Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Gawat, Tiga Bulan Tiga Anak Positif HIV!

Ayu Ismawati • Sabtu, 26 Juli 2025 | 16:00 WIB

 

Relawan Redline memberikan edukasi pencegahan penularan human immuno virus di depan para pelajar SMPN 6 Kota Kediri. Di triwulan pertama 2025 ini, ada tiga anak yang positif terinfeksi HIV.
Relawan Redline memberikan edukasi pencegahan penularan human immuno virus di depan para pelajar SMPN 6 Kota Kediri. Di triwulan pertama 2025 ini, ada tiga anak yang positif terinfeksi HIV.

JP Radar Kediri-Para orang tua agaknya harus meningkatkan pengawasan terhadap pergaulan anaknya. Pasalnya, di triwulan pertama 2025 ini, ada tiga anak usia sekolah yang positif terinfeksi human immunodeficiency virus (HIV). 

Kondisi itu yang mendorong berbagai pihak menggencarkan edukasi. Seperti yang dilakukan komunitas Warga Peduli Aids (WPA) dan Redline di SMP Negeri 6 Kota Kediri kemarin. 

Ketua WPA Kecamatan Mojoroto Agus Riyanto mengatakan, tren kasus HIV pada remaja semakin sering ditemui tiap tahunnya. Karena itu, sejak kemarin pihaknya memperluas sasaran edukasi ke pelajar SMP. 

Hal tersebut untuk mencegah penularan HIV di kalangan anak usia sekolah. 

“Berdasarkan data dari dinas kesehatan, selama Januari sampai Maret saja di tahun ini sudah ada tiga kasus HIV pada anak-anak,” ujar Agus. 

Rinciannya, dua orang penderita merupakan anak berusia 0 – 9 tahun. Sedangkan satu lainnya berusia antara 10 – 19 tahun. 

Selanjutnya, selama 2024 lalu, ada satu anak di rentang usia 0 – 9 tahun yang terinfeksi HIV. Adapun anak usia 10 – 19 tahun ada 14 orang.

Pengelola Program Yayasan Redline Indonesia Kota Kediri Kozin menambahkan, tren kasus HIV pada anak usia sekolah mayoritas dipicu oleh aktivitas seksual. Meski ada beberapa yang menderita HIV karena tertular dari ibu saat proses persalinan. 

Selama ini, populasi kunci seperti lelaki seks lelaku (LSL) atau homoseksual, pekerja seks perempuan, hingga transgender menjadi target utama penjangkauan mereka. Dari sana, dia tak menampik adanya tren anak usia sekolah yang mulai terjerumus. 

“Seperti usia SMA. Kalau SMP mungkin yang kelas tiga itu trennya seperti konten-konten di sosial media yang mereka lebih familiarnya disebut boti. Itu sebenarnya mulai banyak muncul,” ujarnya. 

Dengan demikian, menurutnya peran orang tua sangat penting dalam mengawasi pergaulan anak. Salah satunya di sosial media yang kerap kali lepas dari pengawasan. 

Termasuk yang belum lama ini viral, adanya grup homoseksual di Facebook yang tak sedikit anggotanya merupakan anak-anak.  

“Di usia mereka ini seharusnya masih fokus belajar. Tapi ternyata banyak juga anggota yang di grup itu yang masih usia-usia remaja,” terang pria yang kemarin memberi edukasi pencegahan HIV/AIDS kepada puluhan pelajar SMP Negeri 6 Kota Kediri itu. 

Selain tiga anak-anak di Kota Kediri yang terdeteksi positif HIV selama Januari-Maret, masih ada 20 temuan baru lainnya. Mereka merupakan warga Kota Kediri maupun luar kota berusia 20 – 29 tahun.

Terkait upaya penjangkauan dan deteksi HIV pada anak usia sekolah, ada beberapa hal yang menjadi tantangan bagi komunitas. 

Prinsip komunitas dan petugas kesehatan adalah menjangkau sasaran agar mau mengikuti tes. Sehingga, jika positif, akses pengobatan bisa diberikan sedini mungkin. 

“Yang agak riskan di kami ketika petugas lapangan kami tahu bahwa anak ini—yang statusnya kalau di bawah 18 tahun secara hukum masih anak—seksualnya aktif. Perilakunya berisiko,” tandasnya. 

Padahal, prosedur untuk bisa memberikan pendampingan kesehatan berupa tes dan berobat, anak di bawah 18 tahun tetap harus didampingi orang tua atau wali. Sedangkan anak-anak cenderung tidak terbuka dengan orang tua. Apalagi menyangkut aktivitas seksual berisiko. 

“Biasanya kami akhirnya mengambil risiko dengan menjadi walinya. Kami petugas lapangan yang menjadi pengampu. Tetapi ada kekhawatiran juga jangka panjangnya ketika misalnya ada orang tua yang kaget anaknya positif HIV. Itu juga menjadi kekhawatiran kami,” imbuh Khozin. (*)

Editor : Mahfud
#aids #orang tua #hiv #homoseksual