Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Waspada! Dinkes Temukan Ratusan Kasus Baru TBC di Kota Kediri, Begini Cara Pencegahannya

Ayu Ismawati • Jumat, 20 Juni 2025 | 03:52 WIB
Ilustrasi penderita TBC.
Ilustrasi penderita TBC.

KEDIRI JP Radar Kediri- Tuberkulosis (TBC) menjadi salah satu isu utama ancaman kesehatan di Indonesia. Tak terkecuali di Kota Kediri.

Tren kasusnya terus mengalami peningkatan tiap tahun. Bahkan, selama empat bulan awal 2025 saja sudah ada 522 temuan kasus baru di Kota Tahu.

Lebih lanjut, selama 2024 lalu ada sekitar 1.800 temuan kasus di Kota Kediri. Temuan tersebut lebih tinggi dibandingkan target temuan kasus dalam setahun itu.

Hal ini mendorong pemerintah dan komunitas mulai menggalakkan upaya menekan penularan. Salah satunya melalui terapi pencegahan tuberkulosis (TBC).

“Harus menemukan kasus sedini mungkin dan kami lakukan contact tracing. Kalau ada yang positif, 8-10 orang di sekitarnya yang sering kontak erat akan diskrining,” ujar Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kota Kediri Hendik Suprianto.

Dia mengatakan, tren temuan kasus TBC tiap tahun rata-rata mengalami peningkatan. Salah satu upaya untuk menekan penularan adalah melalui langkah pencegahan.

Dalam pemeriksaan atau skrining tersebut, terkadang kontak eratnya tidak menunjukkan gejala.

Tetapi bisa jadi kontak erat yang tidak menunjukkan gejala itu tetap terpapar kuman. Menyikapi itu, pihaknya menggencarkan terapi pencegahan tuberkulosis (TPT).

“Karena orang yang kontak erat tapi tidak menunjukkan gejala, tetap disinyalir di dalam tubuhnya ada kuman yang masuk,” urai Hendik.

Sayangnya, masih banyak masyarakat yang enggan mengikuti TPT. Salah satunya karena menganggap dirinya sehat.

“Karena menganggap ‘aku gak loro kok diobati’. Karena mungkin dia nggak paham ke arah situ,” ungkapnya.

Organisasi penanggulangan tuberkulosis Yayasan Bhanu Yasa Sejahtera (YABHYSA) mengungkapkan, tren TBC di Kota Tahu selalu mengalami peningkatan. Salah satunya dipicu dari gejala penularan yang tidak langsung muncul.

“Jadi orang merasa sehat, nggak batuk, tapi ternyata ada kuman di dalam tubuhnya. Dia nggak sadar karena fase laten,” tutur Staf Program Implementing Unit Kota Kota Kediri Sub Recipient YABHYSA Jawa Timur Nurita.

Dengan demikian untuk memutus rantai penularan, menurutnya penting untuk dilakukan pencegahan sedari dini. Dimulai dari kontak terdekat penderita TBC.

Melalui terapi pencegahan, diharapkan rantai penularan bisa ditekan. Termasuk dari kasus fase laten yang gejalanya baru muncul lima tahun akan datang.

“TPT ini mencegah terjadinya TBC dari yang sudah berkontak atau berinteraksi dengan pasien positif TBC,” tandas Nurita.

Editor : Andhika Attar Anindita
#dinkes #pencegahan #TBC #tuberkulosis #waspada #kota kediri