JP Radar Kediri – Telur puyuh sering kali dijadikan lauk favorit, baik di warung pinggir jalan maupun menu masakan rumahan.
Tapi, jangan sampai terlena. Di balik kenikmatannya, mengonsumsi telur puyuh secara berlebihan bisa menimbulkan dampak negatif bagi tubuh.
Telur puyuh dikenal memiliki kandungan gizi yang cukup tinggi. Dalam ukuran kecilnya, tersimpan protein, zat besi, kolin, vitamin B kompleks, hingga antioksidan. Bahkan, banyak yang menganggap telur puyuh lebih bergizi dibandingkan telur ayam.
Namun, perlu dicatat, telur puyuh juga memiliki kandungan kolesterol yang cukup tinggi. Dalam satu butir telur puyuh, terkandung sekitar dua kali lipat kolesterol dibandingkan satu butir telur ayam.
Jika dikonsumsi dalam jumlah banyak secara rutin, risiko kenaikan kadar kolesterol dalam darah pun meningkat.
Efek lainnya bisa berupa gangguan pada sistem pencernaan, seperti mual, perut terasa penuh, atau bahkan sembelit, terutama bila tubuh tidak terbiasa dengan asupan protein tinggi dalam jumlah besar.
Pada beberapa orang, konsumsi telur puyuh juga bisa menimbulkan reaksi alergi, seperti gatal-gatal hingga ruam kulit.
Selain itu, terlalu sering makan telur puyuh tanpa diimbangi dengan pola makan seimbang bisa menyebabkan tubuh kekurangan nutrisi lain. Apalagi jika lauk lain diabaikan, dan hanya mengandalkan telur puyuh sebagai sumber protein utama.
Yang tak kalah penting, kandungan lemak dalam telur puyuh juga bisa berdampak pada kesehatan jantung, terutama bagi mereka yang memiliki faktor risiko seperti hipertensi atau obesitas.
Meskipun tubuh membutuhkan lemak, jumlah yang berlebihan justru memicu gangguan metabolisme.
Kesimpulannya, telur puyuh tetap bisa menjadi bagian dari menu sehat harian. Tapi konsumsinya harus dalam batas wajar.
Alih-alih menambah energi, konsumsi berlebihan justru bisa menjadi bumerang bagi kesehatan. Seimbang itu kunci, agar tubuh tetap fit tanpa mengorbankan kenikmatan rasa.
Penulis: Nabila Syifa'ul Fuada Lii Dzikrilla
Editor : Ilmidza Amalia Nadzira