Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Menangis di Usia 20-an! Bukan Tanda Lemah, Tapi Cara Tubuh Menyelamatkan Diri

Internship Radar Kediri • Selasa, 20 Mei 2025 | 03:00 WIB
Menangis di Usia 20-an! Bukan Tanda Lemah, Tapi Cara Tubuh Menyelamatkan Diri
Menangis di Usia 20-an! Bukan Tanda Lemah, Tapi Cara Tubuh Menyelamatkan Diri

JP Radar Kediri – Baru menginjak usia kepala dua, tapi rasanya hidup sudah seperti beban berton-ton yang ditumpuk di pundak. Bangun pagi dengan kepala penuh pikiran, tidur malam dengan dada yang masih terasa sesak.

Usia yang katanya masa paling menyenangkan, justru sering terasa seperti fase paling membingungkan. Bingung arah hidup, bingung dengan standar orang lain, bahkan kadang bingung dengan diri sendiri.

Di media sosial, semua orang terlihat sukses, bahagia, produktif. Tapi di dunia nyata, tak jarang kita justru merasa tertinggal, cemas, dan lelah tanpa sebab yang jelas. Seolah tak ada waktu untuk gagal, tak ada ruang untuk istirahat, dan tak boleh terlihat lemah.

Padahal, menurut berbagai referensi dari situs kesehatan mental internasional, justru di usia inilah tekanan emosional paling banyak menumpuk. Dan tubuh, sejatinya punya cara alami untuk menyeimbangkannya: menangis.

Menangis bukan hanya sekadar respons terhadap kesedihan. Lebih dari itu, air mata emosional yang keluar saat kita merasa tertekan, lelah, atau kecewa, memiliki fungsi biologis yang penting.

Ketika seseorang menangis karena tekanan psikologis, tubuh secara otomatis melepaskan hormon seperti oksitosin dan endorfin. Keduanya membantu menenangkan sistem saraf, mengurangi stres, dan membuat tubuh merasa sedikit lebih ringan—meski hanya sementara.

Uniknya, menangis dalam jumlah tertentu justru dianggap sehat dan dianjurkan. Berdasarkan studi-studi psikologis yang dipublikasikan secara global, frekuensi menangis yang wajar dan dianggap menyehatkan adalah sekitar satu hingga empat kali dalam sebulan.

Bukan berarti menangis harus dijadwalkan seperti olahraga, tapi lebih kepada memberi ruang untuk emosi agar bisa mengalir, bukan dipendam terus hingga membusuk dalam diam.

Menangis satu atau dua kali dalam sebulan bukan tanda lemah. Justru itu bisa menjadi sinyal bahwa seseorang sedang memproses emosi dengan jujur. Di usia 20-an, saat kita mulai belajar jadi dewasa, mulai dihadapkan dengan realita hidup, dan perlahan melepaskan kenyamanan masa remaja, tekanan mental bukanlah hal asing.

Maka, jika sesekali menangis karena lelah mengejar target hidup, karena merasa tidak cukup, atau karena merasa sendiri itu sangat manusiawi.

Lebih baik menangis dan melegakan hati, daripada memendam dan tiba-tiba hancur di tengah jalan. Karena jika dibiarkan terlalu lama tanpa pelepasan emosi, stres yang menumpuk bisa berdampak serius pada kondisi mental dan fisik.

Beberapa laman medis internasional bahkan menyebutkan bahwa emosi yang tertekan bisa berujung pada gangguan tidur, penurunan imun tubuh, hingga gejala kecemasan berkepanjangan.

Namun, perlu juga dicatat: jika seseorang merasa ingin menangis hampir setiap hari, merasa hampa terus-menerus, atau mengalami perubahan suasana hati yang ekstrem, bisa jadi itu bukan sekadar tekanan biasa.

Dalam kondisi seperti itu, penting untuk tidak mengabaikan sinyal dari tubuh dan segera mencari bantuan profesional.

Hidup memang tak selalu mudah. Apalagi di usia dua puluhan, yang penuh transisi, pencarian jati diri, dan tekanan dari segala arah.

Tapi justru di masa inilah kita belajar untuk jujur pada diri sendiri. Dan kalau itu harus dimulai dengan air mata, maka biarkan saja mengalir. Karena siapa tahu, dari tangisan itu, kita sedang menyelamatkan diri kita sendiri.

Penulis: Nabila Syifa'ul Fuada Lii Dzikrilla

Editor : Ilmidza Amalia Nadzira
#radar kediri #menangis #mental #kesehatan #kehidupan #20 tahun