KEDIRI, JP Radar Kediri – Memasuki musim kemarau, masyarakat di wilayah Kediri dan sekitarnya mulai merasakan perubahan suhu yang cukup drastis.
Udara terasa terik dan menyengat di siang hari, namun berubah drastis menjadi sangat dingin pada malam hingga dini hari.
Fenomena suhu dingin yang menusuk tulang di tengah musim kemarau ini kerap dikenal oleh masyarakat Jawa dengan istilah bediding.
Meski merupakan siklus alamiah yang rutin terjadi setiap tahun, fenomena bediding tidak boleh dianggap remeh.
Penurunan suhu ekstrem ini menyimpan sejumlah potensi bahaya yang mengintai kelengahan masyarakat, terutama bagi kesehatan kelompok rentan dan kelangsungan sektor agrikultur di wilayah dataran tinggi.
Baca Juga: Waspada Kemarau Panjang! Ini 5 Rekomendasi Damkar untuk Mencegah Kebakaran Lahan
Penjelasan BMKG: Mengapa Terjadi Bediding?
Menanggapi fenomena ini, Ketua Tim Kerja Meteorologi Publik BMKG Stasiun Meteorologi Kelas III Dhoho Kediri, Satria Kridha Nugraha, menjelaskan bahwa secara umum wilayah Kediri Raya yang meliputi Kabupaten dan Kota Kediri, Nganjuk, Tulungagung, Blitar, serta Trenggalek telah memasuki awal musim kemarau sejak Mei lalu.
Kondisi tersebut memicu perubahan atmosfer yang cukup signifikan. Pada periode kemarau, tutupan awan di langit mulai berkurang.
Berkurangnya awan ini menyebabkan pelepasan panas dari permukaan bumi pada malam hari berlangsung lebih optimal tanpa ada "selimut" yang menahan pantulan panas tersebut di atmosfer.
"Selain itu, kondisi cuaca juga dipengaruhi massa udara yang relatif lebih dingin dan kering dari Australia," jelas Satria.
Saat ini, Benua Australia tengah mengalami musim dingin. Pergerakan angin monsun timur membawa massa udara dingin dan kering tersebut menyeberangi Samudra Hindia dan melewati wilayah Indonesia, khususnya pulau Jawa bagian selatan.
Kombinasi kedua faktor tersebut membuat suhu udara pada malam hingga pagi hari terasa lebih dingin dibandingkan biasanya.
Baca Juga: Awas Bediding, 5 Tips Merawat Kulit saat Udara Kering
Bahaya Mengintai di Balik Dinginnya Bediding
Perbedaan suhu yang sangat kontras antara siang dan malam hari memaksa metabolisme tubuh untuk bekerja ekstra keras. Jika daya tahan tubuh sedang menurun, bediding dapat membawa sejumlah dampak buruk:
1. Lonjakan Kasus ISPA dan Gangguan Pernapasan Udara yang sangat kering dan dingin membuat kelembapan alami pada rongga hidung dan tenggorokan mengering. Hal ini menurunkan fungsi pertahanan saluran napas, sehingga virus dan bakteri penyebab Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), batuk, pilek, hingga asma sangat mudah menyerang.
Kelompok balita dan lanjut usia (lansia) adalah yang paling rentan menghadapi kondisi ini.
2. Kulit Kering, Bersisik, dan Iritasi Kelembapan udara yang merosot tajam selama periode bediding menyerap kadar air alami dari pori-pori kulit.
Keluhan yang paling umum muncul di masyarakat adalah kulit yang terasa bersisik, gatal, hingga tumit dan bibir yang pecah-pecah berdarah.
3. Ancaman Dehidrasi 'Terselubung' Suhu yang dingin kerap kali "menipu" sensor haus di dalam tubuh, sehingga orang cenderung malas minum air putih.
Di sisi lain, cuaca dingin justru meningkatkan frekuensi buang air kecil (diuresis dingin). Jika asupan cairan tidak dijaga, masyarakat berpotensi mengalami dehidrasi tanpa disadari.
Baca Juga: Fenomena Bediding, Apakah Bahaya untuk Kesehatan?
4. Bencana 'Embun Upas' bagi Sektor Pertanian Bahaya bediding tidak hanya menyerang manusia.
Di kawasan dataran tinggi Kediri Raya, seperti lereng Gunung Kelud dan Gunung Wilis, suhu malam hari bisa anjlok hingga titik terendahnya.
Kondisi ini dapat memicu terbentuknya kristal es atau embun upas pada dedaunan. Bagi petani hortikultura, embun upas sangat mematikan karena membuat cairan di dalam sel tanaman membeku, menyebabkan sayuran dan palawija menghitam, layu, hingga gagal panen.
Untuk meminimalkan dampak buruk dari fenomena bediding, masyarakat sangat dianjurkan untuk menggunakan pakaian tebal saat beraktivitas di malam dan pagi hari, rutin mengoleskan pelembap, memperbanyak asupan vitamin C, serta tetap disiplin memenuhi kebutuhan air putih harian.
Editor : Andhika Attar Anindita