JP Radar Kediri- Perjalanan Lik, 9, bocah asal Kecamatan Badas untuk memperjelas gendernya memerlukan tahapan yang panjang. Rangkaian pemeriksaan hingga operasi harus dijalani oleh anak yang duduk di bangku kelas 3 SD itu. Sayangnya, orang tua mengaku tidak memiliki biaya. Karenanya, mereka meminta dukungan penuh dari Pemkab Kediri.
Untuk diketahui, sebelumnya Lik melakukan pemeriksaan fisik di RSUD Kabupaten Kediri (RSKK). Hasilnya, hormon bocah berkelamin ganda yang sejak lahir dianggap perempuan ini mayoritas laki-laki.
Dari sana, dia lantas dirujuk ke RSUD Dr Soetomo Surabaya pada Rabu (6/8). “Karena di RS Dr Soetomo ini katanya lebih lengkap, jadi oleh RSKK dirujuk ke sana langsung,” ungkap Zia, 39, ibu Lik, ditemui di rumahnya kemarin.
Di rumah sakit milik Pemprov Jatim itu Lik menjalani pemeriksaan mandiri. Untuk pemeriksaan imuno serologi saja membutuhkan biaya Rp 1,5 juta. Perempuan yang sehari-hari hanya berjualan es degan itu pun mengaku keberatan.
“Kemarin masih pakai biaya mandiri. Belum bilang ke bapak-bapak (anggota DPRD Kabupaten Kediri Maskur Lukman),” terang Zia yang kemarin kembali bertemu dengan Lukman itu.
Untuk diketahui, hasil pemeriksaan laboratorium pertama itu sudah keluar. Hasilnya, pemeriksaan imuno serologi terkait 17-OH progresterone menunjukkan angka 279,96.
“Sudah keluar tapi tidak bisa bacanya. Jadinya Rabu (13/8) ke Dr Soetomo lagi untuk membacakan hasil itu,” terang Zia yang mengaku tidak punya cukup biaya.
Padahal, sesuai penjelasan dokter, pemeriksaan laboratorium pertama itu baru tahap awal. Pemeriksaan itu belum bisa mengidentifikasi apakah Lik perempuan atau laki-laki. Melainkan dibutuhkan rangkaian pemeriksaan lain yang panjang. “Kemarin itu masih satu tangga. Masih banyak tangga yang perlu dilalui,” jelasnya.
Masih menurut penjelasan dokter, menurut Zia tidak semua pemeriksaan itu bisa di-cover BPJS. Sehingga, biaya yang akan dibebankan pada Zia dipastikan tidak sedikit.
Jika Rabu lalu dia mengeluarkan biaya Rp 1,5 juta, Lik akan menjalani pemeriksaan kromosom. Biayanya minimal Rp 2,5 juta. “Harapannya yang terbaik bagi anak saya. Proses berjalan lancar. Prosesnya masih panjang. Kami ingin kelancaran anak saya. Kesembuhan, kenormalan anak saya. Sampai psikisnya serta semuanya,” tuturnya.
Untuk diketahui, Anggota DPRD Kabupaten Kediri Maskur Lukman yang mengetahui tentang besarnya biaya yang harus ditanggung Lik, membawa permasalahan tersebut ke rapat badan anggaran. Di sana disetujui jika pemkab akan melakukan pengawalan.
“Pemkab kemarin bilang akan di-cover semua. Namun saat ini masih belum,” jelas anggota komisi III itu sembrai menyebut Zia kini sudah difasilitasi untuk mendapat BPJS kelas 1.
“Besok Senin (11/8) akan saya rapatkan dengan dinsos. Mau saya mantapkan, kondisinya seperti ini bagaimana nanti selanjutnya. Karena pemda harus meng-cover,” jelas Sekretaris Fraksi PKB itu.
Untuk diketahui, Lukman sudah membuka donasi untuk proses pemeriksaan Lik. Uang donasi akan diberikan untuk operasional saat proses pemeriksaan Lik. “Harapannya pemkab membantu dari pembiayaan medis. Adapun untuk donasi ini untuk operasional keluarga, saat melakukan pemeriksaan,” tandasnya. (*)
Editor : Mahfud