JP Radar Kediri-Pemkab Kediri terus memantau perkembangan Lik, 9, bocah asal Kecamatan Badas yang berkelamin ganda. Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP2KBP3A) mendampingi psikologis anak yang duduk di bangku kelas 3 SD itu.
Kepala DP2KBP3A Kabupaten Kediri dr Nurwulan Andadari mengatakan, pihaknya sudah melakukan beberapa kali pemantauan bersama tim kesehatan dan tim dari Pemkab Kediri.
“Dia terlihat malu karena banyak orang tidak dikenal yang sering datang,” kata perempuan yang akrab disapa Anda ini.
Melihat kondisi itu, Anda menyebut pemkab tidak hanya melakukan pendampingan dalam proses medisnya. Melainkan juga menjaga psikologi Lik. Salah satunya, saat mengunjungi Lik mereka melakukannya dengan sangat hati-hati.
“Yang diantisipasi sekarang itu kan banyak orang berkunjung. Jangan sampai nanti malah merebak semakin banyak. Ini yang tak antisipasi,” lanjutnya.
Anda bersyukur, sejauh ini Lik tetap nyaman bersekolah. Dia juga aktif mengikuti pembelajaran. Setelah izin tidak masuk sekolah karena menjalani serangkaian pemeriksaan, Lik juga langsung masuk sekolah lagi.
“Dia ceria di sekolah. Selain itu juga suka pelajaran bahasa Inggris,” terangnya.
Melihat perkembangan positif itu, Anda menyebut pihaknya akan terus memantau psikologis Lik dan melakukan pendampingan. Selain memantau secara langsung, pihaknya juga memantau secara online.
Yakni dengan menanyakan perkembangannya via telepon ke orang tua Lik. “Jangan sampai karena sering dikunjungi, membuat anak ini malah jadi tertekan. Makanya pemantauan secara online, tidak selalu (kunjungan),” terang perempuan berambut sebahu itu.
Seperti diberitakan, Lik terlahir dengan genital dominan perempuan. Beriring bertambahnya usia, ada tonjolan di genital perempuannya yang menyerupai penis.
Sempat menganggap sebagai aib, orang tua Lik tidak berani menceritakannya kepada siapapun. Namun, semakin hari tonjolan mirip penis itu terus tumbuh.
Karenanya, saat Lik duduk di bangku kelas 3 SD, orang tua Lik disarankan untuk memeriksakannya ke dokter. Hasil pemeriksaan menyatakan hormon Lik lebih dominan laki-laki. Yakni mencapai 90 persen.
Anggota DPRD Kabupaten Kediri Maskur Lukman langsung membawa masalah tersebut di rapat badan anggaran. Dari sana Pemkab Kediri langsung turun tangan. Lukman juga membuka penggalangan dana untuk membantu orang tua Lik. Sebab, kondisi orang tuanya tergolong kurang mampu.
Untuk memastikan penanganan Lik maksimal, dia juga sudah melakukan aktivasi kartu BPJS Kesehatan. Sehingga, rangkaian pemeriksaannya di Kediri dan Surabaya berjalan lancar. (*)
Editor : Mahfud