KEDIRI, JP Radar Kediri- Peristiwa runtuhnya Pondok Pesantren (Ponpes) Al Khoziny, Sidoarjo menjadi atensi khusus.
Pasalnya deteksi identitas korban tak hanya melalui sidik jari tetapi juga melalui data odontogram.
Latar belakang ini yang membuat pihak RS Bhayangkara akan menggencarkan pendataan odontogram.
Kepala RS Bhayangkara Kombespol drg Agung Hadi Wijanarko mengatakan, data odontogram ini sangat membantu dalam proses identifikasi. Terutama ketika terjadi bencana alam maupun bencana non alam.
“Data odontogram selain untuk data pelayanan kesehatan. Juga membawa manfaat bagi kemanusiaan. Contohnya pada saat identifikasi korban bencana atau korban tindak kejahatan,” jelas lelaki yang akrab disapa Agung.
Untuk diketahui, data odontogram yang lengkap dan terstandar mempermudah untuk identifikasi.
Agung mengaku jika pendataan ini sudah dilakukan sejak lama. Namun pihaknya membuat terobosan dengan menstandarkan dan membekali pemahaman kepada dokter gigi terkait pendataan odontogram yang lengkap.
“Agar nanti datanya sama sehingga bisa terbaca oleh tim yang bertugas mengidentifikasi korban,” tuturnya.
Perwira dengan pangkat tiga melati di pundak ini mengungkapkan, sasaran pendataan nantinya adalah pasien-pasien yang datang ke pelayanan kesehatan.
Dimulai dari RS Bhayangkara kemudian dilanjutkan dengan beberapa rumah sakit gigi dan mulut.
“Pasien berisiko minimal sudah memiliki data odontogram yang lengkap. Target kami ke depan 20 persen dari penduduk Indonesia. Terutama yang beresiko mengalami bencana alam dan tindak kejahatan sudah ada catatan odontogram yang lengkap dan terstandar,” terang Agung.
Dia berharap dokter gigi yang memiliki kemauan dan kemampuan mengisi data odontogram yang benar dan lengkap bisa segera menerapkan.
Begitupun masyarakat yang memeriksakan kesehatan gigi bisa meminta data odontogramnya.
Sebab data tersebut penting kedepannya untuk data base nasional selain sidik jari dan deoxyribo nucleic acid (DNA).
“Nanti dalam proses identifikasi korban ada sidik jari, DNA, retina mata, dan gigi. Yang paling gampang adalah sidik jari dan gigi. Kalau DNA perlu proses dan biaya,” kata Agung.
Pantauan wartawan Jawa Pos Radar Kediri, acara yang berlangsung di ruang rapat Karumkit RS Bhayangkara itu dihadiri oleh Dekan Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) IIK Bhakti Wiyata Kediri Dr. drg. Puspa Dila Rohmaniar.
“Sebetulnya ini pelaksanaan menyasar ke dokter gigi. Mungkin nantinya masyarakat hanya diberikan pemahaman bahwa ternyata data odontogram itu penting dan dibutuhkan,” terang Puspa.
Data odontogram ini akan memuat terkait kondisi gigi yang ada di rongga mulut. Pada manusia ada sekitar 32 gigi, mulai dari bagian depan hingga belakang. Inilah yang akan didokumentasikan.
“Biasanya ketika terjadi bencana mayat ditemukan dalam kondisi tidak utuh. Melalui data odontogram ini sangat membantu ketika petugas hanya menemukan kepala. Kepala dengan kondisi gigi tertentu yang sudah terdata di odontogram akan mudah untuk dideteksi,” pungkasnya.
Editor : Andhika Attar Anindita