluasi dokter. Jangan memberikan obat tanpa resep sembarangan,” pesan dr. Hikari.

6. Dukung Penguatan Surveilans Kesehatan

Pemerintah dan tenaga medis terus mendorong penguatan surveilans genomik serta perluasan akses tes RT-PCR. Langkah ini krusial untuk mendeteksi subtipe virus secara akurat sekaligus menjadi acuan dalam merumuskan komposisi vaksin influenza di masa mendatang.

“Dengan kolaborasi antara tenaga kesehatan, pemerintah, dan masyarakat, kita dapat mengurangi dampak influenza pada anak dan keluarga. Lindungi anak, lindungi bangsa,” tutup Prof. Anggraini.

Editor : Shinta Nurma Ababil
influenza influenza a flu kesehatan