“Kalau sakit sih enggak, tapi malu,” begitu kalimat yang keluar dari Hendrik Purwanto soal penyakit yang dialaminya. Ditemui di rumahnya kemarin pagi (15/8), lelaki yang akrab disapa Hendrik itu aktif membantu orang tuanya di bengkel motor.
Sekitar pukul 09.10, Hendrik harus mendandani satu motor yang masuk ruangan kecil berukuran 4x3 meter, di Kelurahan Semampir, Kecamatan Kota. Usai mengerjakan motor di bengkelnya, dia lalu menceritakan awal mula terjadinya insiden yang membuat dirinya mengalami sakit tulang ekor.
Karena tidak merasakan sakit, Hendrik beraktivitas seperti biasa. Dia tidak hanya bantu bengkel ortunya. Tapi juga ngojek. Setelah sekian lama, tulang ekornya yang dulu pernah terkena sliding tumbuh daging sebesar bola tenis.
“Muncul benjolan awal Januari 2025. Saya langsung bawa ke rumah sakit dan disarankan untuk operasi dengan biaya Rp 7 juta,” bebernya.
Bagi Hendrik, uang Rp 7 juta itu sangat besar. Dia lalu mengurungkan niat untuk operasi. Dia tidak mampu membayar biaya operasi sebanyak itu. Sebab penghasilannya sehari-hari tidak mencukupi. Dia hanya bisa meraup uang Rp 40 ribu per hari.
Karena tidak mampu, dia harus menahan rasa malu. Benjolan itu semakin membesar. “Sampai akhirnya di awal Juli lalu saya disarankan untuk berobat di RS Gambiran. Dan alhamdulillah dapat bantuan dari Pak Edy (Edy Herwiyanto, Red). Dan proses operasi hingga pasca operasi full difasilitasi tanpa mengeluarkan biaya sepeserpun,” ungkapnya.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di saluran WhatsApp "Radar Kediri". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.
Editor : rekian