JP Radar Kediri – Menangis sering kali dianggap sebagai bentuk pelampiasan emosi yang terjadi saat seseorang merasa sedih, stres, atau tertekan.
Namun, belakangan muncul sebuah kabar yang cukup menarik perhatian warganet, yakni keyakinan bahwa menangis pada rentang waktu pukul 19.00 hingga 22.00 malam memiliki efek mengejutkan, yaitu membantu menurunkan berat badan.
Fenomena ini mulai ramai diperbincangkan di media sosial, bahkan tak sedikit yang mengaku sengaja menangis di malam hari demi alasan kesehatan tubuh.
Meski terdengar aneh dan tak lazim, teori ini ternyata memiliki sejumlah penjelasan yang bisa diterima secara logika, meskipun belum sepenuhnya terbukti secara medis.
Secara ilmiah, tubuh manusia memiliki irama sirkadian atau ritme biologis yang mengatur fungsi hormon dan metabolisme selama 24 jam. Pada malam hari, terutama menjelang tidur, tubuh mengalami proses penyesuaian hormon, termasuk hormon stres seperti kortisol.
Menangis karena luapan emosi disebut-sebut bisa membantu menurunkan kadar hormon ini, yang secara tidak langsung berdampak pada proses metabolisme tubuh.
Waktu antara pukul 19.00 hingga 22.00 dianggap sebagai momen ideal karena tubuh mulai memasuki fase istirahat.
Saat seseorang menangis dalam rentang waktu tersebut, tubuh disebut berada dalam kondisi emosional yang intens, sehingga mampu mengeluarkan hormon tertentu yang bisa memengaruhi sistem pembakaran kalori.
Namun, efek ini diyakini hanya bersifat sementara dan tidak signifikan untuk dijadikan metode utama dalam proses penurunan berat badan.
Meski terdengar cukup menarik dan terkesan sebagai "cara alternatif" menurunkan berat badan tanpa olahraga, masyarakat tetap diimbau untuk tidak menjadikan menangis sebagai kebiasaan harian demi alasan diet.
Penurunan berat badan yang sehat tetap bergantung pada pola makan yang seimbang, aktivitas fisik yang rutin, serta pengelolaan stres yang bijak melalui cara-cara yang lebih positif.
Alih-alih menangis setiap malam, lebih baik memilih gaya hidup yang sehat dan konsisten. Karena bagaimanapun juga, tubuh yang sehat berasal dari pikiran yang tenang dan kebiasaan baik yang dilakukan secara terus-menerus, bukan dari air mata yang jatuh karena paksaan.
Penulis: Nabila Syifa'ul Fuada Lii Dzikrilla
Editor : Ilmidza Amalia Nadzira