JP Radar Kediri – Jargon "berbuka dengan yang manis" sudah sangat melekat di masyarakat Indonesia. Tak heran, kolak, es campur, hingga gorengan manis selalu jadi primadona di meja makan.
Namun, pernahkah kamu merasa justru sangat lemas, pusing, atau mengantuk berat sesaat setelah makan?
Hati-hati, itu bukan sekadar rasa kenyang biasa, melainkan gejala Sugar Crash.
Apa Itu Sugar Crash?
Melansir dari Sanford Health, sugar crash atau secara medis disebut hipoglikemia reaktif adalah kondisi di mana kadar gula darah turun secara drastis setelah sempat melonjak tajam.
Saat kamu mengonsumsi gula sederhana (seperti sirup, takjil manis, atau nasi putih porsi besar) dalam keadaan perut kosong, tubuh akan mengalami lonjakan glukosa.
Sebagai respons, pankreas bekerja ekstra keras memproduksi hormon Insulin untuk menurunkan gula tersebut. Sayangnya, sering kali insulin yang keluar terlalu banyak, sehingga kadar gula darah terjun bebas di bawah batas normal.
Baca Juga: 5 Manfaat Puasa bagi Kesehatan: Mengapa Ramadhan Jadi Momen Servis Tubuh?
Gejala yang Sering Muncul
Penurunan energi yang tiba-tiba ini menimbulkan berbagai efek samping yang mengganggu, di antaranya:
- Rasa lelah dan kantuk yang luar biasa (fatigue).
- Pusing atau sakit kepala.
- Sulit berkonsentrasi atau brain fog.
- Jantung berdebar atau rasa gemetar (jitters).
- Suasana hati yang cepat berubah atau mudah marah.
Inilah alasan mengapa beberapa orang merasa semangat saat mulai makan, namun 30-60 menit kemudian malah merasa "tepar" dan malas untuk beraktivitas, termasuk beribadah.
Salah Kaprah ‘Berbuka dengan yang Manis’
Jargon tersebut sebenarnya bertujuan untuk mengembalikan energi dengan cepat.
Namun, gula yang dimaksud sebaiknya berasal dari sumber alami yang mengandung serat, seperti buah kurma, bukan gula rafinasi atau sirup yang sangat tinggi glikemik.
Ketika gula masuk tanpa ada pendamping berupa protein atau serat, tubuh tidak memiliki "rem" untuk mengatur kecepatan penyerapan gula tersebut ke dalam darah.
Baca Juga: 5 Jenis Makanan Sahur yang Bikin Kenyang Lebih Lama dan Berenergi Seharian
Cara Menghindari Sugar Crash Saat Berbuka
Agar tubuh tetap segar dan bertenaga setelah makan, berikut beberapa langkah yang bisa diterapkan:
Imbangi dengan Protein dan Lemak Sehat
Jangan hanya makan karbohidrat atau gula, namun pastikan ada asupan protein (telur, ayam, tempe) dan lemak sehat (alpukat atau kacang-kacangan) saat makan.
Protein dan lemak berfungsi memperlambat penyerapan gula.
Pilih Karbohidrat Kompleks
Alih-alih es buah dengan banyak sirup, pilihlah buah utuh atau karbohidrat yang mengandung serat tinggi agar gula darah stabil.
Aturan Porsi Kecil tapi Sering
Mulailah dengan takjil ringan yang tidak terlalu manis, lalu beri jeda sebelum masuk ke menu utama. Jangan langsung "balas dendam" dengan makan besar dalam satu waktu.
Tetap Terhidrasi
Air putih jauh lebih baik untuk membantu metabolisme tubuh dibandingkan minuman manis berwarna-warni yang memicu lonjakan insulin.
Baca Juga: Tim Sahur vs Tim Kebablasan: Mana yang Lebih Kuat Tahan Lapar Seharian?
Menikmati takjil manis memang bagian paling nikmat saat berbuka. Tapi agar tidak berakhir "tumbang" karena kantuk berat, kamu bisa menambah sedikit protein atau serat agar badan tetap segar sampai malam.
Untuk mendapatkan berita- berita terkini Jawa Pos Radar Kediri , silakan bergabung di saluran WhatsApp " Radar Kediri ". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.
Editor : Shinta Nurma Ababil