KEDIRI, JP Radar Kediri – Musim kemarau panjang dengan suhu udara yang sangat terik di siang hari tengah melanda wilayah Kediri dan sekitarnya.
Kondisi cuaca ekstrem tanpa pelindung awan ini tentu menjadi tantangan berat, khususnya bagi masyarakat yang mayoritas aktivitasnya berada di luar ruangan seperti pekerja proyek, petani, petugas kebersihan, hingga kurir ekspedisi.
Menyoroti fenomena kemarau terik ini, Ketua Tim Kerja Meteorologi Publik BMKG Stasiun Meteorologi Kelas III Dhoho Kediri, Satria Kridha Nugraha, menjelaskan bahwa wilayah Kediri Raya memang telah memasuki fase kemarau.
"Saat ini juga terjadi fenomena El Nino yang membuat kemarau tahun ini lebih kering," jelas Satria.
Suhu udara yang tinggi dipadukan dengan paparan sinar ultraviolet (UV) langsung berisiko memicu berbagai masalah kesehatan, mulai dari dehidrasi ringan, kelelahan ekstrem (heat exhaustion), hingga yang paling fatal adalah sengatan panas (heatstroke).
Jangan khawatir, bagi kamu para pejuang cuan di lapangan tetap bisa bekerja. Namun, dengan memperhatikan kesehatan.
Baca Juga: Waspada Kemarau Panjang! Ini 5 Rekomendasi Damkar untuk Mencegah Kebakaran Lahan
Berikut adalah beberapa tips esensial yang wajib diterapkan oleh para pekerja luar ruangan selama puncak musim kemarau:
1. Terapkan Hidrasi Proaktif, Jangan Tunggu Haus Rasa haus adalah sinyal bahwa tubuh sudah mulai mengalami dehidrasi.
Saat bekerja di bawah terik matahari, cairan tubuh dan elektrolit akan sangat cepat terkuras melalui keringat.
Pastikan untuk minum air putih sedikit demi sedikit namun rutin, setidaknya satu gelas setiap 15-20 menit. Hindari minuman berkafein tinggi seperti kopi atau minuman energi berlebih karena justru bersifat diuretik (mempercepat cairan keluar melalui urine).
2. Gunakan "Zirah" Pelindung Anti-UV Kulit yang terpapar sinar matahari secara terus-menerus bisa mengalami luka bakar (sunburn).
Gunakan pakaian berlengan panjang namun dengan bahan yang ringan, longgar, dan mudah menyerap keringat seperti katun. Jangan lupa memakai pelindung kepala seperti topi lebar atau helm proyek berventilasi.
Penggunaan tabir surya (sunscreen) dengan minimal SPF 30 di area wajah dan leher juga sangat dianjurkan dan perlu diulang penggunaannya setiap beberapa jam.
3. Terapkan Jeda Istirahat di Tempat Teduh Matahari berada pada titik puncak radiasi paling berbahaya antara pukul 11.00 hingga 14.00 WIB. Jika memungkinkan, atur ritme kerja agar beban terberat tidak dilakukan pada jam-jam tersebut.
Luangkan waktu sejenak untuk beristirahat di tempat yang teduh dan berventilasi baik demi menurunkan suhu inti tubuh kembali ke batas normal.
4. Waspadai Alarm Tubuh Kenali tanda-tanda tubuh saat mulai kewalahan menghadapi panas.
Jika Anda mulai merasakan sakit kepala berdenyut, pusing, mual, jantung berdebar cepat, atau keringat tiba-tiba berhenti keluar padahal udara sangat panas, segera hentikan pekerjaan.
Pindah ke tempat sejuk, longgarkan pakaian, minum air secara perlahan, dan segera cari bantuan medis jika gejala tidak mereda, karena ini adalah tanda awal heatstroke.
Menjaga produktivitas di lapangan memang penting, namun keselamatan dan kesehatan diri di tengah cuaca ekstrem harus selalu menjadi prioritas utama.
Editor : Andhika Attar Anindita