Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Jalan Panjang Penentuan Status Bocah ‘Kelamin Ganda’, September ke Surabaya Jalani Pemeriksaan Kromosom Lagi

Muhamad Asad Muhamiyus Sidqi • Jumat, 15 Agustus 2025 | 14:00 WIB

 

Ilustrasi Kasus Kelamin Ganda
Ilustrasi Kasus Kelamin Ganda

JP Radar Kediri-Seperti halnya Anang Soetomo yang sudah lebih dulu mendapat kepastian jenis kelaminnya, Lik, 9, bocah berkelamin ganda asal Badas harus menjalani proses panjang. Setelah menjalani pemeriksaan di RSUD Kabupaten Kediri dan RSUD Dr Soetomo Surabaya, Senin (11/8) lalu dia kembali menjalani pemeriksaan kromosom. Semuanya dilakukan untuk mengetahui kepastian jenis kelaminnya.

Anggota DPRD Kabupaten Kediri Masykur Lukman mengatakan, Lik yang duduk di bangku kelas 3 SD di Badas itu menjalani pemeriksaan di Laboratorium Prodia Kediri. “Dia menjalani pemeriksaan kromosom,” kata Lukman sembari menyebut petugas mengambil sampel darahnya.

Untuk diketahui, pemeriksaan kromosom Senin lalu merupakan pemeriksaan ketiga. Sebelumnya, Lik sudah menjalani pemeriksaan hormon di RSUD Kabupaten Kediri pada Juli lalu. Hasilnya, hormon laki-laki bocah yang selama ini diidentifikasi berjenis kelamin perempuan itu lebih dominan. Yakni mencapai 90 persen.

Setelah ditangani oleh Pemkab Kediri, Lik dirujuk ke RSUD Dr Soetomo Surabaya untuk menjalani pemeriksaan imuno serologi. Hasilnya, imuno serologi terkait 17-OH progresterone menunjukkan angka 279,96. “Pembacaan hasil lab di Soetomo (RSUD Dr Soetomo) akan dilakukan awal September nanti,” lanjut politisi yang terus mendampingi Lik itu.

Bagaimana dengan hasil pemeriksaan di Laboratorium Prodia? Lukman menyebut, idealnya hasil baru keluar sekitar satu bulan. Namun, pihak laboratorium akan mengusahakan agar hasil bisa keluar sebelum 3 September nanti.

Sehingga, saat pembacaan tes imuno serologi di RS milik Pemprov Jatim itu, Lik sudah bisa membawa hasil pemeriksaan kromosom untuk dibacakan. “Agar tidak wira-wiri. Saat di sana nanti agar dilakukan pembacaan dua hasil itu," jelas Sekretaris Fraksi PKB itu.

Untuk diketahui, selama menjalani rangkaian pemeriksaan laboratorium, Pemkab Kediri juga memantau kondisi psikologis Lik. Pada Rabu (13/8) lalu, Lik dan Zia, 39, ibu Lik diajak ke RSKK untuk diperiksa kondisi psikologisnya. "Diantarkan petugas dari kecamatan. Dibawa ke RSKK untuk tes psikologi," papar Lukman.

Petugas di RSKK menurut Lukman menggali informasi terkait perkembangan anaknya selama penanganan kasus ambiguous genitalia itu. “Dipantau perkembangan mentalnya,” jelasnya sembari menyebut Zia diminta terus meng-update perkembangan psikologis putrinya ke RSKK.

Seperti diberitakan, Lik dilahirkan dengan genital dominan perempuan. Sembari bertambahnya usia, ada tonjolan di alat kelamin yang menyerupai penis. Semakin hari tonjolan mirip penis itu terus tumbuh. 

Dengan kondisi tersebut, orang tua Lik disarankan untuk memeriksakannya ke RSKK. Hasil pemeriksaan hormon menyatakan genital Lik lebih dominan laki-laki. Namun, satu pemeriksaan saja belum cukup. Dibutuhkan serangkaian pemeriksaan lainnya untuk memastikan genital Lik. 

Lukman mengatakan, pemeriksaan di Laboratorium Prodia kemarin membutuhkan dana Rp 2,5 juta. Dana tersebut merupakan hasil donasi. Zia yang sehari-hari berjualan es degan itu tidak punya cukup uang untuk membayar sendiri.

Baca Juga: Kasus Kelamin Ganda di Kediri, Sejak Kecil Dianggap Perempuan, Bocah SD di Badas Ini Hormonnya 90 Persen Laki-Laki 

“Kalau yang pemeriksaan di RSKK dibiayai Pemkab Kediri lewat DP2KBP3A,” tutur Lukman yang aktif menggalang donasi untuk proses penentuan genital Lik itu. (*)

Editor : Mahfud
#sexual ambiguity #kromosom