Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Gara-Gara Kelamaan Main Gawai Ribuan Anak Sakit Mata, Begini Gejalanya

Ayu Ismawati • Kamis, 24 Juli 2025 | 14:00 WIB

 

Anak-anak dicek kondisi telinganya untuk mengetahui penumpukan serumen.
Anak-anak dicek kondisi telinganya untuk mengetahui penumpukan serumen.

JP Radar Kediri-Kasus gangguan penglihatan dan pendengaran pada anak mengalami tren kenaikan. Dalam setahun, ribuan pelajar sekolah dasar terdeteksi mengalami gangguan refraksi atau penglihatan kabur dan serumen. 

Data yang dihimpun koran ini, sedikitnya ada 2.272 pelajar SD yang menderita gangguan refraksi. Kondisi mata yang menyebabkan penglihatan kabur.

Jumlah tersebut merupakan data pada 2024 lalu. Ada kemungkinan bertambah tahun ini.

“Kesehatan pendengaran dan penglihatan ini penting. Ketika ini terganggu otomatis akan sulit bagi anak untuk menangkap proses pembelajaran,” ujar Wali Kota Kediri Vinanda Prameswari.

Vinanda ditemui di halaman Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Kediri. Saat menghadiri kegiatan deteksi dini yang diikuti ratusan pelajar SD kemarin (23/7). 

Dalam kegiatan tersebut sedikitnya ada 362 pelajar yang mengikuti. Deteksi dini ini digelar bertepatan dengan Hari Anak Nasional. 

Wali Kota Vinanda mengatakan, deteksi dini sangat penting bagi perkembagan anak. Terlebih karena gangguan di dua indra itu sering telat disadari. 

“Terkadang orang tua nggak tahu anak-anak ada kendala di pendengaran atau penglihatannya. Tahunya mungkin malas belajar. Padahal ketika dicek, anak-anak ini ternyata ada gangguan di pendengaran maupun penglihatannya,” tandasnya. 

Pantauan Jawa Pos Radar Kediri, pemeriksaan dimulai dengan mengukur tinggi badan siswa. Kemudian, petugas akan memeriksa kondisi penglihatan. Lalu dilanjutkan dengan pemeriksaan telinga. 

Kepala Dinkes dr Muhammad Fajri Mubasysyir mengatakan, kegiatan itu idak hanya sebagai upaya identifikasi masalah sedini mungkin saja. Melainkan juga penanganan oleh tenaga dokter profesional bagi siswa yang membutuhkan tindakan lanjut. 

“Kalaupun ditemukan masalah, langsung kami intervensi dengan kami terapi. Kalau nanti perlu terapi lanjutan, kami rujuk ke rumah sakit untuk dilakukan terapi lanjutan,” ujar Fajri. 

Adapun beberapa gangguan kesehatan di indra penglihatan dan pendengaran itu menurutnya tak lepas dari pengaruh gaya hidup. Salah satunya penggunaan gadget atau gawai yang berlebihan. Karenanya, dinkes mendorong agar anak-anak bisa membatasi penggunaan gawai. 

“Ke depan kami akan melakukan skrining untuk siswa baru meliputi total seluruh siswa di Kota Kediri,” tandas Fajri. 

Fajri menegaskan, beberapa gangguan pendengaran pada anak-anak mayoritas dalam bentuk serumen. Orang tua—lanjut Fajri—juga harus memahami cara menjaga kebersihan telinga yang benar. 

“Kalau perlu memang harus ke spesialis THT minimal enam bulan sekali. Karena kalau pakau cotton bud malah terdorong masuk. Dan itu malah risiko menutup pendengarannya,” urainya.

Tak hanya gangguan pendengaran, anak-anak juga rentan mengalami gangguan penglihatan. Fajri mengatakan, kasus paling banyak adalah gangguan refraksi seperti miopi atau rabun jauh. 

Hal itu juga dibenarkan dokter spesialis mata dr Wahyu Endah Prabawati, Sp.M. Menurutnya, kelainan refraksi yang paling banyak diderita anak-anak meliputi rabun jauh atau mata minus dan silinder. 

“Jadi memang anak-anak ini masih masa pertumbuhan. Kebanyakan sekarang karena gadget. Ini berperan penting menyumbang kejadian mata minus pada anak,” tuturnya.

Setiap tahunnya, kasus gangguan refraksi juga naik. Berdasar data World Health Organization (WHO), satu dari empat anak pasti mengalami kelainan refraksi. Hal serupa terjadi di Kota Kediri. Seiring tren penggunaan gawai yang meningkat, kejadian myopia atau mata minus pada anak juga, menurutnya, semakin banyak.  

“Pentingnya kesadaran orang tua dan guru bekerja sama dengan tim kesehatan. Jadi meskipun anak-anak minus, langsung diberikan penanganan dengan pemberian kacamata,” imbuhnya. 

Tren kenaikan kejadian itu juga dia rasakan sendiri. Selama 2024. Sedikitnya ada 188 pasien anak penderita myopia yang dia tangani. 

Mereka merupakan anak-anak dengan rentan usia 5 – 19 tahun. Angka itu naik dari tahun sebelumnya yang berkisar 180. 

“Jadi naik sekitar 9 persen,” jelasnya. (*)

Editor : Mahfud
#pendengaran #sakit mata #gawai