JP Radar Kediri – Dalam beberapa tahun terakhir, tren minuman kekinian terus berkembang, dan salah satu yang paling mencuri perhatian adalah matcha. Warna hijaunya yang khas, rasa pahit-manis yang unik, dan kesan “sehat” yang melekat membuat matcha dengan cepat naik daun, terutama di kalangan anak muda.
Minuman berbahan bubuk teh hijau dari Jepang ini seakan jadi pilihan utama saat nongkrong di kafe, belajar di co-working space, atau sekadar menyegarkan pikiran di tengah padatnya aktivitas.
Namun di balik popularitasnya yang terus menanjak, tak banyak yang sadar bahwa mengonsumsi matcha secara berlebihan ternyata bisa membawa dampak yang cukup serius bagi kesehatan. Bukan berarti matcha sepenuhnya buruk tidak.
Justru matcha dikenal mengandung antioksidan tinggi, membantu meningkatkan fokus, hingga mendukung metabolisme tubuh. Tapi, saat semua itu dikonsumsi tanpa batas, efek positif pun bisa berbalik menjadi risiko kesehatan yang mengintai diam-diam.
Salah satu efek yang paling sering terjadi namun jarang disadari adalah gangguan pada lambung. Matcha mengandung tanin dan kafein, yang bila dikonsumsi terlalu sering, terutama saat perut kosong, dapat memicu naiknya asam lambung.
Akibatnya, perut terasa perih, mual, hingga membuat aktivitas jadi terganggu. Hal ini sangat riskan bagi mereka yang sudah memiliki riwayat maag atau masalah pencernaan lainnya.
Tak hanya itu, kandungan kafein dalam matcha juga bisa memicu gejala lain yang cukup mengganggu, mulai dari jantung berdebar, sulit tidur di malam hari, hingga rasa cemas berlebihan yang datang tanpa sebab.
Apalagi jika matcha dikonsumsi lebih dari sekali dalam sehari, ditambah dengan kopi atau minuman berkafein lainnya, tubuh pun akan mengalami lonjakan kafein yang berlebihan dan tak sempat diproses dengan optimal.
Efek lain yang tak kalah penting adalah kemungkinan munculnya rasa ketergantungan. Banyak yang merasa tidak bisa berfungsi optimal sebelum meminum segelas matcha. Mood jadi turun, kepala terasa berat, dan tubuh terasa kurang semangat jika belum meneguk minuman hijau kesukaan itu.
Jika sudah begini, konsumsi matcha bukan lagi soal menikmati rasa, melainkan sudah mulai bergeser ke arah pola konsumsi yang tidak sehat.
Selain kandungan dasarnya, yang perlu diwaspadai adalah tambahan bahan lain dalam olahan matcha yang dijual secara luas. Banyak produk matcha kekinian yang justru dipenuhi dengan gula, pemanis buatan, dan susu tinggi lemak.
Kombinasi ini bisa menimbulkan risiko kesehatan seperti kenaikan berat badan yang tidak terkontrol, lonjakan gula darah, hingga berkontribusi terhadap penyakit metabolik seperti diabetes jika dikonsumsi terus-menerus tanpa pengaturan.
Tentu saja, semua ini bukan berarti kita harus langsung berhenti minum matcha. Intinya terletak pada keseimbangan dan kesadaran. Menikmati segelas matcha sebagai penyemangat di pagi hari atau teman santai sore bukanlah masalah.
Namun jika sudah menjadi kebiasaan harian tanpa batas, bahkan hingga dua sampai tiga kali sehari, maka sudah saatnya memberi jeda dan mengatur ulang pola konsumsi.
Karena bagaimanapun juga, sesuatu yang sehat jika dikonsumsi berlebihan tetap bisa membawa dampak buruk. Jadi, bijaklah dalam menikmati apa pun yang sedang tren, termasuk matcha. Cintai tubuhmu dengan lebih sadar, dan jadikan konsumsi matcha sebagai pilihan yang penuh pertimbangan, bukan sekadar ikut-ikutan gaya hidup semata.
Penulis: Nabila Syifa'ul Fuada Lii Dzikrilla
Editor : Ilmidza Amalia Nadzira