Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Benarkah Perempuan Lebih Emosional? Inilah Penjelasan Neurosains tentang Cara Otak Mengolah Stres

Internship Radar Kediri • Sabtu, 7 Februari 2026 | 04:00 WIB

Emosi Perempuan
Emosi Perempuan

JP RADAR KEDIRI – Perempuan kerap dikenal sebagai sosok yang emosional atau lebih mengedepankan perasaan dalam merespons suatu situasi. Label ini sudah lama melekat dalam kehidupan sehari-hari, baik di lingkungan keluarga, pekerjaan, maupun ruang sosial. Namun, respon emosional tersebut bukan tentang sikap atau karakter saja, namun berkaitan dengan cara kerja otak dan sistem biologis di dalam tubuh.

Salah satu bagian otak yang berperan penting dalam pemrosesan emosi bernama amigdala. Bagian ini berfungsi sebagai pusat pengenalan emosi dan ancaman. Amigdala membantu seseorang mengenali ekspresi, nada suara, hingga situasi sosial yang mengandung tekanan emosional.

Penelitian menunjukkan bahwa pada perempuan, aktivitas amigdala dapat mengalami perubahan fungsional ketika menghadapi konflik emosional. Hal ini membuat perempuan cenderung lebih cepat menangkap nuansa perasaan, baik yang berasal dari diri sendiri maupun dari orang lain.

Pemrosesan emosi tersebut tidak bekerja secara terpisah. Pada perempuan, amigdala berinteraksi dengan area lain di otak untuk mengatur respon yang muncul. Interaksi ini membantu tubuh menentukan apakah suatu situasi perlu dihadapi dengan kewaspadaan, empati, atau pengendalian diri.

Selain amigdala, terdapat bagian otak lain yang berperan penting, yaitu korteks prefrontal. Area ini berfungsi mengatur emosi secara kognitif, termasuk mengendalikan reaksi, mempertimbangkan keputusan, dan menjaga fokus. Pada perempuan, korteks prefrontal menunjukkan keterlibatan yang aktif saat menghadapi emosi negatif. Artinya, emosi tidak hanya dirasakan, tetapi juga diproses dan diatur agar tidak mengganggu fungsi utama, seperti bekerja atau mengambil keputusan.

Korteks prefrontal turut mempengaruhi cara perempuan menghadapi tekanan. Dalam situasi penuh stres, otak berusaha menyeimbangkan antara dorongan emosional dan kontrol diri. Inilah yang membuat respons perempuan seringkali tampak reflektif, penuh pertimbangan, dan berorientasi pada dampak sosial.

Menariknya, tidak semua jenis stres diproses dengan cara yang sama. Stres fisik, seperti kelelahan atau rasa sakit, berbeda dengan stres sosial yang berkaitan dengan hubungan, konflik, atau penolakan.

Penelitian menunjukkan bahwa perempuan cenderung lebih responsif terhadap stres berbasis relasi dan konflik sosial. Aktivitas otak perempuan mencerminkan perhatian yang lebih besar terhadap sinyal sosial dan emosional di sekitarnya.

Respons tersebut juga dipengaruhi oleh sistem hormonal. Di dalam tubuh terdapat Sumbu HPA (Hypothalamic–Pituitary–Adrenal axis) yang mengatur respons stres melalui pelepasan hormon stres. Sistem ini bekerja bersama jaringan saraf untuk membantu tubuh menyesuaikan diri terhadap tekanan.

Hormon estrogen turut berperan dalam memodulasi respon emosi, sementara oksitosin dikenal sebagai hormon yang membantu meredam stres dan mendorong keterikatan sosial. Oksitosin berperan dalam membangun rasa aman, empati, dan kelekatan, terutama saat menghadapi tekanan emosional. Kombinasi antara sistem saraf dan hormonal ini membentuk cara unik perempuan dalam merespons stres.

Meski demikian, perlu dipahami bahwa pola ini tidak berlaku sama pada setiap individu. Lingkungan, pengalaman hidup, dan kepribadian tetap mempengaruhi cara seseorang merespon emosi dan stres. Perbedaan yang ada lebih tepat dipahami sebagai variasi alami cara kerja manusia, bukan sebagai ukuran kelemahan atau kelebihan tertentu.

Penulis adalah Arlintang Sekar Phambayun, Mahasiswa Universitas Negeri Malang. Untuk mendapatkan berita-  berita terkini   Jawa Pos   Radar Kediri  , silakan bergabung di saluran WhatsApp "  Radar Kediri  ". Caranya klik link join  saluran WhatsApp Radar Kediri.  Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.

Editor : rekian
#stres #emosi #kesehatan mental #Edukasi Publik #Neurosains #mental health #psikologi perempuan #perempuan #otak manusia #ilmu pengetahuan #psikologi