Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Peserta KB di Kabupaten Kediri Mencapai Ratusan Ribu Orang, Model Apa yang Paling Digemari?  

Hilda Nurmala Risani • Minggu, 22 Juni 2025 | 15:16 WIB

 

Para akseptor KB yang hendak memasang alat kontrasepsi di Kabupaten Kediri.
Para akseptor KB yang hendak memasang alat kontrasepsi di Kabupaten Kediri.

JP Radar Kediri - Dinas Pengendalian Penduduk Keluarga Berencana Pemberdayaan Perempuan Dan Perlindungan Anak (DP2KBP3A) Kabupaten Kediri terus menggencarkan program keluarga berencana (KB). Hasilnya peserta KB terus mengalami peningkatan. Hingga kini tercatat sudah ratusan ribu yang mengikutinya.

Kepala DP2KBP3A Kabupaten Kediri Nurwulan Andadari mengatakan, setiap tahun jumlah kepesertaan KB selalu meningkat.

“Pada Mei 2024 lalu ada 161.560 akseptor. Ini meningkat pada Mei 2025 sebesar 177.197 akseptor,” jelas perempuan yang akrab disapa Andadari itu.

Menurutnya, peningkatan ini terjadi karena beberapa faktor. Seperti banyaknya momentum yang diselenggarakan untuk memberikan program KB secara gratis kepada masyarakat.

Lalu, kemudahan fasilitas dalam menerima manfaat. Serta meningkatnya kesadaran masyarakat dalam menekan jumlah anak.

Untuk diketahui, jenis KB yang ditawarkan kepada masyarakat pun beragam. Mulai dari jenis hormonal dan non hormonal hingga jangka pendek dan jangka panjang.

KB hormonal meliputi pil KB, suntik KB, implan, dan cincin vagina. Sedangkan KB non hormonal terdiri dari kondom, IUD (spiral), metode alami, dan sterilisasi baik vasektomi atau disebut metode operasi pria (MOP) maupun tubektomi atau dikenal sebagai metode operasi wanita (MOW).

“Melihat trennya saat ini MOP dan MOW yang sedang banyak digemari di kalangan masyarakat. Dulu mencari 150 akseptor sangat sulit. Berbeda dengan sekarang yang harus selektif dalam memilih,” aku perempuan berambut sebahu itu.

Peningkatan jumlah peminat MOP dan MOW ini dapat dibuktikan dengan selalu terpenuhinya target akseptor. Total sepanjang 2025 ini ada sekitar 600 akseptor.

Akseptor yang memperoleh fasilitas MOP dan MOW itu pun tidak sembarangan. Harus memenuhi beberapa persyaratan yang telah ditentukan.

Seperti harus berusia 35 tahun ke atas, memiliki dua anak yang mana usia anak kedua harus lebih dari lima tahun. Tak hanya itu, penyakit bawaan yang diderita oleh akseptor juga menjadi bahan pertimbangan.

“MOW dan MOP ini memiliki effort lebih besar dibandingkan KB yang lain. Maka harus benar-benar dipastikan ketika berniat untuk melakukannya,” tandasnya.

Berdasarkan informasi yang diperoleh wartawan Jawa Pos Radar Kediri, ada 305 akseptor MOW dan 12 akseptor MOP. Mereka tampak antusias mengikuti program KB untuk jangka panjang ini. Waktu yang dibutuhkan pun tidak lama sekitar 10 sampai 15 menit saja.

Disisi lain, salah satu peserta MOW Rahayu, 40 mengaku senang dengan adanya kegiatan tubektomi atau MOP ini. Itu karena tanpa mengeluarkan biaya dia bisa memanfaatkan fasilitas yang ada.

“Awalnya ragu tetapi setelah berpikir panjang mantap untuk melakukannya. Anak sudah dua dan usia juga mulai menua,” terangnya.

Lebih jauh perempuan yang akrab disapa Ayu itu mengatakan, saat pelaksanaan MOW tidak merasakan apa-apa. Itu karena efek bius. Tetapi setelah tersadar ada pusing dan kram yang dirasakannya.

Terakhir, Kepala DP2KBP3A Kabupaten Kediri Nurwulan Andadari menerangkan bahwa keluarga berencana bukan hanya masalah kontrasepsi tetapi bagaimana semua dalam keluarga itu direncanakan.

“Keluarga harus benar-benar menjadi keluarga berencana. Juga harus meningkatkan ketahanan dalam menghadapi berbagai situasi dan kondisi agar tercipta generasi yang berkualitas,” pungkasnya. (l*)

Editor : Mahfud
#KB #MOP #akseptor KB